Wanita Kesayangan Tuan Daniel

Wanita Kesayangan Tuan Daniel
Tetap Saja Merindukanmu


__ADS_3

Tian hanya bisa terdiam menatap Zeline yang sudah pergi menjauh, dengan emosi Zeline sekarang, Tian pikir akan percuma jika dia menyusul Zeline, sebab Zeline pasti mengabaikannya.


Tian kembali ke ruangannya dimana Radit sudah lebih dulu berada di sana.


"Katakan padaku, apa benar kalian bersama? Aku sudah mengingatkanmu untuk tidak mengganggu Zeline, jangan samakan dia dengan wanita lain," ucap Radit melupakan posisinya sebagai bawahan Tian.


"Aku penasaran padanya bonusnya aku juga menyukainya," jawab Tian jujur.


Radit tak ingin percaya dengan apa yang Tian katakan, tetapi Tian terus bercerita pada Radit, menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


"Berhentilah mengejar Zeline sebelum kau benar-benar jatuh cinta padanya. Dari penilaianku kau bukan lagi sekedar penasaran padanya. Berhentilah bermain api yang hanya akan membakar dirimu sendiri! sudah punya kekasih, dan kita semua tahu siapa pria itu. Zeline tidak mungkin menyukaimu, dia terlihat jelas mencintai kekasihnya, jadi berhentilah mengejarnya. Jika kamu benar-benar ingin memulai suatu hubungan yang serius, maka ubahlah dulu sikapmu," ucap Radit kembali menasehati Tian yang justru menatap sinis padanya.


"Apa yang salah dengan sikapku? Aku bukan penjahat, aku tidak mencabuli gadis dibawah umur. Aku mendekati mereka dan mereka menyambutnya, apa yang salah?" ucap Tian dengan santai.


"Ingatlah karma berlaku, Tian. Kau banyak menyakiti perasaan wanita, maka akan ada saatnya karma itu berbalik padamu, terlebih jika kau menyakiti wanita baik-baik seperti Zeline!" nasihat Radit yang terus saja berusaha menyadarkan Tian akan sikap buruknya yang suka berganti-ganti wanita.


"Sudahlah, kita lihat saja nanti apa yang terjadi. Zeline sendiri yang membuka pintu, tidak salah jika aku masuk saat dia sendiri mengizinkan aku masuk ke dalam hidupnya," ucap Tian memilih pergi.


***


Zeline tiba di rumah sakit dalam keadaan wajah yang terlihat pucat. Darah yang ada di pelipisnya mulai berhenti dan mengering, serta rasa lemas dan sakit yang harusnya sedari tadi ia rasakan baru sekarang ia rasakan.


Zeline yang tiba di rumah sakit terdekat langsung mendapatkan perawatan. Tak butuh waktu lama, luka yang ada di pelipisnya sudah diobati dan di perban, tak ada jahitan, sebab pelipisnya terluka tapi tak terlalu parah. Setelah mendapatkan pengobatan, Zeline memutuskan untuk pulang dan menemui Anna yang kebetulan hari ini berkata tak bekerja.

__ADS_1


Setengah jam kemudian.


"Anna!" teriak Zeline saat melihat Ana tengah berjalan kaki keluar dari minimarket yang ada di komplek tempat tinggal mereka.


Anna yang mendengar seseorang memanggilnya langsung menoleh dan seketika merasa panik saat melihat perban di pelipis kepala Zeline.


"Ze, apa yang terjadi?" tanyanya saat sudah berada di depan Zeline yang baru keluar dari taksi.


"Tidak apa-apa, hanya terbentur meja saat aku terjatuh," jawab Zeline berbohong.


"Aku sudah lama tidak mampir ke rumahmu, boleh aku melihat rumahmu?" tanya Zeline yang mulai merasa pusing, efek kepalanya yang terbentur. Ya, meski bertetangga, tetapi Zeline jarang mengunjungi Anna karena Anna lah yang selalu datang ke rumahnya.


"Tentu saja boleh," jawab Anna tersenyum, sembari menggandeng tangan Zeline melangkah menuju rumahnya.


"Ze, kamu yakin baik-baik saja?" tanyanya cemas.


"Aku baik-baik saja, An. Aku hanya sedikit pusing, mungkin karena aku belum sarapan," jawabnya tertawa pelan.


"Astaga, Ze. Ini sudah jam berapa? Kenapa kamu belum sarapan?" Anna bangkit dari duduknya setelah mendengar ucapan Zeline.


"Tunggu di sini! Aku akan meminta seseorang untuk membelikan makanan untukmu," ucapnya setelah itu mengambil ponselnya untuk memesan makanan.


Lima belas menit kemudian seseorang tiba membawa makanan yang dipesan oleh Anna. Melihat Zeline yang makan begitu lahap, wanita itu tersenyum.

__ADS_1


"Sudah berapa hari tidak makan, Ze!" tanyanya.


"Jangan meledekku, An. Aku benar-benar lapar setelah mengeluarkan tenaga mengh…," Zeline menghentikan ucapan nya yang nyaris saja kelepasan.


"Meng… apa, Ze?" tanya Anna penasaran.


"Tidak apa-apa. Ya ampun, aku lapar sekali." Zeline menjawab setelah itu kembali menghabiskan makanannya.


"Minumlah obat yang diberikan dokter padamu setelah itu, Ze!" perintah Anna melihat kantung berisi obat milik Zeline yang di angguki oleh Zeline


"An, apa aku boleh beristirahat sebentar di sini? Kepalaku masih terasa pusing," tanya Zeline yang tidak ingin sendirian di rumahnya sebab pikirannya saat ini teringat pada Daniel.


"Tentu saja boleh, seperti kataku kebetulan hari ini aku sengaja libur. Minum obatmu, setelah itu istirahatlah."


"Terima kasih sudah mengijinkan aku beristirahat di rumahmu," ucap Zeline.


"Jangan berlebihan, Ze. Kau temanku, rumahku juga rumahmu," ujar Anna.


Setelah makan dan meminum obatnya, Zelinw merebahkan dirinya di sofa yang ada di ruang tamu Anna. Ia ingin membuka ponselnya dan menyalakan data seluler ponselnya, berharap ada panggilan masuk dari Daniel. Namun saat mengingat apa yang sudah terjadi, Zeline hanya bisa diam dengan air mata yang mengalir membasahi wajahnya.


"Aku tetap saja merindukanmu, Niel. Kenap kau begitu jahat padaku? Apa salahku padamu?" gumamnya menatap foto Daniel yang ada di ponselnya.


Zeline mendekap ponselnya lalu mulai memejamkan matanya yang terasa begitu berat reaksi dari obat yang di minumnya.

__ADS_1


__ADS_2