
Daniel masih terus berusaha untuk menghubungi Zeline yang sejak tadi teleponnya tidak juga diangkat oleh wanita itu, entah apa yang sedang terjadi pada Zeline sehingga membuatnya mengabaikan telepon dari Daniel.
Daniel semakin bertambah cemas karena tidak biasanya Zeline bersikap seperti ini meskipun Zeline sedang sibuk sekalipun dengan pekerjaannya, Daniel sangat yakin sekali jika sesuatu hal yang buruk telah terjadi kepada Zeline . Hanya saja Daniel tidak bisa pergi menemui Zeline saat ini, karena ada beberapa yang harus dipertimbangkan olehnya dan akan menghubungi Zeline terlebih dulu barulah setelah itu dia akan memutuskan apakah Daniel akan terbang ke Sumatera atau tetap berada di Jakarta.
Sementara di rumahnya, Zeline masih tetap menangis. Dia masih belum bisa menerima penghianatan yang sudah dilakukan oleh Daniel kepadanya, meskipun Tian sudah memperingatinya untuk melupakan Daniel dan tidak perlu lagi menangisi pria itu. Tapi Zeline masih belum puas mengeluarkan semua kesedihan dan air matanya atas kenangan selama lima tahun perjalanan cintanya dengan Daniel.
Ponsel Zeline terus saja berdering ada panggilan masuk dan ternyata itu adalah telepon dari Daniel, Zeline sengaja mengabaikan telepon tersebut dan tidak ingin mengangkatnya karena Zeline masih merasa marah dan kesal atas pengkhianatan yang sudah dilakukan oleh Daniel kepadanya.
"Dia pria yang sangat jahat sekali, tiga tahun kami bersama seolah tidak ada sedikitpun kenangan di hatinya, Aku kira selama itu dia benar-benar mencintaiku. Tapi ternyata semua hanya tipuan belaka." Gumam Zeline dengan suara serak dan terbata-bata karena dia bicara di tengah-tengah Isak tangisnya.
Tian yang melihat Zeline masih tetap menangis dan juga ponsel wanita itu yang terus saja berdering membuatnya merasa kesal, apalagi menghadapi sikap Zeline yang seolah bimbang akan hubungannya dengan Daniel.
Sudah jelas-jelas Zeline dikhianati secara terang-terangan oleh Daniel bahkan selingkuhannya mendatangi Zeline dan memberikan bukti kartu undangan pernikahan mereka, tapi tetap saja Zeline tidak bisa secepatnya memutuskan mengenai hubungannya dengan Daniel.
"Berhentilah menangis, Zeline . Angkat teleponnya dan akhiri hubungan kalian. Buktikan pada Daniel, jika kau bukanlah wanita bodoh dan juga lemah. Sehingga membiarkan pengkhianatan ini terus saja membodohimu." Dengan kesal Tian meminta kepada Zeline untuk memperjelas mengenai hubungannya dengan pria itu.
Kali ini Zeline mendengarkan masukan dari Tian, jika sebelumnya Zeline selalu bersikap cuek dan juga acuh pada atasannya itu. Tapi saat ini semenjak Tian mengetahui mengenai permasalahan yang sedang dihadapi oleh Zeline tentang penghianatan Daniel padanya, membuat Zeline bisa mendengarkan dan juga mematuhi ucapan Tian.
__ADS_1
Zeline berusaha untuk menenangkan dirinya yang masih terisak, setelah dirasa sudah benar-benar tenang maka dia pun meraih ponsel yang sedari tadi terus saja mengeluarkan suara nada panggilan masuk.
"Halo, Ze. Kamu ke mana saja? Kenapa baru mengangkat telepon dariku? Apa ada sesuatu hal buruk yang terjadi padamu?" Dengan suara panik dan cemas Daniel langsung menodong dengan banyak pertanyaan.
Zeline memejamkan kedua matanya, dia bisa merasakan betapa panik dan cemasnya Daniel karena teleponnya lama sekali diabaikan olehnya. Zeline tahu jika pria itu masih mencintainya begitupun sebaliknya, tapi penghianatan yang sudah dilakukan oleh Daniel sudah menghancurkan seluruh isi hatinya dan juga harapan serta mimpi yang selama ini Zeline tunggu-tunggu.
Zeline tetap berusaha agar dia tidak menangis lagi dan suaranya terdengar serak oleh Daniel, dia harus bersikap tegar dan juga kuat seperti yang dikatakan oleh Tian kalau Zeline harus membuktikan jika dirinya bukanlah wanita yang bodoh dan juga lemah.
Akhirnya yang pertama kali keluar dari mulut Zeline adalah tawanya, ya. Zeline justru tertawa menanggapi kepanikan dan juga kecemasan Daniel karena Zeline mengabaikan telepon dari pria itu.
Mendengar suara Zeline yang tertawa membuat Daniel bertanya-tanya, karena tidak biasanya Zeline menanggapi kepanikan Daniel dengan tertawa seperti itu. Sehingga Daniel penasaran apa gerangan yang membuat kekasihnya bersikap demikian.
Zeline tertawa bukan karena dia bahagia ataupun merasa lucu atas kecemasan dan juga kepanikan dari Daniel, Zeline hanya sedang berusaha untuk menenggelamkan kesedihan dan tidak menangis lagi. Dia harus terdengar bahagia dan baik-baik saja setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh pria itu.
"Aku tidak bisa lagi tetap bersama denganmu, Daniel. Akhiri saja hubungan kita sampai di sini." Setelah mengatakan itu Zeline menutup sambungan teleponnya.
Tian tersenyum puas dan bernafas lega karena Zeline sudah menuruti kata-katanya, ngeselin kembali memejamkan matanya dan berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis karena dia sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Daniel.
__ADS_1
"Kuatlah, Zeline. Kau jangan lemah, jangan lagi mudah percaya pada pria yang sudah jelas-jelas menghianatimu. Berhentilah mengharapkan cinta dari pria seperti itu karena sampai kapanpun kau tidak akan mendapatkan apa yang selama ini kau impikan darinya." Tian kembali bersuara dengan mengingatkan Zeline agar tidak menyesali keputusannya itu.
Zeline mendengarkan baik-baik apa yang baru saja disampaikan oleh Tian, sudah saatnya Zeline bangkit dan tidak lagi terpuruk atas kesedihannya akibat pengkhianatan Daniel.
Mendapatkan jawaban seperti itu sontak saja membuat Daniel panik karena tiba-tiba Zeline memutuskan hubungan mereka, Daniel kelabakan karena dia sama sekali tidak menyangka jika telepon darinya yang diabaikan oleh Zeline akan berakhir dengan keputusan wanita itu yang mengatakan jika dia meminta agar hubungan keduanya yang sudah terjalin selama 5 tahun berakhir sampai di sini.
Daniel masih bingung dengan apa yang terjadi hari ini, sejak tadi dia begitu panik dan mencemaskan Zeline karena tidak segera mengangkat telepon darinya. Bahkan suara tawa Zeline menandakan seolah wanita itu memang sedang tidak baik-baik saja.
"Kau ini sedang kenapa Zeline ? Tadi kau tertawa seolah-olah kepanikan dan kecemasanku ini tidaklah berarti bagimu, sekarang kau justru meminta agar hubungan ini berakhir dan aku tidak tahu di mana letak kesalahanku, sepertinya memang telah terjadi sesuatu hal yang buruk padamu sehingga tiba-tiba kau menyampaikan dan mengatakan mengakhiri hubungan kita." Jika sebelumnya Daniel sudah merasa tenang karena Zeline mengangkat telepon darinya, tapi sekarang Daniel kembali panik karena tiba-tiba Zeline mengakhiri hubungan mereka.
Padahal dua hari lalu saat Daniel berpamitan akan kembali ke Jakarta, dia melihat Zeline baik-baik saja dan nampak sangat bahagia menanti hari pernikahan mereka. Tapi hari ini kejadian buruk menimpa Daniel dan dia sendiri bingung harus berbuat apa sekarang.
***
**Hai kak, bantu ramaikan juga buku ini, ya. Terima kasih.🙏
Penghangat Ranjang Casanova, author: Call me Vani
__ADS_1