Wanita Kesayangan Tuan Daniel

Wanita Kesayangan Tuan Daniel
Aku Muak Dengan Semuanya


__ADS_3

Daniel terbangun dari tidurnya. Setelah beberapa hari belakangan tak pernah dapat tidur dengan nyenyak, akhirnya baru semalam ia merasakan tidur yang begitu nyenyak. Semua itu karena Zeline, karena Daniel menikmati waktunya bersama Zeline.


Daniel memperhatikan kamar dimana tempat ia berada. Aroma tubuh seseorang yang tertinggal di sana yang tercium jelas di penciumannya membuat senyum berbinar bahagia terbit di wajah tampannya yang sangat jarang tersenyum itu.


Daniel menatap pada wanita yang tidur bersamanya.


"Aku sangat sangat mencintaimu, sayang! Dan aku tau kamu juga sama sepertiku," gumamnya tersenyum senang mengingat malam yang sudah mereka lalui bersama.


Daniel perlahan turun dari tempat tidur, mengambil ****** ******** yang tergeletak di lantai lalu memakainya.


Meskipun sedikit pusing akibat sisa mabuk yang ia rasakan semalam, namun ia tetap semangat untuk berdiri dan memperhatikan isi kamar wanitanya tersebut. Daniel dengan lancangnya ia menelusuri isi kamar Zeline, mulai dari lemari pakaian, kamar mandi hingga semua yang ada di kamar tersebut.


Satu hal yang membuat Daniel begitu senang adalah saat melihat di dalam lemari pakaian Daniel ada satu kaos miliknya. Semua itu membuat Daniel semakin yakin jika Zeline juga masih mencintainya.


"Aku tau aku sudah sangat mengecewakanmu, Ze. Aku sadar dengan kelemahanku yang tidak bisa memutuskan dan memberikan kepastian untukmu. Aku sadari semua kebodohanku, tapi aku bisa apa, Ze? Aku ingin menikahimu, tapi bagaimana dengan kedua orang tuaku? Ucapanmu dan ucapan kedua orang tuaku sama-sama membuatku sulit, aku harus bagaumana?" gumam Daniel pelan kembali menatap ke ranjang dimana wanita yang dia cintai masih tidur.


***


Daniel berkutat di dapur, dia mengolah makanan untuk sarapan dengan Zeline. Senyumnya terus saja tersungging, teringat kejadian semalam. Dia nerasa sangat yakin jika mereka akan kembali bersama, setelah wanita itu memutuskan hubungan mereka tempo hari.


"Zeline pasti suka dengan melihat ini," gumam Daniel menaruh makanan kesukaan Zeline di atas meja.

__ADS_1


Tiga tahun keduanya bersama, banyak hal yang sudah dilewati. Dan sempat putus sambung, jadi Daniel pikir jika Zeline hanya butuh waktu karena sebelumnya mereka juga sudah pernah melewati ketegangan seperti ini, karena itu juga Daniel membiarkan Zeline menenangkan diri dulu.


Apa yang terjadi semalam adalah sebuah jawaban jika Zeline sudah tidak lagi marah padanya, dan ingin kembali menjalin hubungan seperti sebelumnya. Itulah yang dipikirkan Daniel.


Di sana, senyum Daniel kembali terbit dengan indahnya. Ia tersenyum senang menatap hasil masakannya. Kecintaannya pada Zeline membuatnya mengetahui semua hal yang di sukai Zeline dan ikut menyukai semua hal yang disukai Zeline. Semua hal yang tidak pernah Daniel lakukan, akan dia lakukan untuk Zeline, hanya satu yang tidak bisa dia berikan, adalah kepastian. Bisa dikatakan ia terobsesi, tapi dia juga sangat mencintai Zeline. Obsesi dan cinta dia miliki keduanya untuk Zeline begitu besar.


Daniel menyiapkan semua itu sembari bersenandung riang. Membayangkan apa yang semalam mereka lakukan membuatnya merasa amat senang. Daniel sudah memutuskan jika dia akan bersikap masa bodoh, masa bodoh dengan semua orang termasuk keluarganya. Dulu ia selalu berusaha menyembunyikan status hubungan mereka karena ancaman orang tuanya, dan ia sudah cukup bersabar akan hal tersebut. Sekarang Daniel tidak akan mau bersabar lagi, ia akan kembali mengejar Zeline dengan caranya sendiri. Meskipun belum bisa memberikan pernikahan pada Zeline, tapi ia akan memberikan status hubungan yang jelas di mata publik agar kekasihnya itu mau kembali bersamanya.


Sarapan yang dimasak oleh Daniel sudah terhidang rapi di meja makan, Daniel hanya tinggal menunggu Zeline keluar dari kamarnya untuk sarapan bersama.


Sedangkan dari dalam kamar, Zeline masih duduk termenung di atas tempat tidur. Dia baru saja membersihkan diri, kejadian semalam tidak juga merubah keputusannya, sebab dia ingin jika hubungannya dengan Daniel berakhir.


Zeline memutuskan untuk keluar kamar, dia harus menyelesaikan semuanya dengan bicara dan mempertegas lagi dihadapan Daniel. Zeline tahu jika pria itu sudah menunggunya di meja makan.


Suasana hening seketika, karena keduanya sama-sama fokus pada makanan yang ada di meja. Daniel senang karena semalam Zeline sudah membantunya untuk menghilangkan panas dalam tubuhnya, Daniel masih ingat bagaimana keduanya melewati malam yang panjang dengan penuh kenikmatan.


Daniel berpikir jika Zeline sudah memaafkan dirinya dan pasti akan kembali bersamanya, tapi Daniel tidak tahu jika semalam hanyalah sebatas salam perpisahan dari Zeline sebelum Zeline pergi jauh, untuk itulah semalam Zeline tidak menolak ketika Nick datang membawa Daniel padanya.


"Kenapa kau kembali, Daniel? Hubungan kita sudah berakhir, kau juga sudah tahu akan hal itu." Zeline menatap dalam mata pria dihadapannya.


"Bagiku, hubungan kita tidak akan pernah berakhir, Ze. Apa yang kita lewati semalam adalah sebuah bukti yang tidak bisa untuk kau lupakan begitu saja." Daniel bersikap biasa seolah dia menunjukkan jika masih kekasihnya Zeline.

__ADS_1


Zeline mendengus kesal, padahal semalam dia bersedia melakukannya hanya untuk terakhir kalinya, sebelum dia menghilang jauh dari kehidupan Daniel. Tapi pria itu malah berpikir lain, tapi Zeline merasa tidak bisa lagi luluh dengan segala rayuan dan sikap manis Daniel. Sudah cukup tiga tahun dirinya bertahan dengan hubungan tanpa status.


"Jangan pernah berharap, dengan aku menghabiskan waktu semalam itu karena aku ingin kembali padamu, kau salah besar jika berpikir demikian. Sebab keputusan yang sudah aku ambil tidak mungkin lagi bisa berubah." Zeline tetap dengan pendiriannya, yaitu mengakhiri semuanya.


"Sudahlah, lebih baik sekarang kita sarapan dulu. Kau pasti lapar, nanti lagi kita bicara." Daniel menyendokan makanan ke atas piring, lalu memberikannya pada Zeline.


Sikap seperti itu yang dulu membuat Zeline merasa dimanjakan dan dihargai sebagai wanita oleh pria yang dicintainya, tapi sekarang Zeline sama sekali tidak tertarik meski Daniel berusaha menunjukkan sikap baik dan perhatian padanya, sebab hati Zeline sudah lelah menghabiskan waktu tiga tahun untuk sebuah ketidakpastian.


Zeline tidak menggubris perhatian Daniel, dia sama sekali tidak tertarik dengan makanan yang ada di hadapannya. Bahkan Zeline kehilangan nafsu makannya, melihat Daniel ada dihadapannya saja membuat Zeline sedih dan ingin secepatnya menghilang dari hadapan pria itu.


"Berhenti bersikap jika semuanya baik-baik saja, Daniel. Aku muak dengan semuanya, jangan pernah berharap jika aku akan luluh dan kembali padamu. Habiskan makanannya saja, karena aku tidak lapar." Zeline berlalu kembali ke kamarnya.


Daniel terdiam melihat kepergian Zeline, sekeras apapun dia berusaha tapi wanita itu seolah tidak melihatnya. Daniel sadar dan sangat tahu apa yang membuat Zeline berubah seperti ini. Tapi Daniel juga tidak bisa berbuat banyak.


Zeline bersiap untuk pergi ke kantor, dia tetap dengan pendiriannya. Tidak akan luluh sebelum Daniel mengatakan akan menikahinya, seperti yang selama tiga tahun dia harapkan dari Daniel. Tapi pria itu sama sekali tidak memperdulikannya, seakan tidak peka akan keinginannya.


"Silahkan kau tetap dengan pendirianmu, Daniel. Sebab aku pun demikian, jangan pernah berharap jika aku bisa luluh seperti sebelumnya. Aku hanya ingin memastikan apakah kau benar-benar ingin memperjuangkan aku atau hanya menghabiskan waktu sia-sia saja." Zeline keluar dari kamarnya setelah selesai bersiap untuk ke kantor.


Sementara Daniel hanya diam terpaku, melihat makanan yang masih utuh. Dia juga tidak menyentuhnya, sebab dia sengaja menyiapkan semuanya untuk sarapan bersama dengan Zeline, tapi wanita itu justru menolak.


Zeline melihat jika Daniel masih duduk di tempatnya semula, pria itu belum juga beranjak padahal Zeline sudah terang-terangan menolak. Dan mengatakan tidak ingin kembali lagi padanya.

__ADS_1


Zeline berjalan ke arah Daniel yang masih diam termenung, Zeline bersikap acuh seolah dia lupa dengan kejadian semalam. Padahal jelas sekali jika Zeline juga menikmatinya, tapi sekarang dia berubah seperti tidak terjadi apa-apa dengan mereka berdua.


"Aku mau berangkat ke kantor, dan aku harap kau sudah pergi dari rumahku, ketika aku pulang nanti." Zeline langsung pergi tanpa menoleh sama sekali pada Daniel.


__ADS_2