
Zeline yang baru saja satu jam tiba di tempat kerjanya, dan tengah sibuk dengan pekerjaannya, mendadak panik saat seseorang mendatanginya dan mengatakan jika manager mereka ingin bertemu dengannya.
Ada apa? Mengapa Manager mereka ingin bertemu dengannya? Apa semuanya berhubungan dengan kejadian kemarin dimana Daniel membuat kehebohan?
Berbagai pertanyaan muncul di benak Zeline yang merasa cemas tersebut. Ia baru saja mendapat pekerjaan yang cocok untuknya, tentu Zeline tidak ingin jika ia dipecat dari pekerjaan yang baru saja ia dapatkan itu.
Semakin jauh kakinya melangkah, semakin besar juga kecemasan yang ia rasakan karena semakin dekat ia akan tiba di ruangan manager mereka.
"Silahkan masuk! Bos sudah menunggu Anda," ucap pria yang meja kerjanya berada tepat di depan ruang yang bertuliskan nama manager tersebut.
"Pak, apa saya melakukan kesalahan?" ucap Zeline coba bertanya pada pria berwajah datar tersebut.
"Saya tidak bisa menjawabnya. Silahkan masuk saja dan tanyakan langsung pada manager!" ujar pria tersebut menunjuk pintu yang tertutup itu dengan tangannya, membuat Zeline hanya bisa menghela nafas dalam.
Tok..tok...tok…
"Masuk!" suara yang terdengar dari dalam sana membuat Zeline semakin merasa gugup. Ia perlahan membuka pintu dan masuk ke dalamnya.
"Permisi Pak, Anda mencari saya?" tanya Zeline terdengar tegas bertanya sembari menatap punggung pria yang tengah membelakanginya.
__ADS_1
"Ya, aku mencarimu!" jawab pria tersebut sembari memutar tubuhnya menghadap Zeline yang begitu terkejut melihatnya.
Zeline terperangah tak percaya menatap sosok yang saat ini ada di depannya, pria itu adalah pria yang tempo hari terus bertabrakan dengannya.
"Kamu terkejut? Tidak perlu tegang seperti ini, kamu harus membiasakan diri karena kita akan sering bertemu," ucap Tian yang tiba-tiba sudah berada di depan Zeline bahkan berdiri sangat dekat dengannya, membuat Zeline sontak saja melangkah mundur menjaga jarak dari Tian.
"Kamu takut padaku? Tenang saja! Aku tidak makan orang, aku hanya suka menikmati orang terutama wanita cantik!" ucap Tian
memberikan senyum terbaiknya yang selalu dapat membuat hati wanita manapun luluh akan senyumannya, namun tidak dengan Zeline yang justru merasa jengah melihatnya.
Sebagai seorang wanita yang tidak terlalu banyak mengenal pria, namun tidak juga terlalu bodoh akan pria, jelas arti ucapan Tian sangat di mengerti oleh Zeline.
'Jadi teman Kak Radit ini seorang buaya. Pantas saja Ana dan Hanum sempat memintaku berhati-hati,' batin Zeline menatap sinis pada Tian.
"Ada perlu apa Anda mencari saya, Pak?" tanya Zeline berusaha bersikap tenang, meskipun ia rasanya ingin sekali menonjok muka Daniel yang masih tersenyum genit menatapnya.
"Tidak ada aku hanya ingin menyapa dan menyambut pegawai baruku. Selamat bergabung di Nolan hotel, Nona Zeline!" Tian dengan santai tersenyum pada Zeline sambil mengulurkan tangannya pada Zeline yang dengan terpaksa membalasnya.
"Terima kasih Pak. saya baru tau jika ada seorang pimpinan yang rela membuang waktunya hanya untuk menyambut setiap pegawai baru," ucapnya sedikit tersenyum mengejek Tian.
__ADS_1
Tian kembali mendekati Zeline yang berusaha untuk tetap berdiri tegak di tempatnya, mengetahui karakter Zeline yang terlihat seperti seorang playboy, tentu saja Zeline tidak ingin terlihat lemah, sebab ia sadar jika ia terlihat lemah hanya akan membuat pria seperti Tian akan semakin meremehkan setiap wanita yang terlihat grogi menghadapi mereka.
"Aku hanya menyambut pegawai yang ingin aku sambut serta menarik menurutku, dan kamu salah satunya," ucap Tian dengan santainya berbisik di telinga Zeline lalu meniup pelan telinga Zeline yang rasanya ingin sekali ia gigit tersebut.
Apa yang dilakukan oleh Tian jelas saja membuat Zeline merasa amat geram. Jika saja Tian bukan atasanya, Zeline jelas akan menghajar Tian.
"Apa masih ada yang ingin Anda bicarakan? Apa acara sambutan ini sudah selesai? Jika sudah, biarkan saya pergi! Saya masih punya banyak sekali pekerjaan, dan saya rasa, seorang manager seperti anda juga mempunyai banyak pekerjaan!" Zeline dengan beraninya menatap Tian yang makin mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Zeline.
"Jika aku memberikan penawaran padamu untuk menjadi asisten pribadiku, apa kamu ingin mencobanya?" tanya Tian membuat Zeline tersenyum sinis dengarnya.
"Terima kasih banyak Pak. Tapi, saya tidak tertarik karena itu bukan bidang saya!" jawab Zeline menolak dan itu justru membuat Tian semakin tertantang untuk mendekatinya.
Tak ada wanita yang menolak pesonanya. Zeline menjadi orang pertama yang membuat rasa penasarannya akan seorang perempuan tertantang.
"Apa masih ada yang ingin Anda bicarakan?" ulang Zeline bertanya saat melihat Tian hanya terdiam.
"Tidak, keluarlah!" jawab Tian mengibaskan tangannya yang dengan cepat tanpa membuang waktu, dituruti oleh Zeline yang melangkah keluar dari sana.
"Menarik," gumam Tian menyeringai menatap pintu yang sudah tertutup saat Zeline sudah keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Dasar buaya kegatalan!" umpat Zeline setelah ia keluar dari ruangan Tian, dan itu jelas terdengar di telinga Radit yang berada di depan ruangan Tian yang menatap tak percaya melihat wajah kesal serta umpatan yang keluar dari bibir Zeline.
"Dia mengumpat Tian. Suatu hal yang langkah, melihat wanita keluar dari ruangannya dalam keadaan kesal!" gumam Radit tertawa pelan menggelengkan kepalanya menatap Zeline yang sudah menghilang dibawa turun oleh lift.