Wanita Kesayangan Tuan Daniel

Wanita Kesayangan Tuan Daniel
Sama-Sama Terluka


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Zeline yang baru saja akan tidur, setelah memadamkan lampu di ruang tengah rumahnya, kembali keluar dari kamar saat suara ketukan pintu terdengar.


"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" gumamnya sembari melangkah untuk membukakan pintu.


Zeline terdiam sejenak saat melihat Nick, sahabat dari mantan kekasihnya berada di sana.


"Pergilah Kak, aku ti...."


"Daniel berdarah! Dia terluka! Tapi tidak mau di obati, aku takut akan infeksi jika di biarkan. Apalagi lukanya cukup dalam," ucap Nick lebih dulu memotong kalimat Zeline yang ia tau sebuah penolakan.


"Kak!" lirih Zeline penuh penekanan mengutarakan rasa enggannya.


"Ze, tanganya berdarah, bahkan kaca masih tertusuk di tanganya. Kamu tega melihatnya terluka?" tanya Nick lagi yang membuat Zeline terdiam. Sebagai wanita yang masih sangat mencintai Daniel, jelas Zeline tidak akan bisa tega melihat pria yang di cintainya itu terluka.


"Baiklah, aku ambil jaket dulu!" seru Zeline yang akan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Setengah jam kemudian. "Masuklah! Daniel tetap ingin tinggal di sini, karena banyak kenangan bersamamu. Rawat dia, karena hanya kamu yang dia punya di sini," ujar Nick mendorong Zeline masuk ke dalam sana lalu menutup pintu, membiarkan Zeline merawat Daniel karena sedari tadi Daniel menolak saat dokter datang untuk mengobatinya.


Zeline terdiam membeku saat ia sudah berada di balik pintu, tapi bukan di luar melainkan di dalam sebuah apartemen yang benar menjadi tempat mereka bersama tiga tahun belakang. Tatapan Zeline langsung tertuju pada banyaknya foto-foto yang berjejer di dinding. Bukan satu ada dua, bahkan lebih dari lima foto dirinya menghiasi di setiap sudut ruangan tengah itu.


Apartemen itu benar-benar persis seperti semula, saat mereka masih bersama. Dan itu membuat Zeline kembali teringat akan kenangan mereka.


Hati Zeline teriris melihat semua itu. Selalu ia sadari jika Daniel benar-benar mencintainya, namun selalu saja cinta itu membuatnya sakit saat Daniel tak juga memberi kepastian untuk cinta mereka.

__ADS_1


Zeline tertunduk bersedih, dan saat itu juga ia melihat bercak darah yang ada di lantai dan itu membuatnya amat panik saat menyadari jika ucapan Nick sebelumnya bukanlah sebuah alasan. Zeline langsung mengikuti jejak darah yang bercecer di lantai tersebut, sampai pada balkon yang ada di kamar di sana.


Perih. Sakit. Bahkan begitu sakit. Hatinya merasa seperti di iris oleh pisau saat melihat sosok yang begitu ia cintai tengah terduduk lemas di lantai balkon, dengan pecahan botol minuman berserakan di sana dan tangan yang terus mengeluarkan darah.


Zeline menangis, ia menangis menghampiri Daniel dengan sangat hati-hati agar pecahan kaca tak menyentuhnya.


Mata yang tertutup, kepala yang bersandar di pintu balkon itu terlihat tengah menangis. Pria itu terlihat begitu lemah, apalagi dengan wajahnya yang terlihat pucat. Jujur saja Zeline sangat tidak mengharapkan akan melihat semua itu.


Zeline berhasil tiba tepat di samping Daniel yang seketika membuka matanya saat wangi tubuh yang amat dikenalnya dari wanita yang amat di cintainya tercium ke indra penciumanya.


Pria itu tersenyum, tersenyum menatap Zeline yang ia anggap hanya ilusi untuknya.


"Kamu tau sayang? Aku begitu mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu" ucap pria itu tersenyum dengan air mata yang masih menetes.


Daniel terus saja tersenyum, wajah itu terlihat semakin pucat dan sesaat kemudian Daniel tak sadarkan diri saat Zeline nyaris membawanya naik ke atas tempat tidur. Zeline langsung berteriak dan teriakannya terdengar oleh Nick yang masih berada di luar sana. Nick langsung masuk ke dalam dan melihat Daniel yang terjatuh di pinggir tempat tidur, ia membantu Zeline mengangkat tubuh Daniel lalu merebahkanya di atas ranjang.


"Dasar bodoh. Lihatlah wajahnya bahkan sudah seperti manusia yang tak punya darah, tapi masih saja tidak mau di obati!" kesal Bercampur khawatir terdengar jelas dari ucapan Nick.


"Aku akan kembali memanggil dokter, sepertinya dokter tadi belum pergi terlalu jauh. Tunggulah!" seru Nick kembali keluar dari sana, tanpa menunggu jawaban Zeline.


Setelah Nick pergi, Zeline membuka lemari pakaian lalu mencari handuk kecil, setelah ketemu, ia membasahinya sebelum akhirnya memutuskan untuk membersih sisa darah yang ada di tangan Daniel, lalu menutupnya sejenak dengan handuk bersih lainnya.


"Kenapa kamu seperti ini, Niel? Kamu semakin membuatku bingung dengan sikapmu," ucap Zeline begitu pelan nyaris tak terdengar. Tanganya terangkat mengusap lembut wajah Daniel, mengusap wajah yang terlihat lebih kurus dan sedang terlihat pucat itu.

__ADS_1


Air matanya kembali menetes. Ia menunduk, lalu mengecup sekilas dahi pria yang berusaha ia lupakan itu, namun semakin ia berusaha maka akan semakin sulit untuk dilupakannya.


Beberapa menit kemudian, Nick kembali masuk ke dalam kamar Daniel, namun kedatangannya tidak sendiri, sebab ia membawa seseorang yang Zeline pikir adalah seorang dokter terlihat dari penampilan serta kotak obat yang di bawanya.


"Silahkan, Dokter!" Zeline berusaha tersenyum ramah pada dokter pria itu.


Setelah memberikan tempat untuk sang dokter, Zeline memilih untuk menjauh dari sana sebab ia merasa tak tega melihat luka yang ada di tangan Daniel.


"Lukanya cukup dalam, lebih baik kita bawa ke rumah sakit!" ucap dokter tersebut, memberikan syarat saat ia melihat luka di telapak tangan Daniel yang cukup parah.


"Obati di sini, dan lakukan yang terbaik!" perintah Nick tegas yang membuat Zeline terheran mendengarnya.


"Kak?" ucapnya menatap Nick yang hanya menanggapi dengan anggukan pelan di kepalanya, isyarat jika ia ingin Zeline setuju dengan perintahnya.


Setelah semua selesai, dan tangan Daniel sudah di rawat dan diobati dengan baik. Sang dokter berpamitan untuk pulang, namun sebelumnya memberikan banyak masukan serta pesan pada Zeline, terkait luka Daniel, dan memberikan resep padanya.


"Berikan resepnya. Aku akan menebusnya! Kamu jaga Daniel!" titah Nick lagi yang langsung berlalu pergi dari sana tak ingin mendengar bantahan Zeline.


Zeline yang tak dapat meninggalkan Daniel sendirian di sana, akhirnya memutuskan untuk menyetujui permintaan Nick, untuk menjaga Daniel. Melihat Daniel yang masih tak sadarkan diri itu, namun ucapan dokter mengatakan tidak ada masalah serius pada Daniel selain efek luka yang cukup dalam dan banyak mengeluarkan darah dari tanganya itu, Zeline memilih untuk meninggalkan Daniel sejenak seraya ia membersihkan pecahan kaca yang masih berserakan di teras balkon.


Senyum bercampur sedihnya kembali hadir saat ia yang telah selesai dengan pekerjaanya itu menatap satu persatu fotonya yang ada di sana.


Buka hanya di ruang tengah, bahkan di dalam kamar, ada sebuah foto Zeline yang tengah tersenyum dengan ukuran yang begitu besar. Membuat hati Zeline merasa dicintai, namun juga merasa tersakiti.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana, Tuhan?" ucap Zeline lagi dan lagi, meneteskan air matanya.


__ADS_2