Wanita Kesayangan Tuan Daniel

Wanita Kesayangan Tuan Daniel
Orang Tua Yang Kejam


__ADS_3

Zeline keluar dari kamarnya setelah satu jam menangis mengurung diri di kamar. Ia yang keluar dari kamar tak melihat lagi keberadaan Daniel di sana, kembali Zeline merasa kehilangan. Rasa cinta yang dimiliki untuk Daniel sangatlah besar, jadi melepas Daniel bukanlah hal yang mudah untuknya. Mengusir Daniel dari hidupnya adalah hal yang ia lakukan seperti bunuh diri, yaitu menyakiti dirinya sendiri. Tapi, Zeline juga sadar semua harus ia lakukan, agar Daniel bisa berpikir keras atas apa yang diinginkannya.


"Bukan pergi seperti ini, Niel. Aku berharap kamu mengatakan kamu siap menikahiku, bukan justru pergi setiap kali aku memintamu pergi. Kenapa kamu begitu lemah, Niel? Kamu begitu lantang mengatakan mencintaiku, tapi kamu juga begitu lemah dalam memperjuangkan cintamu," gumam Zeline kecewa.


Bau wangi makanan yang masih tercium di indera penciuman Zeline membawa langkahnya menuju dapur. Dapat ia lihat di sana sudah tersedia menu makan malam, yang ia tahu disiapkan oleh Daniel sebelumnya.


Zeline duduk di kursi yang tersedia disana menatap masakan Daniel tersebut, lalu melihat buket bunga serta kartu berisi pesan di atasnya.


"Aku tau kekasihku pasti lelah karena bekerja seharian. Makan, lalu istirahat ya sayang! Aku mencintaimu." Isi pesan yang dituliskan diatas kertas tersebut membuat Zeline tersenyum, namun bersamaan juga dengan air matanya yang kembali menetes.


"Aku juga mencintaimu, Niel. Bahkan aku sangat mencintaimu, tapi cinta ini juga begitu menyakitkan untukku," gumam Zeline menjawab pesan Daniel tersebut, dan mulai melahap masakan Daniel yang begitu ia rindukan itu dengan tangis yang menemaninya.


****


Masih di kota yang sama, hanya saja di tempat yang berbeda. Daniel yang sudah kembali menempati apartemen yang dulu menjadi tempat tinggalnya dan Zeline, terduduk lemas di balkon kamarnya menatap langit malam. Daniel mengembalikan tempat itu menjadi persis seperti sedia kala saat mereka bersama dan bahagia.


Harapannya begitu besar untuk bersama Zeline, cintanya begitu besar dan tulus untuk Zeline, tapi kenapa takdir seakan tak ingin menyatukan mereka?


Kenapa takdir harus membuatnya memilih antara nyawa wanita yang telah melahirkannya dengan wanita yang amat dicintainya? Kenapa takdir harus memintanya memilih?


Air mata Daniel menetes, tangannya bergerak membuka ponselnya dan melihat-lihat semua foto-foto Zeline yang memenuhi galeri ponselnya.

__ADS_1


Ada senyum yang terbit setiap kali melihat foto-foto tersebut, namun tetap saja air mata juga menemani senyuman tersebut.


"Aku harus apa, Sayang? Aku harus bagaimana menjelaskan semua ini padamu?" ucap Daniel mengusap lembut foto Zeline yang tengah tersenyum.


Pikiran Daniel melayang pada kejadian beberapa minggu yang lalu di mana orang tuanya memberikan syarat jika Daniel ingin menikahi Zeline.


"Kamu boleh menikahinya. Namun, hanya sebagai istri simpanan, karena istri yang boleh kamu publikasikan ke hadapan publik hanya Rihana. Nikahi Rihana terlebih dahulu setelah itu baru nikahi dia."


Daniel berpikir jika jalan satu-satunya yang ia miliki hanya itu, keraguan mulai menyelimuti Daniel. Ia merasa ingin melakukan seperti apa yang disarankan oleh keluarganya, namun juga merasa takut akan akhirnya jika Zeline mengetahui semuanya.


Daniel benar-benar dibuat frustasi memikirkan semua masalah yang menimpanya. Andai saja ancaman keluarganya hanya sebatas harta, Daniel sanggup dan tidak akan berpikir lama untuk melepas semua yang ia punya untuk keluarganya. Jika saja hanya sebatas restu yang tidak diberikan oleh keluarganya, Daniel bisa saja mengabaikan semua itu dan tetap menikahi Zeline.


Namun semua berbeda. Nyawa dan cintalah yang menjadi pilihan untuk Daniel. Jika dia menikahi Zeline dan mempublikasikan hubungan mereka, maka nyawa kedua orang tuanyalah yang akan melayang, namun jika ia melepaskan Zeline, maka nyawanya lah yang akan pergi dari raganya.


"Aku harus apa, Tuhan?" ucapnya mengangkat kepalanya menatap langit malam.


"Niel, aku sudah menyiapkan semua keperluanmu di sini! mobil sudah ada di parkiran, kuncinya di atas meja. Untuk ART mereka akan datang pagi hari dan pulang setelah selesai dengan pekerjaan mereka, tapi untuk supir akan stanby karena aku memberikan tempat tinggal tak jauh dari sini," ujar Nick yang tiba-tiba sudah berada di samping Daniel. Nick tengah mencoba mengalihkan Daniel dari kesedihannya, mengajak Daniel membahas hal lainnya meskipun ia tahu betul apa yang tengah dipikirkan oleh Daniel, sahabatnya itu.


"Nick. Aku harus bagaimana?" tanya Daniel tetap saja membahas hal yang sama pada Nick.


"Aku butuh minum," ucap Daniel lagi melangkah masuk ke dalam lalu mengambil beberapa botol minuman yang memang sudah tersedia disana atas permintaanya sebelumnya pada Nick.

__ADS_1


Nick menatap iba pada sahabatnya itu. Ia sangat mengerti betapa besar cinta yang Daniel miliki untuk Zeline dan juga mengerti betapa Daniel menyayangi kedua orang tuanya meskipun yang terlihat ia sering berdebat dengan kedua orang tuanya menyangkut Zeline.


"Temani aku, aku butuh teman untuk bicara. Aku bisa gila jika terus seperti ini," ucap Daniel duduk di lantai balkon kamarnya, membuat Nick mau tidak mau mengikutinya.


Nick hanya bisa terdiam. Karena ia pun jika dihadapkan pada posisi Daniel, pasti akan merasakan hal yang sama. Dia hanya bisa menjadi pendengar dan teman minum untuk Daniel, karena untuk memberikan saran atau sebuah pilihan, Nick tentu tidak bisa.


"Kamu tau, Nick? Pria itu mengizinkan aku menikahi Zeline, tapi dengan syarat yang sangat tidak masuk akal," ujar Daniel terus saja meneguk minumannya.


"Mereka mengizinkan? Apa syaratnya?" tanya Nick penasaran.


"Aku boleh menikahi Zeline. Tapi bukan pernikahan yang resmi, aku hanya boleh menjadikannya istri kedua dan istri simpanan," ungkap Daniel, sambil menyeka air matanya yang menerobos keluar.


"Istri kedua? Maksudmu?" tanya Nick semakin bingung.


"Rihana tetap harus aku nikahi jika ingin menikahi Zeline. Menikahi Rihana secara resmi dan mempublikasikan semuanya, tapi menjadikan Zeline-ku sebagai istri simpanan. Kenapa mereka begitu kejam, Nick? Bagaimana bisa aku melakukan semua itu?" tanya Daniel terdengar amat memilukan.


Daniel yang mendengar semua itu begitu syok. Ia benar-benar tak menyangka jika Ami dan Eric Sanders akan sekejam itu pada putranya sendiri. Kenapa ada orang tua seperti mereka? Pikir Nick benar-benar tak percaya.


"Aku ingin menjadikan wanitaku menjadi wanita paling bahagia yang ada di dunia ini. Tapi, kenapa aku hanya bisa memberikannya luka? Aku tak sanggup melepaskannya, namun aku juga tak mampu memberikan apa yang diinginkannya? Aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana, Nick?" tanya Daniel menatap penuh harap pada Nick, berharap Nick mempunyai jawaban atas pertanyaanya.


"Niel, tenanglah. Jangan seperti ini!" ujar Nick saat melihat Daniel melampiaskan kesedihannya pada botol minuman yang dipecahkan olehnya lalu meremasnya, membiarkan tangannya terluka.

__ADS_1


Nick jelas menjadi panik saat melihat darah yang mulai berceceran di lantai karena ulah Daniel, namun tak terlihat wajah kesakitan sama sekali dari Daniel. Hatinya yang sakit menutupi semua rasa sakit yang ada pada fisiknya, dan itu membuat Nick semakin panik saat rasa sakit tak lagi dirasakan di fisik tak lagi dirasakan oleh Daniel.


"Zeline hanya akan kembali padaku jika aku menikahinya. Apa aku harus melakukan seperti yang dikatakan oleh Eric Sanders?" tanya Daniel lagi tertawa sendiri, mengabaikan Nick yang terlihat sibuk menghubungi tenaga medis untuk datang ke sana.


__ADS_2