
Alice terkejut saat melihat ruang keluarga yang tampak sepi, seketika itu ia menjadi panik karena Rasya tidak ada di sana.
"Alin, dimana Rasya?", tanya Alice panik.
"Aku tadi liat dia lagi nonton tv sama ibu. kakak yang tenang dulu, coba liat ke kamarnya!". Alindya menuntun Alice menuju kamar Rasya yang tak jauh dari ruang keluarga.
Sesampainya di depan kamar, Alice segera membuka pintu. Dilihatnya Rasya tengah terlelap dalam dekapan bu Arumi membuat Alice bisa bernapas lega.
Bu Arumi yang mengetahui keberadaan Alindya dan Alice memberikan kode agar mereka berdua tidak membuat keributan yang dapat membangunkan Rasya kembali.
****
Dalam beberapa hari terakhir ini, Ravendra begitu bekerja keras untuk memajukan perusahaan. Selama tiga tahun, memang kinerjanya selalu memuaskan dan membuat pak Arif yang tadinya meremehkan nya, kini malah membanggakan nya.
Walau tidak begitu ia perlihatkan kepada Ravendra karena tidak ingin anaknya itu berbangga diri sebab telah berhasil membuat ayahnya mengakui kehebatan nya.
Kini Ravendra telah sampai di kediaman nya, tanpa basa-basi ia segera pergi ke kamarnya untuk kemudian menanggalkan semua pakaian yang menempel di tubuhnya sebelum memasuki bathtub yang telah ia isikan air hangat untuk merendam tubuh lelahnya.
"Rasanya nyaman sekali berada di sini, seolah masalah hilang seketika!". Ravendra memejamkan matanya saat seluruh tubuhnya terendam air hangat.
Ravendra tampak begitu nyaman berendam, seolah ia telah melupakan Amara yang tengah marah kepadanya. Amara marah hanya gara-gara kartu limited yang di berikan Ravendra telah di blokir pak Arif tanpa sepengetahuan Ravendra karena ia tahu jika Amara pasti akan menguras uang yang di miliki anaknya itu.
Pak Arif masih terus memantau anaknya yang tidak bisa tegas terhadap kekasihnya, Ravendra merasa tidak masalah jika Amara terus meminta padahal ia kekasih yang tidak setia.
Kini Amara telah sampai di apartemen Kaivan, ia datang seorang diri menaiki taksi berharap tidak ketahuan jika ia tengah menemui selingkuhannya.
Dengan menutupi wajahnya menggunakan topi dan masker, ia berharap tidak ada yang mengenalinya.
Saat ini Amara telah sampai di depan unit apartemen milik Kaivan. Mendengar bel berbunyi, Kaivan segera membuka pintu dan mempersilahkan Amara untuk masuk.
"Hah, mendebarkan sekali perjalanan menuju ke sini!". Amara melepaskan topi dan masker yang di kenakan nya.
__ADS_1
"Minumlah dulu!". Kaivan menyodorkan segelas air putih kepada Amara.
Amara menerima air pemberian Kaivan dan langsung meminumnya sampai habis.
"Jadi, apa informasi yang kamu dapat dari Ravendra?". Kaivan menarik sebuah kursi dan duduk di depan Amara.
Amara menceritakan semua informasi yang ia dapatkan mengenai perusahaan Ravendra yang tengah menyusun rencana untuk bekerja sama dengan perusahan Heksa Gemilang.
"Hmm.. menarik juga informasi yang kamu dapat, terima kasih ya!". Kaivan memberikan kecupan di kening Amara.
"Baiklah, kalo begitu aku pulang dulu. urusan hutang sudah selesai, ya! aku sudah tidak memiliki hutang lagi kepada mu". Amara bangkit dari duduknya dan memakai kembali penutup wajahnya.
Amara meninggalkan apartemen Kaivan, ia kembali menuju apartemennya menaiki taksi. Walau dengan wajah tertutup, tetapi tetap saja ia masih terlihat oleh orang-orang yang terus mengikuti pergerakannya.
"Setelah dari apartemen Kaivan, dia kembali ke apartemennya dan tidak keluar lagi". Salah satu pengintai melaporkan keadaan terkini kepada bos nya.
"oke, kalian boleh beristirahat sekarang!", perintah sang bos dari balik sambungan telepon.
Ravendra mencoba bangkit dari tempat tidurnya dengan menyingkirkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya secara perlahan.
"Kenapa tubuh saya terasa berat sekali". Ia memaksakan diri untuk bangun.
Beberapa saat ia berhasil berdiri tegak, tetapi karena ia terlalu lemah tubuhnya pun terjatuh ke lantai dan membuatnya tak sadarkan diri.
Pak Arif dan bu Felicia belum menyadari jika Ravendra tengah dalam kondisi membutuhkan pertolongan, mereka mengira Ravendra sedang melakukan ritual mandinya yang membutuhkan waktu lama.
Sepuluh menit berlalu, firasat bu Felicia sangat tidak enak saat menunggu kedatangan Ravendra untuk sarapan, karena firasatnya semakin tidak enak bu Felicia meninggalkan sarapannya dan bergegas menuju kamar Ravendra.
Berulang kali bu Felicia mengetuk pintu kamar Ravendra tetapi ia sama sekali tidak mendapat jawaban, pintu kamar yang terkunci membuat bu Felicia semakin panik, ia memanggil salah satu asisten rumah tangga untuk mengambil kunci cadangan.
Tampak kegelisahan pada wajah bu Felicia kala menunggu kunci cadangan datang, perasaannya semakin lama semakin tidak nyaman.
__ADS_1
"ini kuncinya nyonya!", seru asisten rumah tangga yang membawakan kunci.
"cepat bukakan pintunya!", pinta bu Felicia.
Saat pintu berhasil terbuka, bu Felicia segera memasuki kamar Ravendra dan mencari keberadaan anak semata wayangnya itu. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Ravendra yang cukup luas tetapi ia tidak menemukan keberadaan anaknya itu.
Tiba-tiba pandangan bu Felicia teralihkan pada tempat tidur yang tampak berantakan, ia segera menghampiri tempat tidur Ravendra.
Betapa terkejutnya ketika melihat Ravendra yang terbaring di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri.
Seketika itu tubuh bu Felicia terasa lemas melihat anak semata wayangnya tergeletak di lantai, ia menjatuhkan dirinya di samping tubuh Ravendra berusaha untuk membangunkan Ravendra dengan menggoyangkan tubuh yang terasa berat baginya.
"Ravendra, bangun sayang!". Isak tangis bu Felicia yang diikuti dengan kedua tangannya yang memegangi wajah sang anak.
Mendengar kegaduhan yang berasal dari kamar Ravendra membuat pak Arif yang tengah menyantap sarapannya bergegas menuju lantai atas untuk melihat apa yang terjadi.
Sesampainya di kamar Ravendra, pak Arif terkejut melihat bu Felicia yang tengah menangis dengan memangku kepala Ravendra. Pak Arif yang tampak panik menghampiri bu Felicia dan menyuruh beberapa asisten rumah memindahkan tubuh Ravendra ke atas tempat tidur.
"cepat panggilkan dokter!", pinta pak Arif kepada asisten rumah tangganya.
Tak lama kemudian dokter pun tiba dan segera memeriksa keadaan Ravendra. "sepertinya tuan muda hanya kelelahan saja, dia membutuhkan banyak istirahat!", jelas dokter Roby.
"Mengingat riwayat penyakit yang di deritanya, memang seharusnya dia banyak beristirahat dan jangan sampai ia merasa stres yang berkepanjangan". Dokter Roby membereskan peralatannya.
"Baik, terima kasih dokter!". Pak Arif menjabat tangan dokter Roby dan mengantarnya keluar dan bersiap untuk ke kantor.
Bu Felicia duduk di samping Ravendra dan terus membelai lembut rambut Ravendra yang tengah tertidur setelah di pasangi selang infus.
"kamu pasti sangat lelah dengan pekerjaan dan juga gadis yang hanya menginginkan uangmu itu!", ucap bu Felicia.
Setelah memastikan anaknya tidur dengan nyaman, bu Felicia pergi meninggalkan kamar Ravendra untuk menemui sang suami yang akan berangkat ke kantor menggantikan pekerjaan Ravendra.
__ADS_1
Pak Arif memang sudah jarang sekali pergi ke kantor karena semuanya sudah di tangani oleh Ravendra, ia hanya memantau dari rumah dan menanti laporan pekerjaan dari Ravendra. Hari ini di karenakan Ravendra yang tengah sakit, pak Arif harus pergi ke kantor untuk menangani jalannya perusahaan.