
Waktu berlalu terasa begitu cepat karena mereka begitu menikmati hari-harinya selama masih hidup di dunia ini.
Malam hari setelah pekerjaan kantor ia selesaikan, Ravendra yang saat ini sudah berada di rumahnya meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk berlibur.
Karena Ravendra tidak memberitahu jika ia akan menyamar menjadi pria biasa untuk mendapatkan seorang gadis yang tulus mencintainya, makanya ia berkata ingin libur dari tugasnya di kantor.
Bagaimana mungkin Ravendra akan memberitahukan rencananya kepada sang ayah, jika ia mengatakannya itu artinya sama saja ia menyerah pada keinginan pak Arif yang akan menjodohkan Ravendra dengan putri sahabat pak Arif.
"Mah, Pah. saya mau pergi berlibur!". Ravendra duduk di depan bu Felicia dan pak Arif yang tengah bersantai di ruang keluarga.
Tanpa berpikir panjang, kedua orang tua Ravendra memberi izin anaknya untuk pergi berlibur. Padahal mereka sudah tahu jika Ravendra akan melakukan penyamaran agar mendapatkan gadis yang mau menerima dirinya apa adanya.
"Pergi berlibur, dia bilang!". Bu Felicia tersenyum ke arah pak Arif yang tengah menikmati secangkir teh.
Tak lama setelah itu Ravendra berpamitan kepada mereka untuk menemui Roy di apartemennya.
Roy mengundang Ravendra untuk datang ke apartemennya agar ia bisa merubah penampilan Ravendra menjadi tampak benar-benar meyakinkan seperti orang biasa.
Di tengah perjalanan, Ravendra melihat mobil Amara berhenti tepat di samping mobilnya saat dalam lampu merah yang sama.
Terlihat jelas dari atap mobil yang sengaja di buka mereka tengah bersenda gurau, Amara tampak begitu bahagia saat bersama Kaivan.
"Memang kalian pasangan yang serasi sejak masa sekolah!". Ravendra menggenggam erat kemudinya.
Teringat jelas dalam benaknya ketika Amara yang tanpa henti mengejar-ngejar cintanya, bahkan Amara rela menunggunya pulang dari Amerika selama tiga tahun.
Amara tampak baik dan begitu perhatian kepadanya yang membuat dirinya mengira jika Amara benar-benar tulus, tetapi ternyata ada maksud dari semua itu.
Amara ingin mempermudah langkahnya untuk menggapai karir menjadi model terkenal lewat bantuan Ravendra dan hidup bermewah-mewahan dengan uang Ravendra.
Beruntung Ravendra segera mengetahui perselingkuhannya dengan Kaivan yang tidak lain adalah musuhnya dan juga mantan kekasih Amara.
__ADS_1
"Ah sudahlah, lagipula saya tidak mengalami kerugian yang terlalu banyak!". Ravendra tersenyum kemudian kembali melajukan mobilnya.
Dalam hati Ravendra tentu saja ada rasa sakit saat dirinya mengetahui bahwa kekasih yang di harapkan mampu menjadi pendamping hidupnya dan membebaskan dirinya dari perjodohan, nyatanya Amara lebih memilih untuk bersama mantan kekasih yang dulu di tinggalkan nya demi mengejar cinta Ravendra.
Namun Ravendra berusaha untuk menyembuhkan luka hatinya sendiri, seakan ia sudah terlatih menghadapi masa dimana orang yang begitu ia sayangi pergi meninggalkan dirinya.
Ravendra mencoba tetap tenang layaknya seorang pria tangguh.
Sementara di apartemen Roy, tampak Roy beberapa kali melihat jam yang terpasang di tangannya. Ia telah membawa penata rias ke apartemennya untuk merubah penampilan Ravendra agar tampak meyakinkan saat menjadi pemuda yang tengah mencari pekerjaan.
Tak lama kemudian bel apartemen pun berbunyi, Roy segera membukakan pintu.
"Akhirnya dateng juga. ayo masuk!". Roy membukakan pintu untuk Ravendra.
Ravendra melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Roy, tetapi ia terkejut ketika melihat penata rias tengah berdiri menyambutnya.
"Lho.. ada apa ini, kenapa ada mereka segala?". Ravendra menatap Roy yang berjalan di belakangnya.
Ravendra yang tidak tahan karena belum membersihkan segala sesuatu yang berada di dekatnya memaksa untuk berdiri, tetapi terus di dorong oleh Roy agar kembali duduk.
"Roy, saya mau di apakan ini?". Ravendra menatap bayangan dirinya di cermin dan para penata rias yang sudah siap dengan peralatan mereka. "
udah tenang aja, lo mau kita make over biar keliatan natural!", seru Roy.
Para penata rias pun memulai tugasnya, di mulai dari mengubah gaya rambut Ravendra. Tetapi berulang kali mereka memberikan perubahan, Ravendra masih tetap terlihat tampan dan membuat Roy merasa putus asa.
"emang susah ya kalo orang udah ganteng dari lahir!", seru Roy mulai lelah.
Roy di buat bingung oleh pemuda blasteran Belanda itu, Ravendra memang terlalu tampan dan sulit untuk membuat penyamaran untuk nya.
Di tengah keputusasaan Roy, tiba-tiba muncul sebuah ide dalam pikiran Roy untuk memasangkan rambut palsu dan menambahkan kacamata yang menambah kesan culun pada Ravendra.
__ADS_1
"Tunggu dulu, saya tidak mau pakai rambut palsu. pasti itu tidak steril, pokoknya saya tidak mau!". Ravendra menghindari rambut palsu yang mendekati kepalanya.
Ravendra menatap wajah Roy yang mulai marah. "Okeh, saya pakai kacamatanya saja!". Ravendra mengenakan sebuah kacamata yang tergeletak di depan nya.
Roy sedikit bisa tersenyum, kemudian ia mengambil sisir dan menyisir rambut Ravendra ke arah depan membentuk sebuah poni. "Hahaha.. ini baru bagus, tapi masih sedikit imut sih!". Roy tertawa geli melihat penampilan Ravendra.
"Berhenti tertawa, Roy!". Ravendra menatap sinis ke arah Roy.
Para penata rias pun tampak sedikit menahan tawanya ketika melihat penampilan Ravendra. Merasa wibawanya menjadi turun karena di tertawakan orang lain, Ravendra pun menyuruh mereka untuk pergi.
Pada saat bersamaan, Alindya baru sampai di rumahnya. Ia melihat keponakannya tengah duduk sendirian di depan televisi, bocah berusia lima tahun itu tampak asyik menikmati camilannya sambil menatap layar televisi.
"Hey anak kecil, kenapa belum tidur?". Alindya duduk di sebelah Rasya dan ikut memakan camilan milik keponakannya itu.
"Ih tante, ini punya aku tau!". Dengan wajah kesalnya Rasya menarik wadah camilannya menjauh dari Alindya.
Gemas melihat wajah kesal sang keponakan, Alindya pun mengacak rambut Rasya sambil tertawa. "Haha.. iya deh, punya Rasya".
"eh kemana mama kamu?", tambah Alindya.
"mama belum pulang, masih di kantor", seru Rasya dengan wajah polosnya.
"tumben banget ke kantor!", gumam Alindya.
Alice memiliki perusahaan yang ia bangun atas bantuan pak Bagaskara, tetapi ia tidak ingin terlihat sebagai pemilik perusahaan, ia menyuruh orang kepercayaannya untuk mengelolanya yang di berikan arahan dan di pantau dari rumah oleh Alice.
Alice sesekali pergi ke kantor untuk melihat keadaan kantor seperti saat ini dimana terjadi kekacauan yang di lakukan oleh perusahaan yang baru saja menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaannya.
Di kantornya, Alice telihat kesal menatap ke aah layar laptop di hadapan nya, sesekali ia menggelengkan kepala dan memijat keningnya melihat kekacauan yang telah di buat perusahaan yang bernama Pratama Group.
"Ayah kenapa sih, nyuruh-nyuruh kerja sama dengan perusahaan yang CEO nya anak kecil seperti ini! Padahal aku sudah bersiap untuk bekerja sama dengan Wardhana Group yang sudah keliatan jelas hebatnya perusahaan itu, di tambah lagi dengan CEO nya yang sering seliweran di majalah". Alice menahan kepalanya dengan sebelah tangan dan terus menggerutu di depan layar laptopnya.
__ADS_1