When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 27: Pekerjaan Tambahan


__ADS_3

"Bagaimana kabar Ravendra?"


Pak Arif yang tengah berjalan menuju ruang meeting tiba-tiba menanyakan keadaan anak semata wayangnya itu kepada Roy, karena mendengar kabar beberapa hari yang lalu saat trauma masa lalunya kembali ia rasakan.


"dia baik-baik saja, pak! dia juga sudah bekerja kembali di kafe," ucap Roy.


"bagus kalau begitu. pantau terus dia! jangan sampai rencana kita gagal," seru pak Arif.


Mereka pun memasuki sebuah ruangan untuk melakukan meeting bersama para karyawan lainnya. Selama Ravendra melakukan penyamarannya, urusan kantor kembali di kendalikan oleh pak Arif dan membuat berita seolah-olah Ravendra tengah berada di luar negeri untuk urusan bisnis.


Sementara di tempat berbeda, tampak seorang pria tengah duduk melamun di depan meja kerjanya. Kaivan tak hentinya memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu saat berada di kafe Alindya, ia terus memikirkan tentang seorang karyawan kafe yang mengobrol dengan Alindya dan berani-beraninya mengganggu waktunya bersama Alindya.


"Siapa sebenarnya pria itu? perjanjian apa yang telah mereka buat?." Kaivan mengetuk-ngetuk meja menggunakan jari-jarinya secara bergantian.


Kaivan terus memikirkan kejadian itu, walaupun ia sudah berjanji kepada Anara untuk memutuskan hubungannya dengan Alindya, tetapi dalam hati kecilnya ia masih belum rela kehilangan Alindya.


Tak lama kemudian seorang bgadis datang mengacaukan lamunannya, Amara masuk ke dalam ruangan Kaivan dan melingkarkan tangannya di leher Kaivan yang tengah duduk di kursi kerjanya.


"hai sayang! kau tengah memikirkan aku ya?" bisik Amara tepat di telinga Kaivan membuat sang pemilik dengan cepat memutar kursinya hingga membuat Amara terjatuh ke pangkuannya.


"Ah, kau jangan macam-macam! ini di kantor lho." Amara membetulkan mini dress nya yang begitu ketat.


Kaivan tersenyum memainkan dagu sang kekasih yang tubuh rampingnya tengah berada di atas pangkuannya.


"apa kau tahu kemana perginya Ravendra? aku curiga jika dia mengalami depresi setelah putus darimu, sehingga dia menghilang dari kota ini," ucap Kaivan secara tiba-tiba.


"Mana mungkin kau tidak mendengarnya? semua orang tahu dia pergi ke luar negeri melakukan perjalanan bisnis!" Amara memperlihatkan sebuah artikel dari ponselnya kepada Kaivan.


"oh, aku kira dia pergi menyembuhkan luka hatinya!" ucap Kaivan sinis.

__ADS_1


Matahari tengah berada tepat di atas kepala, waktu makan siang pun telah tiba. Seperti biasa Alindya membelikan makan siang untuk Radit dan seperti biasa pula Radit memberikan makan siangnya kepada karyawan yang tampak tidak bisa membeli makan siang.


"Nih makan siang untuk mu!" Radit memberikan kantong berisi makanan kepada salah seorang karyawan.


"kamu tidak makan?" tanya karyawan tersebut.


"saya membawa makanan sendiri," jawab Radit tersebut.


Setiap hari Radit melakukan hal itu, ia tidak memakan makanan dari Alindya karena Radit hanya ingin melihat kesungguhan Alindya menepati janjinya. Radit memilih untuk membawa makanan yang ia buat sendiri dari rumahnya, karena ia tidak bisa memakan makanan sembarangan.


Lisa yang selalu memantau gerak-gerik Radit semenjak terlihat olehnya saat tersenyum setelah berbicara dengan Alindya, Lisa merasa jika Radit menyukai Alindya.


"kenapa kau memberikan makanan yang Alindya belikan untuk mu kepada orang lain? bukankah itu sebagian dari perjanjian kalian berdua?" tanya Lisa pada saat Radit hendak membuka kotak makan siangnya.


Radit tampak santai menanggapi pertanyaan dari Lisa, ia meletakkan kembali kotak makan siangnya. "Ya itu memang sebagian dari perjanjian kita, tetapi saya hanya memberikannya kegiatan lain. daripada harus duduk sendirian memikirkan kekasihnya yang tidak mempedulikannya."


Tanpa mereka sadari, ternyata Alindya sedari tadi mendengarkan obrolan mereka dari balik pintu dapur. Alindya yang terkejut saat melihat salah satu karyawannya tengah memakan makanan yang ia berikan kepada Radit, niat hati ingin memarahi Radit karena telah mengerjainya tetapi langkah Alindya tertahan ketika melihat Lisa tengah berbicaa dengan Radit.


Pada akhirnya Alindya mengurungkan niatnya untuk memarahi Radit yang sudah bekerja keras membuat kafenya menjadi semakin ramai dan juga membuat Alindya tidak terus melamun memikirkan Kaivan yang belum tentu memikirkannya juga.


"terima kasih udah ngasih gue kerjaan, dan gue juga punya kerjaan buat lo!" ucap Alindya tersenyum sinis.


Tetapi Alindya tidak mau berterima kasih secara langsung kepada Radit karena ia merasa telah di permainkan oleh Radit. Alindya mempunyai rencana lain untuk kembali mengerjai Radit dan membuatnya merasa tidak nyaman bekerja di kafe.


Setelah jam makan siang selesai, Alindya menyuruh salah satu karyawannya untuk keluar kafe membeli sesuatu dan ia meminta tolong kepada Radit yang tugasnya sudah selesai untuk mencuci piring dan membersihkan toilet.


"apa? itu namanya menyalahi perjanjian yang sudah kita buat sebelumnya!" protes Radit setelah mendengar permintaan Alindya.


"karyawan gue lagi pada sibuk, tolong lo gantiin sebentar karyawan gue yang lagi keluar!" pinta Alindya dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


"lo kan anaknya suka bersih-bersih tuh, pasti hasilnya nanti bakalan bersih semua. tolong ya!" tambah Alindya.


Tanpa mendengar jawaban dari Radit, Alindya berjalan keluar meninggalkannya bersama tumpukan piring kotor.


"Astaga, kenapa tempat ini begitu kotor! hebat juga karyawan di bagian ini, bisa merasa betah di tempat yang seperti ini!" Radit mengeluarkan sarung tangan yang menutupi bagian tangan hingga sikutnya.


Di pakainya sarung tangan serta tak lupa ia juga mengenakan masker yang menutupi hidung serta mulutnya. Tanpa ragu Radit memulai mencuci piring-piring yang berserakan di atas meja, ia tidak menyadari jika Alindya ternyata tengah memperhatikannya di dekat pintu.


Melihat gerakan Radit yang begitu cepat membersihkan piring kotor membuat Alindya merasa takjub, "gila! cepet banget, emang hobinya bersih-bersih kali ya tuh orang!".


Ketika tengah asyik melihat Radit, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk bahunya. "Hey lagi ngapain lo?"


Alindya terkejut dan membuat suara gaduh, tetapi ia segera bersembunyi sebelum Radit melihatnya.


"astaga Lisa, lo ngapain sih ngagetin gue segala?" bisik Alindya.


"ya, lo sendiri ngapain ngintip-ngintip?" Lisa ikut berbisik.


Alindya terdiam, ia tidak mungkin berkata jika tengah mengerjai Radit karena ia takut menjadi bahan ledekan oleh Lisa. Tetapi bukan Lisa namanya jika ia tidak mengetahui apa yang tengah di lakukan oleh sahabatnya itu.


Kini mereka kembali ke ruangan tempat mereka beristirahat di kafe.


"jangan-jangan lo suka ya sama si Radit?" tanya Lisa dengan penuh selidik.


"ah, yang bener aja lo. gue kan udah punya pacar, mana mungkin gue suka cowok lain. gue kan orangnya setia!" ucap Alindya dengan wajah yang tampak memerah.


"udah deh lo ngaku aja, lagian cowok kayak si Kaivan itu emang enaknya di putusin aja deh. daripada lo di gantung kayak gini terus!"


Alindya terdiam mendengar ucapan sahabatnya yang selalu menginginkannya berpisah dengan Kaivan yang memang tidak pernah mau mengalah demi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2