
Sejak putus dengan Ravendra, Amara semakin di sibukkan dengan jadwal pemotretan nya yang membuat dirinya memiliki sedikit waktu untuk sekedar bertemu dengan Kaivan. Begitu pula dengan Kaivan, sejak berhasil bekerja sama dengan Heksa Gemilang membuatnya semakin sibuk dengan perusahaannya.
Kaivan bersikeras memajukan perusahaan milik ayahnya itu yang sebentar lagi akan menjadi miliknya sebagai pewaris, Kaivan adalah anak dari istri pertama pak Farel. Karena Kaivan adalah anak laki-laki pak Farel satu-satunya, maka dari itu pak Farel akan memberikan perusahaan kepada Kaivan.
Sedangkan dari istri keduanya pak Farel memiliki satu anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas bernama Quin. Hubungan Kaivan dengan Quin cukup baik layaknya kakak beradik lainnya, Kaivan memilih tinggal di apartemennya walaupun ayah dan ibu tirinya mengajak untuk tinggal bersama.
"Kamu jangan lupa makan siang!". Tulis Amara dalam pesan singkat yang ia kirimkan kepada Kaivan.
Perhatian Kaivan yang tengah fokus pada layar laptopnya seketika teralihkan saat mendengar suara notifikasi pada ponsel yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Kaivan segera meraih ponselnya untuk membaca isi notifikasinya, seketika ia tersenyum saat membaca isi pesan dari Amara dan ia pun segera membalasnya.
Tak pernah terbayangkan oleh Kaivan sebelumnya, kekasih hati yang dulu sempat menjadi satu-satunya tetapi pergi meninggalkan nya demi mewujudkan mimpi sebagai seorang model, kini bisa ia dapatkan kembali walau harus mengorbankan Alindya gadis yang masih berstatus sebagai kekasihnya saat ini.
Setelah mendapatkan Amara kembali, Kaivan sejenak melupakan Alindya yang awalnya ia dekati agar bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan pak Bagaskara. Tetapi karena pak Bagaskara mengenal keluarga Kaivan yang pernah tercoreng namanya oleh perbuatan Karina, ibu kandung Kaivan yang kini masih mendekam di dalam penjara untuk hukuman 15 tahun penjara karena kasus penculikan dua orang anak.
Alindya yang telah di butakan oleh cinta menjadi mudah untuk di bohongi Kaivan, setiap hari ia memandangi gedung perkantoran tempat dimana Kaivan bekerja dan berharap agar Kaivan akan datang menemui Alindya di kafe. Tetapi itu sebuah hanya menjadi khayalan Alindya karena kini cintanya pun tengah di gantung.
Kekasih yang ia harapkan bisa setia seperti dirinya yang selalu setia menunggu sebuah kabar dari Kaivan, tanpa ia ketahui telah berselingkuh di belakang nya. Alindya slalu berharap jika Kaivan bisa bersikap manis lagi seperti dahulu saat pertama kali mereka bertemu.
Setiap hari Alindya duduk di sudut kafe yang mengarah tepat ke gedung perkantoran Kaivan seperti saat ini. Roy yang kebetulan berkunjung ke kafe pun memghampiri Alindya yang tengah melamun sendirian.
"permisi, boleh saya mengganggu sebentar?", tanya Roy yang membuat Alindya terkejut.
"Eh kak Roy, ada apa kak?". Alindya terkejut dan segera bangun dari tempat duduknya.
"seperti biasa, saya datang untuk memesan espresso. karena saya melihat barista nya di sini, makanya saya memesan di sini saja!", ucap Roy tersenyum.
Alindya pun ikut tersenyum dan segera membuatkan pesanan Roy yang hanya ingin di buatkan oleh Alindya. Sementara Roy menunggu sambil duduk di tempat yang sebelumnya Alindya duduki.
__ADS_1
"Gedung itu, bukan nya gedung Pratama Group?". Roy mengangkat sebelah alisnya, ia bertanya-tanya kenapa Alindya menatap gedung perkantoran milik keluarga Kaivan.
Tak lama kemudian Alindya datang dengan membawa pesanan Roy, tetapi Roy tak sempat menanyakan ada hubungan apa Alindya dengan Kaivan karena Alindya tengah di sibukkan dengan banyaknya pelanggan di jam makan siang, sementara pak Rudy izin pulang karena tidak enak badan.
Roy kembali ke kantornya menikmati espresso bersama Ravendra. Roy melihat ke arah Ravendra yang tampak sedang melamun sambil memainkan cup espresso di hadapan nya.
"Woy, malah ngelamun! lo kenapa sih?". Roy menepuk pundak Ravendra membuat si pemilik pundak terkejut.
"Hah, tidak apa-apa. saya hanya memikirkan rencana mu yang tadi. apa saya harus melakukan nya agar saya bisa mendapatkan calon istri? apa tidak ada cara lain?". Ravendra membuka cup dan meminum espresso nya.
"Sepertinya tidak ada! hanya ini jalan satu-satunya". Roy menggelengkan kepalanya.
"baiklah kalo begitu, kita mulai rencana ini besok!", seru Ravendra.
Melihat Ravendra yang masuk ke dalam rencananya membuat Roy tertawa kegirangan tetapi hanya di dalam hatinya, ia sudah membayangkan keseruan apa saja yang akan di alami oleh Ravendra saat menyamar menjadi orang biasa.
Roy kembali menuju ruangannya untuk memulai pekerjaannya lagi, tetapi sebelum itu Roy menghubungi pak Arif untuk memberitahukan jika Ravendra sudah bersedia melakukan rencana yang mereka buat tanpa sepengetahuan Ravendra.
Mengetahui rencananya berhasil, pak Arif tersenyum senang. Ia berharap rencana ke depannya akan berjalan lancar sesuai harapan nya dan bisa membuat Ravendra benar-benar siap mengemban tugasnya menjadi penerus perusahaan.
Hari mulai senja, tetapi Alindya masih berada di kampusnya. Ia masih mengerjakan tugas yang di berikan dosen siang tadi, karena ia begitu terburu-buru hingga tanpa sengaja ia menumpahkan minumannya pada kertas berisikan tugas-tugasnya yang sudah siap di kumpulkan.
"Astaga, Alindya! kamu memang ceroboh, ya!". Sinta membantu mengambil kertas yang belum terkena air minuman Alindya.
Sinta adalah salah satu teman di jurusannya yang cukup dekat dan hafal dengan kebiasaan Alindya dan kecerobohannya.
"Aduh, gimana ini? mana udah tinggal di kumpulin aja lagi!". Alindya mencoba mengeringkan kertasnya dengan cara mengibaskan nya.
__ADS_1
"kayaknya kamu kecapean deh, Lin! udah kita kumpulin besok aja, nanti aku hubungin dosennya!", ucap Sinta tersenyum menenangkan Alindya.
Alindya berterima kasih kepada Sinta kemudian ia meninggalkan kampus.
Seperti biasa, setelah selesai kuliah Alindya pergi ke kafenya untuk mengecek keadaan kafe. Lagi pula Alindya sudah merasa tidak betah di rumah karena ayahnya selalu saja membahas masalah perjodohan.
Masalah tugas kuliah saja sudah membuat Alindya merasa stres, ia datang ke kafe pun kembali muncul masalah yang membuatnya stres lagi. Pak Rudy, chef di kafe nya tiba-tiba berhenti kerja karena dokter menyatakan jika pak Rudy tidak boleh kelelahan dan anak-anak pak Rudy meminta agar ayahnya berhenti bekerja.
"maaf, kak! saya kesini untuk memberitahu jika ayah saya di sarankan oleh dokter untuk lebih banyak beristirahat. jadi kami memutuskan agar ayah berhenti bekerja". jelas Rahma salah satu anak pak Rudy.
Mendengar pak Rudy berhenti bekerja membuat Alindya sedih karena bagaimana pun juga pak Rudy yang sudah lama bekerja dengannya, telah Alindya anggap sebagai keluarga sendiri dan juga kue-kue buatan pak Rudy sudah terkenal enak di mulut para pelanggan Alindya.
Namun Alindya juga memaklumi jika memang pak Rudy sudah harus pensiun di usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Iya, dari dulu juga saya sudah menawarkan pak Rudy untuk pensiun, tetapi beliau menolaknya karena ia begitu mencintai pekerjaannya. baiklah, tolong sampaikan ini kepada pak Rudy ya. jika ada waktu, saya pasti akan menyempatkan untuk menjenguk pak Rudy." Alindya menyerahkan sebuah amplop yang berisi gaji terakhir pak Rudy kepada Rahma.
"Terima kasih, kak! kalo begitu saya permisi dulu!". Rahma menerima amplop yang di berikan oleh Alindya kemudian meninggalkan kafe.
Alindya termenung sendirian memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada kafe yang sudah mulai terkenal itu.
Ketika tengah sibuk memijat keningnya, sahabat nya pun datang. "Hey, ada masalah apa?". Lisa meletakkan belanjaan nya di atas meja.
Lisa memang baru selesai berjalan-jalan dengan kekasihnya, tampak raut wajah gembira yang di perlihatkan Lisa kepada Alindya yang tengah kebingungan di tinggal pak Rudy.
Mendengar jika masalahnya ternyata adalah kehilangan chef terbaik di kafenya, Lisa pun ikut bersedih. Tetapi ia kembali tersenyum, mengingat sudah menemukan pengganti pak Rudy.
"Lo nggak usah khawatir, mulai besok pengganti pak Rudy udah mulai masuk kerja!". Lisa menjawab dengan santainya sambil mengecek isi tas belanjanya.
__ADS_1
Melihat Lisa yang tampak santai, Alindya pun berusaha untuk ikut santai mengelola kafenya, lagipula mereka berdua yang membangun kafe maka mereka juga yang harus bisa bertanggung jawab atas keberlangsungan kafe mereka.