When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 9: Cemburunya Sang Mantan


__ADS_3

Alindya terlihat lesu saat berjalan meninggalkan ruang kelasnya, dua jam berada di dalam kelas membuatnya kehabisan sebagian tenaganya. Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju tempat parkir dimana mobilnya berada, ia segera menyalakan mesin mobil saat sudah duduk di kursi kemudi bersiap menuju cafe.


Seakan sudah melupakan kekasih yang ia rasa juga telah melupakan nya, Alindya mengemudikan mobilnya menembus kemacetan jalanan ibu kota dengan musik rock yang ia nyalakan sebagai teman perjalanannya.


"Hah, akhirnya sampai juga!". Alindya merebahkan tubuhnya di sebuah ruangan pribadi di cafenya sebagai pereda lelah harinya.


"Nih, gue bikinin ice chocolate buat lo. biar sedikit seger!". Lisa menyodorkan sebuah cup yang tampak menggiurkan lidah Alindya.


"Oh terima kasih, kamu memang the best!". Tangan Alindya segera mengambil cup dan menusukkan sedotannya.


Setelah merasa sedikit lebih segar, barulah Alindya mengambil ponselnya. Ia berniat untuk membuka sosial medianya, tetapi ia sangat terkejut saat melihat notifikasi panggilan tak terjawab dari Kaivan sebanyak tiga kali.


"Ya ampun, tumben banget nih orang calling gue nyampe tiga kali!". Mata Alindya terbelalak saat menatap nama kekasihnya tertera di notifikasi.


"siapa? si kampret itu nelpon lo?", tanya Lisa.


"Iya nih, kayaknya pas tadi gue lagi di kelas, deh!". Alindya menempelkan ponselnya di telinga, mencoba kembali menghubungi Kaivan.


Sementara Kaivan tengah asyik menikmati makan siang di sebuah restoran, setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan untuk melanjutkannya kencan dengan makan siang bersama.


Suara telepon masuk menghentikan acara makan siang Kaivan, ia berpamitan kepada Amara untuk mengangkat telepon terlebih dahulu dan menjauh dari hadapan Amara.


"pasti gadis itu yang menelpon", seru Amara kesal.


Kaivan sedikit menjauh dari Amara seolah tidak ingin pembicaraannya terdengar, hal itu malah membuat Amara merasa cemburu, padahal ia juga memiliki kekasih yang bisa mewujudkan segala keinginannya.


"halo sayang, kamu kemana aja?", tanya Kaivan.


"harusnya aku yang tanya kamu kemana? semalaman aku tunggu malah gak ada kabar sama sekali", jawab Alindya dengan kesal.


Melihat sahabatnya tengah berdebat dengan kekasihnya, Lisa memilih untuk kembali menemui customer daripada harus ikut mendengarkan perdebatan yang akan tampak sengit diantar mereka berdua.


"maafkan aku sayang, semalam ada meeting mendadak sampai malam. aku lelah sampai nggak sempat ngabarin. kamu berhak marah sama aku, kok!", seru Kaivan dengan nada memelas.


"ya udah aku maafin deh", jawab Alindya.


"makasih sayangku. ya udah aku mau makan dulu ya, kamu juga makan ya!", seru Kaivan terdengar begitu bahagia.

__ADS_1


Setelah mendapatkan maaf dari Alindya, Kaivan kembali menghampiri Amara yang tengah menyantap makanannya.


Melihat wajah Kaivan yang tampak berseri setelah menerima telepon dari Alindya, membuat Amara merasa semakin cemburu.


"udah selesai telponan nya?", ketus Amara.


"udah, kok!", jawab Kaivan tersenyum.


Melihat raut wajah Amara yang jelas sekali memperlihatkan kecemburuannya membuat Kaivan merasa senang karena kini nilai mereka seri. Dahulu Kaivan di buat cemburu dengan kedekatan Amara dan Ravendra, kini berlaku sebaliknya.


Hari semakin sore, Amara masih saja merasa kesal karena Ravendra memberikannya kartu yang telah di blokir dan di tambah lagi melihat Kaivan yang tampak bahagia setelah menelpon Alindya.


Amara memutuskan untuk menemui Ravendra di kantornya, ia ingin menanyakan tentang kartu ATM yang di berikan oleh Ravendra. Hal itu membuat Kaivan memiliki sebuah ide, memanfaatkan Amara yang tidak lain adalah kekasih dari musuhnya.


"aku ingin menagih hutangmu!", seru Kaivan saat mengantarkan Amara menuju apartemennya.


"nanti akan aku transfer ke rekeningmu!", jawab Amara ketus.


"aku tidak butuh uangmu!", seru Kaivan.


"Lantas?". Amara mengernyitkan keningnya.


Sore hari yang indah bagi Alindya karena baru bisa mendengar suara sang kekasih walau hanya lewat telepon. Ia tak henti-hentinya mengembangkan senyuman saat meracik kopi, hingga membuat Roy yang kebetulan datang menjadi penasaran.


"kayaknya kamu habis menang lotre, ya? perasaan dari tadi senyum-senyum terus walaupun nggak lagi ngadepin customer", tanya Roy.


"haha.. kak Roy bisa aja!", seru Alindya.


"dia abis nelpon pacarnya, kak! cuma denger suaranya aja jadi kayak gitu", sambung Lisa.


"wah, beruntung sekali pacarnya Alindya. gak perlu susah payah buat dia bahagia, ya!", seru Roy.


Alindya hanya tersenyum mendengar ucapan Roy, sementara Lisa tampak tersenyum kaku menatap ke arah Alindya seolah masih meragukan kekasih Alindya yang bisa benar-benar membuat sahabatnya itu bahagia.


Setelah pesanannya selesai, Roy segera pamit kembali menuju kantor menemui Ravendra yang memilih untuk pulang telat karena ingin segera menyelesaikan pekerjaannya hingga ia sejenak melupakan kekasihnya.


Ravendra yang tengah menatap berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya merasa terusik dengan suara keributan di depan pintu ruangannya, mau tak mau Ravendra bangkit dan membuka pintu untuk melihat ada keributan apa yang tengah terjadi.

__ADS_1


Ia begitu terkejut setelah membuka pintu dan melihat ternyata Amara yang tengah membuat keributan karena memaksa masuk untuk menemui Ravendra tetapi di cegah oleh security yang melaksanakan perintah dari Ravendra yang sedang tidak ingin di ganggu.


"biarkan saja dia masuk, pak! bapak boleh kembali bekerja", pinta Ravendra.


Semua mata tertuju pada Amara yang berpakaian terlalu sexy untuk memasuki kantor dan mereka tidak percaya jika ia adalah kekasih dari bos mereka, melihat karyawannya melihat ke arahnya Ravendra segera memberikan kode agar melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


Ravendra membukakan pintu ruangannya dan mempersilahkan Amara untuk masuk, dengan raut wajah yang kesal Amara masuk dan duduk dengan kasar.


"kenapa kamu datang tanpa memberitahu saya terlebih dahulu?", tanya Ravendra dengan lembut.


"bagaimana aku memberitahu? teleponku pun tidak kamu jawab!" teriak Amara.


"oh maaf sayang, ternyata ponsel saya tidak bersuara. saya tengah fokus mengerjakan pekerjaan!", jelas Ravendra.


"Memangnya kamu ngerjain apa sampe gak mau di ganggu". Amara melipat tangannya dan memasang wajah marah.


Melihat kekasihnya yang marah membuatnya tidak bisa menyembunyikan rahasia perusahaannya, agar Amara percaya kepadanya akhirnya ia memberitahukan jika tengah berencana untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan besar di luar kota yang bernama Heksa Gemilang.


Sangat sulit untuk bekerja sama dengan mereka, maka dari itu Ravendra dan ayahnya menyusun rencana sejak lama dan sebentar lagi mereka akan mendatangi pemilik Heksa Gemilang.


"Aku tidak peduli sepenting apa itu Heksa, aku cuma minta penjelasan kamu. kenapa kartu ini tidak bisa digunakan, aku malu Ravendra! aku berbelanja dengan membawa kartu yang telah terblokir". Amara melemparkan karu ATM pemberian Ravendra ke atas meja di hadapannya.


Mendengar ucapan Amara membuat Ravendra terkejut. "Apa? mana mungkin ini terblokir, kemarin saya gunakan masih bisa, kok!".


"Kalo kamu nggak mau ngasih aku lagi, bilang aja! jangan kayak gini caranya, bikin aku malu aja!". Amara bangkit dari sofa dan pergi meninggalkan Ravendra.


"Sa sayang, Amara tunggu! dengarkan saya dulu". Ravendra mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Amara dan menahannya, tetapi ia tidak bisa karena belum membersihkan tangannya.


Amara dengan cepat meninggalkan ruangan Ravendra tanpa menghiraukan teriakan sang pemilik ruangan.


Semua mata kembali tertuju kepada Amara dengan bisikan-bisikan yang tidak mempercayai jika Amara adalah kekasih Ravendra, melihat dari penampilannya saja mereka merasa tidak ada keserasian di antara Amara dan Ravendra.


Berjalan dengan langkah kaki yang cepat berharap bisa segera menemui Kaivan, Amara bertemu dengan Roy yang membawa espresso pesanan Ravendra.


"eh kok buru-buru amat, mba", ledek Roy saat berpapasan dengan Amara.


Namun Amara sama sekali tidak menggubris ledekan Roy, ia terus menatap lurus ke depan dengan gayanya seperti tengah berjalan di catwalk.

__ADS_1


"baru juga jadi pacar CEO udah sombong. ketauan selingkuh baru tau rasa, lo", ujar Roy.


__ADS_2