When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 17: Masuk Perangkap


__ADS_3

Di sebuah salon, tampak Alindya tengah menikmati pijatan di kepalanya, ia meminta pegawai salon untuk mencuci bersih rambutnya dari aroma telur yang telah mengenai seluruh tubuhnya itu.


Karena begitu menikmati pijatan pegawai salon dengan posisi tubuh yang setengah berbaring membuat Alindya tertidur dengan nyenyak nya hingga terdengar suara dengkuran yang membuat Lisa merasa malu.


Lisa yang tengah santai membaca majalah pun menghampiri Alindya dan membangunkan nya.


"Alindya bangun wouy! malu-maluin gue aja". Lisa mencubit tangan Alindya agar membuatnya terbangun.


"Aw, sakit Lisa!". Alindya segera bangun karena merasa kesakitan.


Para pengunjung dan pegawai pun tersenyum melihat kelakuan dua sahabat itu membuat Lisa ingin segera meninggalkan salon.


"eh tunggu Lis, gue kan belum selesai!", seru Alindya melihat Lisa yang hendak meninggalkan salon.


Sementara itu di ruang kerja pak Arif tempak bu Felicia meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja pak Arif. Melihat istrinya datang, pak Arif memberikan senyum manisnya walau tengah sibuk menatap layar laptopnya.


"Papa lagi apa sih, bukannya kerjaan udah di tugasin ke Ravendra? biar papa bisa istirahat". Tangan bu Felicia membelai lembut pundak pak Arif.


Walau sudah tiga puluh tahun menikah, mereka masih tampak mesra seperti pengantin baru. Hal itu lah yang membuat suasana rumah mereka selalu terasa hangat karena hampir tidak pernah ada pertikaian di antara mereka yang akan membuat anak mereka merasa tidak betah di rumah dan sulit untuk di atur.


"Papa akan menyuruh Ravendra untuk berlibur dulu, mah!". Pak Arif memegang lembut tangan bu Felicia.


"loh, bukannya dia sudah sehat? kenapa suruh libur lagi pah?", tanya bu Felicia heran.


Bukannya menjawab, pak Arif malah tersenyum menatap wajah bu Felicia seakan ia memiliki rahasia besar yang belum ingin ia bagi. Tetapi karena desakan dari bu Felicia, akhirnya pak Arif mau menceritakan sebuah rahasia kepada bu Felicia.


Di ruang dapur tampak sepi karena seluruh asisten rumah tangga di minta untuk mengosongkan dapur karena Ravendra akan memulai kegiatannya.


"semuanya boleh beristirahat, jangan ada yang ke dapur lagi!", pinta Ravendra.

__ADS_1


"maaf tuan, apa boleh kalo saya mau melihat tuan memasak?", tanya Feby memberanikan diri.


Karena suasana hati Ravendra sedang cukup baik, ia mengizinkan para asisten rumah tangga yang ingin melihatnya. "boleh, silahkan! tapi jangan sentuh apapun dan jangan berbicara satu kata pun, mengerti?", tanya Ravendra.


Seketika itu pun para asisten rumah tangga berkumpul di depan Ravendra memperhatikan setiap gerakannya tanpa mengeluarkan suara sekecil apapun sesuai perintah Ravendra.


Kali ini Ravendra akan mencoba membuat brownis kukus dengan resep yang di pelajarinya beberapa saat yang lalu lewat video di internet, tangannya begitu cekatan mempraktekan setiap langkah pembuatannya, walaupun baru sekali ia melihat video resep itu.


Para asisten rumah tangga terkagum melihat Ravendra walau memiliki tubuh atletis tetapi ia begitu pandai membuat kue. Mereka juga kagum saat melihat tuan mudanya yang berada seorang diri di dapur tetapi tidak ada setitik pun noda berada di sekitarnya karena saat ada sedikit noda dengan sigap ia mengelapnya.


"Selesai, tinggal tunggu matang. nanti kita cobain bareng-bareng ya!". Ravendra merapikan meja dapur sambil tersenyum kepada para asisten rumah tangga.


Ravendra memang orang yang ramah saat di rumah, tetapi tampak arogan saat berada di luar karena memiliki wajah yang terlalu tampan membuatnya di cap sebagai pria arogan, tetapi saat ia tersenyum siapapun yang melihatnya akan jatuh hati kepadanya.


Pak Arif dan bu Felicia baru saja keluar dari ruang kerja, mendengar keramaian di dapur membuat mereka penasaran dan menghampirinya. "ada apa ini, kok pada kumpul di sini?", tanya bu Felicia.


"ini mam, saya mau bagi-bagi sama mereka brownis pertama yang saya buat!", jawab Ravendra tampak santai.


Mereka meninggalkan Ravendra dan para asisten keluarga yang tengah menunggu brownies nya selesai melewati proses pengukusan.


Dari kejauhan pak Arif dan bu Felicia menatap ke arah Ravendra yang tengah asyik bercengkrama dengan para asisten rumah tangga yang sudah seperti keluarga sendiri karena mereka sudah mengabdi selama bertahun-tahun pada keluarga Wardhana.


"Sepertinya Ravendra tengah mengadakan pesta perpisahannya! aku harap dia akan baik-baik saja selama jauh dari rumah!". Bu Felicia menatap sayu ke arah anak semata wayangnya itu.


"Tenang saja! walaupun dia jauh, tetap akan aku pantau setiap pergerakannya". Pak Arif merangkul pundak bu Felicia dan mengajaknya beristirahat.


Keesokan harinya Ravendra kembali ke kantornya bertemu dengan sekretaris pribadinya. Roy yang telah mengetahui kabar kandasnya percintaan Ravendra, merasa aneh saat melihat raut wajah Ravendra yang tampak biasa saja, tidak ada kesedihan di wajah Ravendra. Ia malah semakin fokus bekerja dengan semangat yang begitu menggebu-gebu untuk bersaing secara sehat dengan perusahaan Kaivan.


"mulai hari ini, saya tidak akan kalah lagi dari Kaivan!", seru Ravendra.

__ADS_1


Tidak mau rencana pak Arif gagal, Roy mencari jalan lain agar Ravendra mau masuk ke dalam perangkap yang akan membawanya ke dalam dunia baru sesuai dengan rencana pak Arif yang ingin melatih kemampuan Ravendra agar lebih baik lagi.


"Hey, bro! apa bener hubungan lo sama Amara udah selesai?". Roy duduk di depan Ravendra sambil memainkan ponselnya.


"Kau tahu darimana?". Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop, Ravendra bertanya.


"Gue liat dari ini!". Roy memperlihatkan foto kemesraan Amara dan Kaivan di sosial media Amara. Bukannya terkejut, Ravendra hanya melihat ponsel Roy sekilas dan kembali melanjutkan pekerjaan nya. Roy yang mulai kesal, berdiri dan melipat setengah layar laptop Ravendra dan berkata.


"Sekeras apapun lo kerja, harta warisan gak bakal om Arif kasih ke lo kalo lo belum nikah juga, bro!". Roy berbicara dengan kesalnya di hadapan Ravendra.


Ravendra yang terkejut, ia memundurkan badannya saat wajah Roy berada tepat di depan wajahnya, ia hanya terdiam menunggu Roy kembali ke tempat duduknya.


"lalu saya harus bagaimana menurut kau?", tanya Ravendra setelah Roy kembali duduk dengan tenang.


"ya lo harus nyari pacar lah, kalo lo ga mau di jodohin om Arif!", jawab Roy dengan santainya.


Ravendra terdiam sejenak mengingat masa lalunya bersama wanita yang hanya mengincar hartanya saja.


"Saya tidak bisa! saya takut akan bertemu dengan gadis macam Amara lagi yang hanya menginginkan uang saja". Ravendra tertunduk lesu mengingat kejadian yang menimpanya dahulu.


Melihat sahabatnya yang tampak putus asa, Roy malah menertawakan nya, ia tertawa hingga membuatnya kesulitan untuk berbicara.


"hey sudahlah tertawanya! kau tidak sadar telah menertawakan dirimu sendiri!", seru Ravendra sedikit menyindir Roy yang juga sulit mencari pendamping hidup.


"okeh okeh serius! gue punya ide bagus yang bisa bikin lo dapet jodoh!", seru Roy membuat Ravendra penasaran dan menyimak kelanjutan ucapan Roy.


Melihat Ravendra yang tampak penasaran membuat Roy bersemangat dan yakin jika Ravendra akan setuju dengan idenya.


"lo nyamar, pura-pura jadi orang miskin terus lo sambil kerja disana!", saran Roy. Ravendra terkejut mendengar saran dari Roy.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? dengan berpura-pura miskin, saya akan bekerja apa di sana?". Ravendra berdiri menggebrak mejanya.


"hahaha.. lo tenang aja, gue udah siapin semuanya. termasuk pekerjaan. dan pekerjaan ini pasti lo suka, walaupun lo udah nggak jadi bos lagi".


__ADS_2