When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 16: Tabrakan Kedua


__ADS_3

Sudah selama satu jam Alindya membersihkan dirinya di kamar mandi, tetapi ia masih tetap merasakan aroma telur dari rambutnya, begitu pula dengan Lisa yang duduk di dekat Alindya terus menutup hidungnya.


"Gila Lin, lo bau banget telur sih!". Lisa menggeser duduknya agar lebih jauh dari Alindya.


"Iya Lisa, gue juga tau! terus gue harus ngapain?". Alindya merengek, ia juga tidak tahan dengan aroma pada dirinya sendiri.


"Ayo, ikut gue!". Lisa berdiri dan menarik tangan Alindya.


Alindya memasrahkan diri kepada sahabat nya karena ia juga sudah kebingungan bagaimana caranya menghilangkan bau telur pada tubuhnya.


Tanpa melepaskan masker yang menutupi hidung dan mulutnya, Lisa mengemudikan mobilnya menuju sebuah salon langganannya yang berada di sebuah mall setelah mereka menutup kafe.


Tak perlu banyak waktu untuk sampai di mall tersebut, kini mereka telah memasuki mall yang tampak di padati oleh pengunjung.


"Rame banget sih, Lis! gue malu tau, gaya gue yang kayak gini malah masuk mall". Alindya berjalan mengenakan hoodie yang menutupi tubuh dan kepalanya.


"Sabar dulu, Lin! bentar lagi juga sampe, kok!". Lisa terus menarik tangan Alindya.


Alindya yang terus menundukkan kepala, tidak melihat jika ada Ravendra tengah berjalan ke arahnya. Karena sama-sama tidak melihat ke depan, akhirnya membuat Alindya menabrak tubuh Ravendra yang lebih tinggi darinya itu. Ravendra pun menjatuhkan kantung belanjaan nya yang berisi bahan-bahan pembuat kue.


Merasa bersalah telah membuat belanjaan Ravendra berantakan, Alindya pun membantunya mengambil bahan kue yang berserakan di lantai tanpa melihat siapa orang yang di tabrak nya.


"Aduh maaf, kak! saya tidak sengaja". Alindya terus memasukkan barang belanjaan Ravendra ke dalam kantung belanja yang di pegang Ravendra.


"tidak apa-apa!", jawab Ravendra dengan sabarnya, ia masih belum menyadari jika itu adalah Alindya.


"uh.. kenapa gadis ini bau sekali telur", ucap Ravendra dalam hatinya.


Mereka berdua bersama-sama memasukkan barang belanjaan Ravendra ke dalam kantung belanjaan hingga tinggal satu bungkus tepung yang belum di masukkan ke dalam kantong, tiba-tiba saja tangan Alindya tidak sengaja menyentuh tangan Ravendra yang sudah memegang bungkus tepung terigu.

__ADS_1


Waktu seolah berputar sangat lambat, Ravendra dan Alindya saling beradu pandang. Ravendra baru tersadar jika gadis yang menabraknya saat ini adalah gadis yang tempo hari menabraknya di halaman restoran.


Ravendra ingin membuat perhitungan kepada Alindya karena telah dua kali menabraknya.


Tetapi tiba-tiba ia kembali tersadar, tangannya yang tersentuh Alindya telah menunjukkan goresan berwarna merah, dengan gerakan cepat Ravendra memasukkan tepung terigu yang di pegangnya kemudian berlari ke luar mall meninggalkan Alindya yang terpaku melihat keanehan dari seorang CEO yang tampak arogan itu.


"hey tunggu!", teriak Alindya yang penasaran akan goresan merah di tangan Ravendra.


Lisa yang memperhatikan Ravendra pun merasa aneh. "Lin, dia kan rivalnya si Kaivan yang katanya takut kotor itu kan? tadi kok tangan dia jadi merah-merah gitu pas gak sengaja di pegang lo?". Lisa berdiri di sebelah Alindya menatap kepergian Ravendra.


"iya Lis, gue juga liat. kayaknya ada yang dia sembunyikan", ucap Alindya heran.


Selepas bersentuhan dengan Alindya, terlihat goresan-goresan berwarna merah pada tangan Ravendra yang tersentuh oleh Alindya.


Ia memang mengidap penyakit Dermatographia, jenis penyakit kulit dimana pengidapnya seolah bisa menulis bahkan menggambar pada permukaan kulitnya.


Permukaan kulit pengidap penyakit ini biasanya akan mengalami perubahan saat mendapat rangsangan tertentu, seperti tergores.


Kini ia berlari menerobos keramaian menuju tempat parkir dimana mobilnya berada, tak peduli dengan umpatan-umpatan orang yang di tabrak nya bahkan di antara mereka ada yang mengenalinya, tetapi Ravendra terus berlari dengan cepat tanpa menghiraukan mereka.


Setelah terus berlari akhirnya ia sampai pada tempat dimana mobilnya terparkir, ia segera masuk ke dalam mobil mengatur napasnya yang seolah akan habis.


Ia menyandarkan tubuhnya sejenak lalu kemudian menginjak gas untuk segera meninggalkan mall.


"siapa gadis itu? kenapa saya selalu bertemu dengannya? kebetulan macam apa ini!", ucap Ravendra di tengah perjalanannya menuju rumah.


Seolah Alindya di takdirkan untuk mengobati rasa sakit yang tengah di alami Ravendra pasca putus dari Amara.


Kepala yang selalu memikirkan tentang Amara, kini Ravendra malah memikirkan Alindya yang sudah dua kali menabraknya, ada rasa ingin tahu lebih jauh tentang Alindya. Tak terasa mobil yang di kendarainya telah sampai di kediamannya, Ravendra segera turun dari mobilnya sambil membawa kantong belanjaannya.

__ADS_1


"Bi Inah, tolong letakkan ini di dapur. Jangan di buka dulu ya, biar nanti saya yang membereskannya!". Ravendra memberikan kantong belanjaan nya kepada asisten rumah tangga kemudian ia berjalan menuju kamarnya.


Ravendra melangkahkan kakinya menuju kamar, tetapi langkahnya terhenti di depan tangga menuju kamarnya saat bertemu ibunya yang terkejut melihat pada punggung tangan Ravendra terdapat goresan berwarna merah.


"Apa yang telah terjadi? siapa yang menyentuhmu?". Bu Felicia mengarahkan jari telunjuknya pada tangan Ravendra.


"oh tadi saya tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang di mall", jawab Ravendra mencoba untuk terlihat santai.


"seseorang? apa dia wanita? pasti dia cantik", tanya bu Felicia sedikit meledek karena melihat wajah Ravendra yang terlihat memerah.


"Mama! sudahlah, saya mau mandi". Ravendra bergegas melangkahkan kakinya meninggalkan bu Felicia.


"Apa? bukankah tadi dia sudah mandi?". Bu Felicia mengangkat kedua bahunya menatap Ravendra yang tengah menaiki anak tangga.


Tak mau ambil pusing dengan kelakuan anaknya, bu Felicia memilih untuk pergi ke ruang kerja menemui pak Arif yang tengah sibuk membereskan berkas-berkasnya.


Tetapi sebelum menemui pak Arif, bu Felicia pergi ke dapur terlebih dahulu untuk membuatkan secangkir kopi untuk menemani pak Arif bekerja.


Sesampainya di dapur, bu Felicia di kejutkan dengan sebuah kantung belanjaan yang berada di atas meja dapur. Karena ukurannya yang cukup besar, membuat bu Felicia merasa penasaran.


"Apa ini, bi?". Bu Felicia menunjuk kantung belanjaan yang berada di depannya.


"oh itu belanjaan milik tuan muda, nyonya!", jawab bi Inah dengan sopan.


Bu Felicia yang merasa penasaran akhirnya membuka kantung tersebut. Setelah mengetahui isi kantung belanjaan, bu Felicia hanya menggelengkan kepalanya saat mengetahui isi kantungnya adalah bahan pembuat kue.


"pancake udah bisa, sekarang mau bikin apa lagi dia?", ucap bu Felicia.


Tidak ingin terlalu ikut campur dengan kebiasaan Ravendra, bu Felicia segera membuatkan kopi untuk pak Arif setelah melihat isi kantung belanjaan Ravendra.

__ADS_1


Memang terasa aneh ketika seorang pria dengan tubuh maskulin seperti Ravendra senang membuat kue, siapapun yang mendengar jika Ravendra pandai membuat kue pasti tidak akan ada yang mempercayainya.


Namun itulah keunikan Ravendra, sejak di tinggal sang kakak yang suka memakan kue, ia tertarik untuk membuat kue sebagai caranya untuk mengobati rasa rindunya terhadap sang kakak.


__ADS_2