When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 22: Situasi Genting


__ADS_3

Situasi di dapur semakin genting, Radit yang berusaha di tenangkan oleh Andra dan Lisa semakin berteriak dan berlari mengelilingi dapur.


"Hadehh.. dia aktingnya bagus banget sih, lebih cocok jadi aktor aja daripada jadi chef di sini!". Alindya duduk menyaksikan Andra yang tengah mengejar Radit.


"Eh lo bukannya bantuin kita, malah duduk santai di sini!". Lisa menarik kursi di samping Alindya.


"gue kan udah bantu hubungin kak Roy, tinggal tunggu dia datang aja!", ucap Alindya.


Tak lama Roy datang ke kafe dan segera di arahkan ke dapur untuk menangani Radit. Roy dibuat terkejut saat melihat Radit yang terus berlari mengelilingi ruang dapur, dengan sigap ia memegang tubuh Radit agar berhenti berlari. Radit pun berhenti saat melihat wajah Roy.


"Roy kamu ada di sini? tolong saya Roy! di-dia datang lagi. dia ingin membunuh saya!". Radit berbicara begitu ketakutan memegang tangan Roy.


"Tenang, Ndra! gue ada di sini, lo bakalan aman!". Roy menepuk-nepuk pundak Radit dan menatap matanya agar meyakinkan dirinya untuk bisa tenang.


Namun, alih-alih menjadi lebih tenang dengan hadirnya Roy, Radit malah kembali berlari karena ia melihat wanita itu menghampirinya walaupun tidak ada siapa-siapa lagi di ruangan itu selain Alindya, Lisa dan Andra.


Melihat Radit terus berlari, Roy pun mengejar Radit dan memegangnya dengan sekuat tenaganya. Penampilan Radit kini sangat kacau dengan rambut yang acak-acakan, mata memerah dan tubuh gemetar ia meminta pertolongan kepada Roy.


Radit terus mengucapkan kata tolong walau sudah di jawab oleh Roy, ia terus meremas rambut dan menggigit jari-jarinya tanpa dia sadari.


Roy yang sudah kehabisan akal dan tenaga untuk menenangkan Radit, akhirnya mengambil obat penenang yang ia dapatkan dari pak Arif bertujuan untuk berjaga-jaga jika Radit semakin sulit untuk di tenangkan.


Roy segera menyuntikan obat penenang itu pada lengan Radit dan membuat Radit secara perlahan membawa tubuhnya duduk di lantai kemudian terlihat matanya sudah terpejam.


"kak Roy, apakah dia akan baik-baik saja?", tanya Lisa khawatir saat melihat Roy yang tampak kelelahan menghadapi Radit.

__ADS_1


"Iya, dia akan baik-baik saja setelah di tangani oleh dokter!". Roy menjawab sambil menyeka keringatnya yang terus bercucuran.


Berbeda dengan Lisa dan Andra yang tampak khawatir menanyakan keadaan Radit, Alindya malah menanyakan hal lain yang mencurigakan baginya.


"kenapa kak Roy memanggilnya dengan panggilan Ndra? bukankah nama dia adalah Radit! sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian? apa kalian menyembunyikan sesuatu dari kita?", rentetan pertanyaan terlontar begitu saja dari mulut Alindya.


"Alin, kenapa sih lo nanya begitu? situasinya lagi genting begini juga!", seru Lisa menanggapi pertanyaan Alindya.


Selama mereka berdua berdebat, ada kesempatan bagi Roy untuk menyusun jawaban yang tepat agar rahasia Ravendra tidak terbongkar secepat ini.


"oh jadi kamu belum tahu nama dia? namanya adalah Radit Mahendra, saya lebih suka memanggil nama belakangnya! kami memang sudah saling kenal sejak kecil, tetapi dia lebih memilih tinggal di desa dan sekarang dia datang untuk mencari pekerjaan. dan... oh ambulance nya sudah datang, saya mau membawanya ke rumah sakit dulu!", Roy mencoba meyakinkan Alindya dan yang lainnya hingga mobil Ambulance datang untuk membawa Radit ke rumah sakit.


Para medis dengan sigap membawa Radit menuju rumah sakit tanpa ada waktu untuk di tanyai sesuatu apapun oleh Alindya. Begitu pula dengan Roy yang sudah memasuki mobilnya dengan cepat.


"Ceritanya nanti lagi ya! saya harus cepat sampai di rumah sakit!". Teriak Roy sesaat setelah menurunkan setengah kaca jendela mobilnya.


"Hampir saja ketahuan, masa iya baru hari pertama harus ketahuan. Lagian kenapa juga sih ada ibu-ibu di kafenya Alindya, emang kelewat ramah tuh cewek sampe ibu-ibu juga mampir ke kafe!". Roy menggelengkan kepala seraya memegang kemudi mobilnya.


Tak terasa Roy telah sampai di rumah sakit, Radit segera di periksa oleh dokter spesialis yang sudah lama menangani Radit.


"tuan muda akan membaik setelah ia beristirahat, anda tenang saja. trauma yang dialami oleh tuan muda memang tidak bisa sembuh begitu saja, ia harus dibiasakan untuk bisa menghadapi rasa traumanya. rasa trauma itu harus dihadapi dan di lawan untuk bisa sembuh, jika selalu dihindari maka ia akan terus hidup dalam rasa ketakutan!", jelas dokter Beni.


Roy hanya menganggukkan kepalanya mengingat Ravendra begitu sulit untuk melawan rasa traumanya.


"Saya yakin suatu saat nanti tuan muda akan menemukan seseorang yang bisa membantunya terbebas dari rasa takut akan masa lalunya!". Dokter Beni menepuk pundak Roy kemudian pergi meninggalkan Roy yang masih berdiri di depan pintu ruang rawat.

__ADS_1


"yah, semoga secepatnya dia menemukan orang yang bisa membebaskannya dari siksaan selama belasan tahun ini!", ucap Roy kemudian menemui Ravendra yang masih belum sadar.


Roy selalu setia menunggu Ravendra bangun, ia duduk di sofa yang terletak tidak jauh dari brankar dimana Ravendra terbaring hingga akhirnya ia merasa lelah dan tanpa terasa Roy tertidur dalam posisi duduk bersandar di sofa.


Rasa lelah setelah seharian bekerja membuat Roy tertidur begitu pulas walau hanya duduk di sofa ruang VVIP rumah sakit dan lupa jika dia sendiri tengah menjaga pasien yang belum sadarkan diri.


"Hey kau, bangunlah! saya merasa lapar!". Ravendra berdiri dengan membawa tiang infus di sebelah Roy yang tertidur.


Perlahan Roy membuka matanya, memfokuskan pandangan untuk mencari sumber suara yang membangunkannya di tengah tidurnya yang nyenyak. "Astaga, lo udah bangun? kenapa bisa nyampe ke sini pake bawa-bawa infusan segala lagi!".


"Dari tadi saya memanggilmu dari sana, tetapi kau diam saja!". Ravendra dengan santainya menunjuk ke arah brankar yang jaraknya cukup jauh.


"Hehe.. baiklah, gue ambilin makanan dulu!". Roy bangkit dari sofa.


"Kita pergi makan di luar saja!". Ravendra melepaskan selang infus yang menempel di tangannya.


"Hey, apa lo udah gila?". Roy mengernyitkan dahinya.


Sementara suasana di kafe begitu ramai setelah para pelanggan memesan brownis buatan Radit dan mereka menyukainya bahkan ada yang sampai memesan untuk di bawa pulang.


"gawat, kak! stok brownies nya tinggal sedikit!", ujar salah satu pelayan kafe.


"Aduh, gimana donk ini? gak ada yang bisa bikin lagi?". Lisa menatap karyawannya satu persatu dan mereka kompak menjawab dengan gelengan kepala.


Saat sahabatnya tengah menghadapi situasi genting, Alindya malah duduk sendirian dan memikirkan Radit, ia merasa bersalah saat mengetahui jika Radit memang benar-benar mempunyai trauma terhadap wanita yang menggunakan riasan tebal.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya sekarang? apa dia sudah membaik?". Alindya duduk dengan menopang dagunya.


__ADS_2