When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 31: Sok Jago


__ADS_3

Di pagi yang cerah itu Roy mengendarai mobilnya menuju kediaman Wardhana. Ia akan melaporkan keadaan Ravendra yang sejak kemarin selalu di khawatirkan oleh bu Felicia.


"nyonya yang satu ini memang aneh, dulu anaknya tinggal di luar negeri dia tidak begitu mencemaskannya. tetapi saat ini kenapa dia begitu khawatir, padahal anaknya sedang melakukan pendekatan dengan seorang gadis!" ucap Roy tersenyum di saat terjebak kemacetan.


Melihat sahabatnya tengah melakukan pendekatan membuat dirinya senang, ia juga sudah mengenal Alindya yang menurutnya adalah gadis baik dan pantas untuk bersama Ravendra, di bandingkan dengan Amara yang sudah jelas terlihat dari awal ia mendekati Ravendra hanya untuk kepentingannya sendiri.


Di tengah kemacetan yang menyebalkan, pandangan Roy tiba-tiba saja menangkap sepasang kekasih yang sangat menyebalkan juga baginya. Kaivan dan Amara juga tengah berada dalam kemacetan, mobil yang mereka kendarai tepat berada di sebelah mobil Roy.


"kenapa harus bertemu dengan pasangan itu!" ucap Roy saat mengetahui Amara ada di dalam mobil Kaivan yang terlihat dari balik kaca mobil.


Ternyata Kaivan juga menyadari jika mobil yang berada di sebelahnya adalah mobil milik Roy, teman masa SMA mereka.


"hey, bukankah dia Roy, sahabatnya Ravendra? aku masih ingat dengan mobilnya!" seru Kaivan.


"iya, memang benar itu mobilnya. mau kau apa kan dia?" tanya Amara menatap Kaivan.


"kau lihat saja nanti, pasanglah sabuk pengaman mu dengan benar!" ucap Kaivan tersenyum sinis.


Tak lama kemudian, jalanan kembali normal. Roy masih dengan santai mengemudikan mobilnya di jalanan yang tampak sudah mulai lancar tanpa memperdulikan keberadaan Kaivan dan Amara.


Namun Roy terkejut saat mobil Kaivan berada pada jarak yang cukup dekat dengan mobilnya.


"astaga, apa dia nggak tau lagi ngadepin siapa?" Roy tersenyum sinis seraya menginjak pedal gas.


Seketika mobil Roy melaju dengan cepat meninggalkan mobil Kaivan, hal itu membuat Kaivan semakin merasa tertantang, ia juga segera menginjak pedal gasnya menyusul mobil Roy.

__ADS_1


Roy dan Kaivan saling menyusul, mereka sama-sama saling beradu kecepatan hingga akhirnya Roy yang memahami jalanan tersebut pun memiliki ide agar terbebas dari Kaivan yang sangat menyebalkan baginya.


Roy masih memimpin ketika hendak mendekati lampu merah, Roy menatap dengan tajam pada angka di dekat rambu tersebut.


Roy terus menginjak pedal gasnya, ia menyalip beberapa kendaraan yang menghalangi jalannya, tak peduli berapa kali ia mendapatkan umpatan.


Hingga sebuah teriakan terdengar di dalam mobil Roy tepat pada saat ia berhasil melewati tiang rambu lalu lintas karena setelah itu lampu berwarna merah pun menyala dan membuat Kaivan tidak bisa mengejarnya kembali.


"wouh.. makan tuh lampu merah, kejar gue kalo lo bisa!" teriak Roy di dalam mobilnya.


Dulu saat masih kuliah, Roy sering ikut balapan dengan kawan-kawannya dan ia selalu menjadi pemenangnya hingga di dekati banyak gadis, tetapi diantara mereka tidak ada satupun yang menarik perhatian Roy dan akhirnya hingga sekarang ia masih sendiri di tambah dengan kesibukannya yang membuat ia tidak mau menjalin hubungan jika akhirnya membuat pasangannya tetap merasa kesepian karena Roy yang selalu sibuk bekerja.


Laju mobil Kaivan yang tertahan oleh lampu merah pun membuatnya merasa kesal, ia menghentakkan kaki nya seraya berkata. "Sialan, ternyata dia hebat juga!"


Ucapan Kaivan menggelitik Amara untuk menjawabnya kesal melepaskan sabuk pengamannya dengan kasar kemudian menatap wajah Kaivan penuh marah karema telah membuang-buang waktunya.


"Memangnya dia siapa? bukankah saat SMA dia anak yang biasa saja." Kaivan degan sombongnya meremehkan seseorang yang di anggapnya bukan apa-apa saat berada di sekolah yang sama dengannya dulu.


Memang saat SMA dulu Roy adalah anak yang tidak terlalu memiliki banyak kelebihan, ia hanya menjadi teman dekat Ravendra dam tidak pernah terlihat membuat onar.


"dia di juluki devil of street karena ia tak pernah kalah saat ikut balapan," ucap Amara yang pernah satu Universitas dengan Roy.


Mendengar kenyataan yang baru di ketahui nya membuat Kaivan tercengang, ia menatap Amara dengan tajam.


"Kenapa kamu gak ngomong dari tadi?" "Kau yang tidak bertanya sebelum bertindak!" Amara memutar bola matanya malas.

__ADS_1


Di lokasi berbeda, Roy tengah menertawakan Kaivan yang sudah tidak terlihat olehnya. "Makanya lo jangan suka rendahkan orang!" Senyuman sinis tersungging di bibir Roy saat menatap kaca spionnya.


Perjalanan menuju kediaman Wardhana pun tanpa terasa ia lalui begitu cepat, kini ia telah sampai di depan pintu rumah yang selalu terbuka untuk nya.


Kedatangannya di sambut begitu hangat oleh kedua orang tua Ravendra karena mereka telah menganggap Roy sebagai bagian dari keluarga Wardhana, mengingat kedekatannya dengan Ravendra dan juga orang tua Roy yang sempat menitipkannya kepada pak Arif sebelum mengalami sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa keduanya.


Dari kejauhan pula tampak seorang gadis yang memperhatikan setiap gerak-gerik Roy dengan senyuman manisnya karena ia sudah lama mengagumi sosok Roy yang humoris serta wajahnya yang rupawan.


"bagaimana kabar Ravendra?" tanya bu Felicia.


"oh dia baik-baik saja, malah saat ini ia sudah semakin dekat dengan gadis itu!" jelas Roy.


"baguslah kalau begitu, berarti rencana kita berjalan dengan lancar!" sahut pak Arif.


Ibu Felicia sedikit bernapas lega saat mendengar kabar dari Roy, tetapi ia masih merasa khawatir saat mengingat anak semata wayangnya.


Ibu Felicia teringat akan kejadian di masa lalu saat kehilangan anak pertamanya setelah ia mendengar kabar jika pelaku yang telah menghilangkan nyawa anaknya itu akan segera keluar dari tahanan. Pandangan Roy dan pak Arif tertuju kepada bu Felicia, seketika mereka berdua menghentikan pembicaraan dan beralih kepada bu Felicia.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Pak Arif mengusap pundak bu Felicia dengan lembut.


"aku dengar, sebentar lagi dia akan bebas dari penjara. aku khawatir jika ia kembali mengincar nyawa anak kita lagi!" ucap bu Felicia dengan tetesan air mata yang keluar dari matanya.


Pak Arif tidak rela jika melihat wanita yang paling di cintainya meneteskan air mata, dengan tegasnya ia menguatkan hati bu Felicia. Pak Arif membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan membelai lembut rambut bu Felicia. "Kau tak perlu khawatir, akan aku pastikan anak kita akan baik-baik saja!"


"bagaimana jika Ravendra saya ajarkan bela diri untuk berjaga-jaga jika ada suatu hal yang tidak kita inginkan!" ucap Roy memberi saran.

__ADS_1


"aku juga ingin menyarankan seperti itu, tetapi aki tidak yakin dengan tubuh Ravendra yang begitu lemah, apalagi ia juga takut melihat darah walaupun darahnya sendiri!" sahut pak Arif dengan wajah bingungnya.


__ADS_2