When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 35: Mencari Kebenaran


__ADS_3

Ravendra terus memikirkan gadis kecil yang selalu bisa membuatnya tersenyum. Ia lebih banyak diam baik di sekolah maupun di rumahnya.


"Kapan kau kembali, Salsa!" ucap Ravendra menatap foto dirinya bersama gadis kecil itu.


Hari-harinya kembali terasa sepi saat ia harus kehilangan orang yang selalu menghangatkan suasana hatinya, membuat Ravendra terus merenung. Ia sering mengalami kesulitan untuk tidur, hingga ia kesal pada tubuhnya sendiri. Tanpa di sadari, ia mencengkram tangannya sendiri dengan satu tangannya.


Ravendra terkejut kala melihat tangannya yang meninggalkan bercak merah, awalnya ia merasa itu hal wajar tetapi lama kelamaan ia mencoba membuat sebuah huruf di tangannya dan ternyata huruf itu terlihat sangat jelas seperti ia tengah menulis di sebuah kertas tetapi media yang di gunakan saat ini adalah tangannya sendiri, bukanlah kertas.


Sejak saat itu Ravendra semakin murung dan mengasingkan dirinya dari lingkungan pertemanan, ia merasa malu jika ada orang yang mengetahui penyakit yang di deritanya. Sejak saat itu juga ia membatasi jarak dengan orang lain dan selalu menjaga kebersihannya agar tidak ada yang melihat perubahan pada kulitnya saat tersentuh.


Alindya mendengarkan cerita Radit hingga meneteskan air mata karena melihat wajah Radit yang menahan kesedihannya saat mengingat kejadian lima belas tahun yang lalu.


"udahlah, sekarang saatnya lo kerja! gak usah sedih lagi, kakak lo udah tenang di alam sana." ucap Alindya bangun dari duduknya.


Radit pun kembali fokus pada pekerjaannya mendengarkan kata-kata Alindya yang memang ada benarnya juga, kini Rafael sudah tenang di alam sana.


Radit memutuskan untuk tidak lagi mengajari Alindya membuat kue karena tangannya yang masih terluka karena terkena pisau beberapa saat yang lalu.


"Kau lain kali saja belajarnya, sekarang pergilah! Biar saya melanjutkan pekerjaan dengan tenang!" ucap Radit tampak ketus agar Alindya pergi beristirahat di ruangannya.


Alindya pun meninggalkan dapur dengan rasa kecewa, sebenarnya ia ingin belajar membuat kue agar jika suatu hari nanti Radit tidak lagi bekerja di kafenya bisa ia gantikan posisi Radit, karena ia merasa Radit tidak akan lama bekerja di kafenya.


Dalam ruangannya, Alindya tampak memainkan ponsel pintarnya. Di lihatnya sosial media milik Kaivan mengunggah sebuah foto cincin berlian yang begitu cantik, hal itu membuat Alindya merasa berbunga-bunga. Alindya berpikir jika Kaivan akan segera melamarnya dengan memberikan cincin tersebut, walau sudah lama Kaivan tidak menghubunginya.


"Wah, kayaknya dia mau ngasih gue kejutan!" seru Alindya kegirangan.


Di saat yang bersamaan, terlihat Amara tengah memainkan ponsel milik Kaivan secara diam-diam. Ia membuka sosial media Kaivan dan mengunggah sebuah foto berlian yang baru saja ia beli bersama Kaivan.


"Kayaknya ini bakalan seru deh!" ucap Amara tersenyum memegangi ponsel Kaivan.

__ADS_1


Sebelumnya Amara dan Kaivan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, Amara merengek meminta Kaivan untuk membelikannya sebuah cincin berlian yang telah lama di inginkannya.


Kebetulan pada saat yang sama, Roy juga tengah berada di pusat perbelanjaan dimana tempat mereka berada. Roy mengikuti kemana mereka pergi dan tanpa sengaja mendengar jika malam nanti Kaivan mengajak Amara untuk makan malam.


Roy yang mengetahui jika Kaivan adalah kekasih Alindya merasa harus memberitahukan kepada Ravendra agar segera memberitahukan bahwa Kaivan adalah orang yang tidak baik bagi Alindya.


Roy mengirimkan pesan kepada Radit jika ia mendapatkan informasi bahwa Kaivan akan menemui Amara di sebuah restoran terkenal di kota itu.


"Ajak Alindya biar dia tahu kelakuan pacar yang selalu di tunggunya!" ucap Roy.


Radit merasa ragu, ia tidak tega melihat Alindya yang harus menyaksikan kemesraan kekasih yang selalu di belanya. Tetapi Radit lebih tidak tega lagi jika perasaan Alindya terus menerus di gantung oleh Kaivan.


"Sepertinya saya harus memberitahunya sekarang juga!" gumam Radit.


Tanpa berpikir panjang, Radit bergegas menuju ruangan Alindya. Belum juga ia sampai, terlihat Alindya tengah tersenyum berjalan menuju tempat yang biasanya ia gunakan untuk memandangi gedung perkantoran milik Kaivan.


"Sepertinya dia sedang bahagia." ucap Radit berjalan menghampiri Alindya.


"Alindya, apakah nanti malam kau ada acara?" tanya Radit berdiri di samping Alindya.


"hmm.. Sepertinya tidak ada!" ucap Alindya menatap ponselnya.


"Kamu di sini sedang menunggu pacar mu, kan?" tanya Radit lagi.


"Ya, nggak juga sih. Gue cuma pengen duduk di sini ajah!" ucap Alindya menatap ke sembarang arah.


"Malam nanti ikut saya, akan saya beri tahu dimana pacar yang selalu kamu banggakan itu berada!" ucap Radit kesal lalu meninggalkan Alindya.


Radit merasa kesal saat mengingat wajah Kaivan yang telah merebut kekasihnya padahal ia sudah memiliki kekasih yang jelas-jelas selalu setia menanti kabar darinya, membuat Radit merasa tidak tega melihat Alindya.

__ADS_1


Malam harinya setelah kafe tutup, Alindya dan Radit bersiap menuju restoran tempat dimana Kaivan dan Amara berada.


"Biar saya saja yang menyetir!" ucap Radit meminta kunci mobil Alindya.


"Lo yakin bisa nyetir?" tanya Alindya mengernyitkan dahi.


"Bisa, dulu saya pernah menjadi sopir pribadi!" ucap Radit ngasal sambil menyemprotkan hand sanitizer di telapak tangannya.


Alindya tersenyum memberikan kunci mobil kepada Radit. Mereka pun masuk ke dalam mobil, Alindya terkesan saat melihat Radit yang begitu disiplin mengenakan sabuk pengaman walau jarak kafe ke restoran cukup dekat.


Ia juga di buat terkesima oleh penampilan Radit yang lebih rapih dari biasanya dan dengan menutupi wajahnya menggunakan masker yang hanya memperlihatkan kedua mata Radit dengan tatapan yang begitu menyejukkan hati Alindya.


Merasa terus di perhatikan membuat Radit merasa tidak nyaman pada saat mengemudi, sambil menatap lurus ke jalanan, Radit sedikit mengejutkan Alindya. "Kamu tenang saja, saya sudah mahir mengemudi. tak perlu terus di lihat, saya jadi grogi!"


"Oh iya, haha." ucap Alindya tertawa canggung.


Alindya pun menatap lurus ke jalanan menahan rasa malunya karena sudah ketahuan tengah memperhatikan Radit.


Hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di restoran tempat Kaivan berada. Alindya mengikuti langkah kaki Radit yang membawanya ke sebuah meja dimana mereka bisa melihat keberadaan Kaivan.


"Coba kau lihat pria di sebelah sana? bukankah dia kekasihmu?" tanya Radit menatap ke arah pria yang tampak tersenyum kepada seseorang di hadapannya.


"Benar! dia Kaivan. tapi siapa wanita di depannya itu?" tanya Alindya penasaran.


"Astaga, kau tidak tahu dia siapa? dia model terkenal di kota ini!" ucap Radit membetulkan topi yang di pakainya.


"hehe.. gue gak suka liatin model, waktu gue terlalu sibuk! Tapi tunggu dulu, apa hubungan mereka? kenapa mereka keliatan akrab banget?" tanya Alindya dengan polosnya.


Mendengar pertanyaan Alindya membuat Radit merasa gemas, sudah jelas terlihat jika Amara tengah menggoda Kaivan dengan senyumannya tetapi Alindya masih saja tidak menyadarinya.

__ADS_1


"Astaga Alindya, mereka itu pacaran!" ucap Radit memijat keningnya.


"Apa? Pacaran?" ucap Alindya terkejut.


__ADS_2