
Alindya terus tertawa karena mendengar ucapan Radit yang mengaku jika gadis yang bersama dengan Kaivan tadi adalah mantan kekasihnya. Alindya berpikir jika Radit hanya bercanda dan ingin menghibur dirinya yang tengah bersedih setelah mengetahui kekasihnya berselingkuh.
"Gue tau, lo lagi usaha buat bikin gue gak sedih lagi! Selamat, lo berhasil buat gue tertawa sama mimpi lo yang tinggi banget. Masa cewek sekelas model terkenal kayak dia pacaran sama lo yang cuma karyawan kafe, kalo lo pemilik perusahaan ya gue percaya." ucap Alindya sambil terus tertawa.
Radit tersenyum, baru kali ini ada orang yang berani menertawakannya. Biasanya hanya Roy yang berani menertawakannya sebab mereka sudah sangat akrab bahkan sudah seperti saudara sendiri.
Sementara itu di apartemen Amara tampak Kaivan tengah memikirkan pria yang tadi bersama Alindya. Setelah keributan yang terjadi di restoran, mereka memutuskan untuk pulang karena merasa malu sudah menjadi pusat perhatian pengunjung lain.
"Sepertinya aku mengenali pria yang bersama gadis itu tadi!" ucap Amara seketika mengejutkan Kaivan.
"Siapa dia? aku juga merasa tidak asing dengan pria itu!" tanya Kaivan penasaran.
"Kenapa kau begitu ingin tau siapa pria itu? apa kau cemburu?" tanya Amara penuh selidik.
Kaivan bergegas menghampiri Amara agar kekasihnya itu tidak marah karena rasa ingin tahunya.
"Bukan begitu sayang, aku merasa ada yang aneh dengan pria yang memakai topi lengkap dengan masker memasuki restoran!" jelas Kaivan.
"Dari postur tubuhnya, aku merasa jika dia itu Ravendra. Tapi ah, tidak mungkin! bukankah dia sedang pergi ke luar negeri!" ucap Amara menatap ke balkon apartemennya.
Kaivan terdiam, kini giliran kekasihnya yang malah mengingat sang mantan. Hal itu membuat Kaivan kesal, tetapi setelah di pikir kembali ia juga merasa jika pria tersebut memang benar adalah Ravendra.
"Aku juga merasa begitu!" seru Kaivan.
Amara begitu antusias saat mendengar ucapan kekasihnya yang juga merasakan hal yang sama.
"Bagaimana kalo kita menyuruh orang untuk menyelidikinya!" ucap Amara tersenyum begitu antusias.
Dalam hati Kaivan ia merasa cemburu melihat Amara yang begitu antusias memberikan sebuah ide, tetapi di sisi lain ia yang memiliki dendam kepada Ravendra akan terus membuat Ravendra selalu dalam kesulitan.
"Baiklah, mari kita selidiki siapa pria itu sebenarnya!" seru Kaivan.
__ADS_1
Keesokan harinya...
Alindya dan Radit tampak semakin akrab. Alindya terlihat lebih bahagia saat bersama Radit, ia sudah tidak sedih lagi walaupun baru menyandang status jomblo. Bahkan tidak ada yang menyangka jika ada seorang gadis yang bisa dengan cepat melupakan kesedihannya, kebanyakan para gadis akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa melanjutkan hidupnya kembali dengan ceria.
Alindya menyadari jika ini adalah keputusan yang terbaik untuk dirinya, karena keluarganya pun sudah memperingatinya agar tidak menjalin hubungan dengan Kaivan yang berasal dari keluarga tidak baik.
Kebetulan hari ini kafe tutup, Alindya mengajak Radit untuk pergi ke taman hiburan sekedar untuk mengusir rasa penat setelah seminggu bekerja.
"Apakah kamu yakin mengajak saya ke tempat seperti ini?" tanya Radit mengernyitkan dahi.
Alindya memang sengaja mengajak Radit ke tempat yang begitu ramai, ia berniat untuk menyembuhkan rasa takut yang selama ini terus di rasakan oleh Radit. Alindya ingin menyembuhkan luka hati Radit seperti luka hatinya yang telah sembuh berkat bantuan Radit.
"Ya, gue yakin! Lo tenang ajah, nggak akan terjadi apa-apa kok. Gue cuma pengen lo kembali hidup normal, gak ngerasa takut lagi!" seru Alindya tersenyum menatap Radit.
Radit terdiam kala melihat garis lengkung senyuman di wajah Alindya, ia merasa tidak asing lagi dengan senyuman itu, padahal mereka belum lama saling kenal.
"Baiklah, ayo kita masuk!" ajak Radit dengan penuh semangat.
Tiba-tiba Radit menghentikan langkahnya saat kedua matanya menangkap sosok wanita dengan riasan tebal, rasnya ia ingin berlari dengan kencang menghindari wanita itu.
Tetapi tangan Radit segera di genggam oleh Alindya dan berbisik. "Tenanglah! semua akan baik-baik saja, hilangin rasa takut yang ada di dalam pikiran lo!"
Dalam kesadaran penuh, Radit mengikuti saran Alindya agar menghilangkan rasa takut yang memang selalu ada di dalam pikirannya. Radit memejamkan matanya sesaat untuk menghilangkan rasa takutnya, kemudian ia berjalan melewati wanita itu dengan santai.
Radit berhasil, ia sama sekali tidak memperlihatkan reaksi berlebih seperti biasanya. Alindya melompat kegirangan memegangi kedua tangan Radit. "Yee.. akhirnya lo bisa!"
Radit yang melihat Alindya begitu bahagia pun ikut tersenyum bahagia, untuk pertama kalinya ia tidak mempedulikan tatapan orang di sekelilingnya yang seolah mengatakan jika mereka pasangan yang aneh.
"Nah, sekarang kita mau naik wahana apa ya?" tanya Alindya menatap satu per satu wahana yang ada di taman hiburan tersebut.
Radit sama sekali tidak menjawab, ia hanya berpura-pura ikut mencari wahana yang di rasa akan mengasyikan karena ini adalah kali pertama ia masuk ke sebuah taman hiburan semenjak kepergian sang kakak.
__ADS_1
Dahulu Radit pergi ke taman hiburan karena kakaknya yang mengajak ketika mereka libur sekolah, itu pun harus dalam pengawasan para pengawal yang di tugaskan oleh pak Arif.
Ini benar-benar hari kebebasan bagi Radit dimana ia sudah lepas dari bayang-bayang rasa takutnya dan juga pertama kalinya ia pergi ke ruang publik.
"Bagaimana kalau kita naik itu?" tunjuk Radit pada salah satu wahana yang menunjukkan semua tengah berteriak dalam wahana tersebut.
Alindya menengok mengikuti jari telunjuk Radit yang menunjuk salah satu wahana.
"Hah, lo yakin mau naik itu?" tanya Alindya sedikit meledek.
"Yakin, ayo kita naik!" jawab Radit dengan tegas.
Kini mereka sudah siap dengan sabuk pengaman masing-masing, menunggu wahana tersebut berjalan membuat jantung Radit berdebar tetapi ia tampak tersenyum menyembunyikan rasa takutnya, bahkan ia melupakan acara bersih-bersih yang biasa ia lakukan sebelum menyentuh atau menaiki benda yang baru di temuinya.
Hingga akhirnya wahana tersebut berjalan, teriakan demi teriakan terdengar dari para pengunjung lain yang berada dalam satu wahana tersebut, tak terkecuali Alindya dan Radit. Mereka berteriak sekencang-kencangnya seolah membuang beban pikiran yang selama ini tertahan di dalam kepala mereka.
Roller Coster yang bagai kehidupan mereka kadang naik, kadang pula turun dengan sangat cepat, membuat mereka sejenak melupakan kehidupan nyata yang penuh liku hanya dengan berteriak.
Alindya dan Radit pun mencoba beberapa wahana yang terlihat banyak orang berteriak saat menaikinya, sepertinya mereka merasa tertantang saat mendengar suara teriakan pengunjung. Hingga akhirnya Radit merasa kelelahan dan meminta untuk beristirahat sejenak.
"Jantung saya rasanya ingin berlari!" ucap Radit memegangi dadanya untuk merasakan detak jantung.
Tampak raut wajah Radit yang begitu kelelahan membuat Alindya merasa cemas, ia menghampiri Radit yang tengah duduk setelah membeli sebuah air mineral.
"Minum dulu, lo gak apa-apa kan?" tanya Alindya ikut memeriksa detak jantung Radit.
Alindya terkejut saat merasakan detak jantung Radit yang sangat kencang.
"Apa gue harus panggil kak Roy?" tanya Alindya kepada Radit.
"Tidak perlu, saya bisa mengatasinya sendiri!" seru Radit.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari semenjak datang ke taman bermain, mereka sudah di awasi oleh seseorang. Ia terus memantau gerak gerik Alindya dan Radit kemana pun mereka pergi.