When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 38: Mendapat Informasi


__ADS_3

Rasa lelah tengah di rasakan oleh Radit, berulang kali jantungnya terus di pacu dengan terus menerus menaiki wahana yang memacu adrenalin nya.


"Gue anterin lo pulang sekarang, ya!" ajak Alindya merasa cemas.


Alindya dan Radit pun meninggalkan taman hiburan, begitu pula dengan penguntit yang selalu mengikuti kemana pun mereka pergi. Penguntit itu kini tengah mengikuti mobil Alindya yang melaju menuju rumah Radit, tak lupa ia pun melaporkan hasil kerjanya kepada sang bos.


"Hasil dari pengintaian yang saya lakukan, ternyata dia memiliki trauma terhadap wanita yang memakai riasan tebal dan dia juga sepertinya memiliki penyakit lemah jantung, semoga informasi ini dapat membantu!" ucapnya melalui sambungan telepon.


"Bagus, lanjutkan pengintaian dan cari informasi yang lebih banyak lagi!" seru sang bos.


Sesuai perintah bosnya, penguntit tersebut melanjutkan tugasnya mengikuti Radit dan Alindya hingga ke rumah Radit. Sementara sang bos tengah mengumpulkan kepingan petunjuk yang di berikan oleh anak buahnya tersebut.


"Trauma dengan wanita dengan riasan tebal? sepertinya Ravendra juga memiliki trauma saat tragedi penculikan saat ia masih kecil, dan penyakit itu? Apakah dia juga memiliki riwayat penyakit?" ucap Kaivan duduk di kursi ruang kerjanya.


Amara juga yang tengah berada di dalam ruangan yang sama terlihat duduk di sebuah sofa mendengarkan kata demi kata yang terucap dari mulut Kaivan dan memberinya petunjuk.


"Iya, aku tidak sengaja pernah mendengar pembicaraan Ravendra dengan Roy jika Ravendra memiliki penyakit lemah jantung dan membuatnya tidak boleh bekerja terlalu berat!" ucap Amara seolah menemukan berlian di tengah lumpur.


"Apa kau yakin, Amara?" tanya Kaivan berjalan menuju kekasihnya berada.


"Yah, aku sangat yakin karena dengan telinga ku sendiri aku mendengarnya!" jawab Amara dengan serius.


"Baiklah kalau begitu, kita tinggal mendapatkan bukti yang bisa di lihat oleh semua orang!" ucap Kaivan menyeringai.


Di saat yang bersamaan, Alindya telah sampai di rumah Radit.


"Kalo gitu gue balik dulu. lo istirahat, ya!" ucap Alindya kemudian pergi meninggalkan Radit yang tengah berbaring di sofa.


Merasa tidak tega melihat Radit sendirian, Alindya menghubungi Roy dan memberitahukan keadaan Radit.


Roy yang tengah menikmati hari libur di apartemen pun mau tidak mau harus datang ke rumah Radit untuk memeriksa keadaannya. Setelah menutup telepon dari Alindya, Roy berjalan gontai menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.

__ADS_1


Setibanya di rumah Radit, ia segera mencari keberadaan sang pemilik rumah yang ternyata tengah berada di dapur.


"Astaga! katanya lo sakit, kenapa ada di sini?" tanya Roy berdiri di depan pintu.


Radit tampak asyik berdiri di depan kompor dengan satu tangan memegang gagang penggorengan dan tangan satunya lagi memegang spatula, tanpa menoleh ke arah sumber suara yang tampak sedikit mencemaskannya, ia menjawab dengan santainya. "Apa orang sakit tidak boleh makan?".


Pertanyaan yang malah di jawab lagi dengan pertanyaan membuat Roy merasa kesal dan memutuskan untuk diam. Hal itu mengundang tawa Radit yang tengah memasak.


"Kenapa kau datang kesini? Bukankah ini hari libur? Seharusnya kau pergi berlibur, agar otak kau tidak di penuhi oleh pekerjaan saja!". Radit memindahkan masakannya ke atas piring.


"emang gue lagi liburan, cewek lo tuh ganggu ajah!", ucap Roy kesal.


"Cewek? saya tidak punya pacar!", jawab Radit dengan polosnya.


Roy berjalan menghampiri Radit yang tengah bersiap untuk menyantap masakannya yang baru saja matang. "Kalo bukan pacar, lalu siapa lagi dia?".


Radit menghentikan kegiatan makannya lalu menjawab dengan polosnya. "Dia pemilik kafe tempat saya bekerja!".


Mendengar ucapan Roy membuat Radit merasa tidak enak karena selama ini Roy sudah banyak membantunya untuk mendapatkan seorang gadis untuk membebaskan dirinya dari perjodohan yang di buat sang ayah.


Namun di sisi lain, ia tidak ingin terlalu mengharapkan agar Alindya mau menjadi kekasihnya karena Alindya juga baru saja putus dari Kaivan.


"kau tenang saja, saya akan membuatnya bertekuk lutut di hadapan saya!", ucap Radit berusaha meyakinkan Roy.


"Nah, gitu donk! Ini baru namanya sohib gue yang penuh semangat!". Roy mengacungkan jempol tangannya kepada Radit.


Sementara Kaivan tengah berusaha menghubungi Alindya, ia merasa masih membutuhkan Alindya untuk menghancurkan Ravendra.


Berulang kali Kaivan menghubungi Alindya tetapi tidak pernah mendapatkan jawaban, hingga membuat Kaivan merasa putus asa.


"Gue coba sekali lagi, kalo gak di angkat gue coba lagi nanti!". Kaivan kembali menekan nomor ponsel Alindya.

__ADS_1


Merasa terganggu dengan suara telepon dari Kaivan yang terus menerus, akhirnya Alindya mengangkatnya dengan niat memaki Kaivan agar berhenti menghubunginya lagi.


Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Alindya mendengarkan dengan seksama ucapan Kaivan yang mengatakan jika Radit sebenarnya adalah Ravendra. Memang awalnya Alindya tidak mempercayai ucapan Kaivan karena sudah mengkhianatinya.


"Udah deh lo gak usah ngada-ngada! gue tau lo punya maksud lain kan?".


Alindya mengira jika Kaivan ingin kembali lagi kepadanya dengan menggunakan Ravendra sebagai pengalih perhatiannya, tetapi dugaan Alindya ternyata salah.


"Si Ravendra itu deketin kamu, pake nyamar segala tuh semata-mata cuma mau buat kamu akhirnya ngerasa sakit hati! Dia kan seneng kalo liat orang lain menderita, apalagi kamu orang yang pernah buat dia malu di depan banyak orang!".


Mendengar hasutan Kaivan membuat Alindya merasa kesal kepada Radit, di tambah lagi dengan kiriman video percakapan antara Radit dengan Roy yang di kirimkan oleh Kaivan membuat Alindya semakin percaya kepadanya.


"Makasih buat infonya!". Alindya dengan kesal segera menutup teleponnya.


"Sama-sama!". Kaivan meletakkan ponselnya di atas meja, ia tampak senang mendengar Alindya yang kesal.


Amara yang sedari tadi mendengarkan percakapan Kaivan ikut merasa senang karena ia juga sangat mendukung kekasihnya untuk menghancurkan Ravendra.


"Sepertinya sebentar lagi kita akan melihat tuan muda itu merasa hancur!". Amara tersenyum mengusap bahu Kaivan dengan lembut.


Alindya yang tengah merasa kesal mengambil kunci mobilnya dengan kasar dan bergegas menuju rumah Lisa tanpa menghiraukan anggota keluarganya yang sedang berkumpul di ruang keluarga.


"tante Alin kenapa ma? kok gak ngomong apa-apa", tanya Rasya dengan polosnya.


"Mama juga nggak tau, sayang! mungkin tante Alin lagi buru-buru". Alice menatap punggung Alindya yang perlahan menghilang.


Alindya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia begitu kesal kepada Radit yang telah membohonginya dengan penyamarannya.


"Gila, bisa-bisanya gue ketipu sama cowok aneh kayak dia!". Alindya memukuli kemudi mobilnya cukup keras.


Tak lama Alindya sampai di rumah Lisa, ia berniat menceritakan semua informasi yang telah di berikan oleh Kaivan.

__ADS_1


__ADS_2