When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 42: Kesalahan yang Terungkap


__ADS_3

Ravendra meningkatkan kewaspadaannya saat melihat empat pria berbadan besar yang menghampirinya.


"Siapa yang menyuruh kalian?". Tanya Ravendra perlahan berjalan mundur.


"Ikutlah dengan kami agar kau tahu siapa yang menyuruh kami!", ucap salah satu pria berbadan besar itu.


Melihat ada kesempatan, Ravendra pun berlari sekuat tenaga meninggalkan mereka. Sambil berlari, Ravendra mencoba untuk menghubungi Roy untuk meminta bantuan. Telepon pun tersambung, Ravendra segera bersembunyi di balik sebuah tembok yang ia rasa dapat melindunginya dari pria-pria itu.


Roy yang tengah menantikan Ravendra menghubunginya pun segera menjawab telepon. "Heh, lo kemana aja? Dari tadi gue telepon gak di angkat-angkat!". Roy tampak mengeluarkan kekesalannya terhadap Ravendra.


"Saya pergi mencari Salsa yang ternyata adalah Alindya. Saya ingin pulang, tetapi beberapa pria berbadan besar sepertinya ingin menangkap saya-". Jelas Ravendra terpotong karena ia telah di temukan oleh salah satu pria berbadan besar.


"Udah menelepon nya?". Tanya pria itu dengan senyuman yang menyeramkan.


Kedua tangan Ravendra segera di pegang oleh dua pria itu hingga membuat ponsel yang di pegangnya terjatuh, tetapi masih tersambung dengan Roy.


"Halo, Ravendra! Lo dimana?". Teriak Roy dari balik teleponnya.


Tak lama kemudian panggilan pun terputus setelah terdengar suara tawa dari beberapa pria berbadan besar tadi.


"Astaga, gimana ini? Dia gak bisa berantem, kan?". Ucap Roy panik mencoba menghubungi Ravendra kembali, tetapi tidak mendapatkan jawaban.


Satu pukulan mendarat di wajah Ravendra yang tubuhnya tidak bisa bergerak karena di kunci oleh dua pria itu.


"Itu hadiah dari kami karena sudah mencoba lari dari kami!". Ucap pria yang memukul Ravendra sambil tertawa bersama teman-temannya.


"Heh, badan besar tapi beraninya keroyokan! Apa kalian tidak malu dengan badan kalian?". Ucap Ravendra tersenyum sinis.


Ravendra tidak mau babak belur di hajar oleh mereka tanpa perlawanan, setidaknya ia berusaha untuk membela dirinya walau tidak begitu pandai berkelahi.


Kedua pria tersebut seketika melepaskan tangan Ravendra saat mendengar ejekan tersebut. Mereka malah merasa senang seakan menemukan mainan baru saat melihat Ravendra yang secara tidak langsung menantang mereka.

__ADS_1


"Mari kita bermain sebentar, bos juga membolehkan kita melukainya jika dia melawan!". Ucap salah satu pria itu kepada rekan-rekannya.


Seketika itu mereka berdiri dengan posisi seperti membuat kurungan yang mengitari Ravendra agar membuatnya tidak bisa melarikan diri lagi dari mereka.


"Hiyaaa….", teriak Ravendra memulai pertarungannya satu lawan satu dengan pria yang badannya lebih besar dari dirinya itu.


Seakan pukulan Ravendra tidak terasa oleh mereka, hanya Ravendra saja yang merasakan sakit di tangannya, tetapi Ravendra tidak menyerah begitu saja. Ia terus melawan para penjahat itu dengan ilmi yang sempat di pelajari nya dari Alindya beberapa minggu yang lalu.


Namun, serangan mereka yang bertubi-tubi membuat Ravendra merasa kelelahan. Wajah yang penuh luka membuat pandangannya semakin kabur, sejenak ia terdiam untuk sekedar menghela napas panjang.


"Apa ini akhir bagi saya? Tidak, saya harus bisa bertemu dengan Alindya walau hanya beberapa menit saja!", ucap Ravendra dalam hatinya.


Kemudian tanpa di sadari oleh Ravendra, pria yang berdiri di belakangnya memukul pundaknya dengan keras hingga membuat Ravendra terjatuh.


"Alin...", ucap Ravendra lirih kemudian matanya terpejam.


"Cepat bawa dia, kalo kita berlama-lama meladeninya, bisa-bisa dia mati sebelum bertemu dengan bos!". Ucap pria tersebut kemudian membawa tubuh Ravendra menuju mobil mereka.


Alindya mencoba tidak terlalu memikirkan perasaannya terlebih dahulu karena ada hal yang ingin ia tanyakan kepada sang ayah.


"Ayah, aku mau tanya. Kenapa dulu ayah bilang Kaivan adalah anak yang tidak baik?". Tanya Alindya penasaran.


Pak Bagaskara dengan tenangnya berusaha menjelaskan semua yang telah terjadi di masa lalu kepada Alindya seraya memegang tangan Alindya berharap anaknya itu bisa menerima kenyataan dengan tenang juga.


"Kaivan adalah anak dari Karina, mantan kekasih Arif Wardhana saat kami di bangku sekolah menengah. Dia tidak rela melihat Arif berbahagia bersama Felicia yang telah di karunia dua orang anak laki-laki, ia terbukti merencanakan penculikan terhadap dua anak tersebut, Rafael dan Ravendra". Jelas pak Bagaskara membuat Alindya terdiam sejenak.


Alindya teringat dengan cerita Ravendra yang kehilangan kakaknya hingga membuat rasa trauma selama hidupnya.


"Dan Karina menginginkan Ravendra meninggal karena wajahnya mirip sekali dengan nyonya Felicia, tetapi saat ingin membunuhnya, Rafael melindungi Ravendra?". Tanya Alindya hendak menyamakan cerita yang di dengarnya dari Ravendra di waktu itu.


Pak Bagaskara terkejut mendengar ucapan yang akan di katakan nya malah di dahului oleh Alindya.

__ADS_1


"Dari mana kau tahu?". Tanya pak Bagaskara.


"Jadi, teman masa kecil ku dulu adalah Ravendra, bukan Kaivan!". Ucap Alindya menatap lurus ke depan.


Tiba-tiba Alindya merasakan sakit kepala yang cukup hebat membuat seluruh anggota keluarga panik melihat Alindya kesakitan.


"Ayah bagaimana ini? Alindya masih merasa sakit saat mendengar cerita masa kecilnya walaupun ia sudah dewasa!". Ucap Alice memeluk Alindya.


Pak Bagaskara mencoba menghubungi dokter, tetapi di cegah oleh Alindya. "Tidak ayah! Aku baik-baik saja. Aku harus bisa menghentikan rasa sakit ini sendiri dengan mengingat semua kebenarannya! Aku tidak ingin terus-menerus lari dari masa lalu yang aku sendiri ingin mengetahuinya".


Selama ini Alindya juga diam-diam mencari teman masa kecilnya karena orangtuanya tidak berani menceritakan kepadanya, mereka takut jika Alindya terus merasa sakit.


Pada akhirnya ia bertemu dengan Kaivan yang mengaku sebagai teman di masa kecilnya hingga Alindya terus menempel dengan Kaivan seperti janjinya dulu di waktu kecil kepada Ravendra.


Alindya menangis, menyesali kebodohannya yang begitu mempercayai Kaivan, sedangkan saat ini ia malah membuat Ravendra pergi.


"Aku harus bertemu dengan kak Ravendra!". Alindya meraih ponselnya mencari nomor telepon Ravendra.


Rasa sakit di kepalanya seolah hilang begitu saja, Alindya mencoba menghubungi Ravendra tetapi sama sekali tidak mendapat jawaban hingga akhirnya ia mencoba menghubungi Roy untuk mencari tahu keberadaan Ravendra.


"Halo, kak Roy? Syukurlah gue bisa hubungi kakak, gue nyoba hubungi kak Ravendra tapi gak di angkat. Apa kakak tau di-". Alindya belum selesai berbicara tiba-tiba Roy memotong ucapannya.


"Ravendra lagi dalam bahaya, gue juga lagi nyoba melacak lokasinya! Nanti gue kasih tau lo kalo udah ketemu lokasinya!". Jelas Roy yang tengah menatap layar komputer.


"Kakak dimana? Gue mau ke sana, biar kita cari bareng-bareng!". Tanya Alindya.


Awalnya Roy tidak mengizinkan Alindya untuk ikut mencari Ravendra, tetapi karena Alindya terus memaksa akhirnya berhasil membuat Roy mengizinkan Alindya untuk datang ke tempatnya berada.


Alindya bersiap untuk pergi ke tempat Roy berada.


"Kamu hati-hati ya, nak! Kalo ada apa-apa langsung hubungi kami!". Ucap bu Arumi membelai rambut Alindya dengan tatapan sayu.

__ADS_1


"Baik, bu! Doakan Alindya biar bisa bawa kak Ravendra pulang!". Alindya tersenyum menatap wajah sang ibu.


__ADS_2