
Waktu makan siang telah usai, Roy bergegas kembali menuju kantor karena pak Arif telah menghubunginya agar segera kembali.
Roy bangkit dari tempat duduknya dan menepuk pundak Ravendra. "Oke, kayak nya gue udah harus pergi kerja lagi! lo cepetan sehat, gak usah mikirin cewek mulu. masih ada gadis pilihan papa lo yang belum lo temuin kan? Siapa tau tuh cewek cakep, bro! kalo lo gak mau, kabarin gue ya!". Bisik Roy kemudian berjalan meninggalkan Ravendra.
"ya, atur saja sesuka hatimu!", teriak Ravendra membuat Roy tertawa di tengah perjalanan nya kedalam rumah.
Dengan wajah yang telah di bersihkannya, Roy kembali menuju kantor ia bahkan melupakan makan siang nya karena terlalu sibuk dalam bekerja.
Hal tak terduga pun terjadi saat Roy hendak membuka pintu mobilnya, terlihat Feby berlari kecil yang tampak begitu manja menghampiri Roy dan memberikan kotak makan siang kepadanya.
"Ini buat mas Roy, pasti mas Roy belum sempet makan siang kan?". Feby menyodorkan sebuah kotak berwarna merah kepada Roy.
Merasa tidak enak karena tadi Roy sempat menyuruh Feby yang tengah mengobati lukanya itu pergi, akhirnya menerima kotak makan siang dari Feby sambil melengkungkan senyumnya Roy berterima kasih kepada Feby kemudian segera memasuki mobilnya.
Sesampainya di kantor, pak Arif di kejutkan dengan wajah lebam Roy.
"Apa yang terjadi pada wajahmu?". Pak Arif mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Roy.
Dengan tenang, Roy menjelaskan semua yang telah terjadi kepada pak Arif.
Setelah mendengar jika kekasih Ravendra berselingkuh membuat pak Arif semakin kesal.
"seperti sekarang sudah saatnya rencana ku di mulai!", seru pak Arif.
Akhirnya pak Arif mejelaskan kepada Roy tentang rencananya yang sudah lama ia buat agar Ravendra dan Amara bisa terpisahkan. Walau memang sepertinya Amara sudah ingin menjauhi Ravendra karena sudah tidak bisa memberinya uang lagi.
Skenario besar yang sudah lama di susun oleh pak Arif akan segera di mainkan dengan bantuan Roy, pak Arif sedikit bisa bernapas lega.
"Sekarang kau pergi makan dulu, pasti sejak tadi kau belum sempat makan!". Pak Arif meminta Roy untuk makan siang karena melihat Roy yang membawa sebuah kotak makan.
__ADS_1
"Terima kasih, pak! saya permisi". Roy membuka pintu keluar dari ruangan pak Arif.
Dengan rasa gembira Roy memasuki ruangannya untuk menyantap makan siang pemberian Feby tadi. Perlahan ia membuka kotak berwarna merah itu dan di lihatnya menu yang sederhana.
"Ayam bakar? wah aroma bumbunya menggugah selera makan gue nih". Roy segera bangkit untuk mencuci tangan terlebih dahulu.
Saat tangan nya terasa sudah bersih, ia segera menyantap makanan nya.
"Hmm.. enak! apa dia masak ini sendiri?". Roy begitu menikmati makan siangnya sampai ia menyesap bumbu yang menempel di jari tangannya.
Sementara itu di ruangan pribadi kafe Al, tampak Alindya tengah menangisi sikap Kaivan yang berubah terhadapnya. Rasa ingin mengakhiri hubungan pun semakin besar, tetapi Alindya tidak pernah menginginkan perpisaahan itu terjadi di antara mereka, ia masih memiliki keyakinan untuk mempertahankan hubungannya walau hanya ia sendiri yang berusaha keras.
Alindya duduk termenung sendirian menatap ke luar lewat jendela besar di ruangannya, rasa hampa menyelimutinya, hanya deraian air mata yang setia menemani kehampaan hatinya.
Sempat terpikir olehnya ucapan sang ayah yang mengatakan jika Kaivan bukanlah berasal dari keluarga baik-baik, dalam hati kecilnya ia mempercayai sang ayah tetapi ia tetap membela kekasihnya walaupun sering tersakiti.
Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, Alindya memutuskan untuk pergi ke dapur. Walau ia tidak pandai memasak ataupun membuat kue, di dalam hatinya ada rasa ingin tahu tentang dunia memasak.
Di usianya yang tidak muda lagi pak Rudy tidak ingin pensiun karena kecintaan nya terhadap pekerjaan nya, sejak usia beliau masih muda sudah bekerja di berbagai kafe dan restoran, hal itu membuatnya tidak ingin pensiun dan hanya diam saja di rumah.
"Halo, pak Rudy! ajarin aku dong bikin brownis". Alindya menghampiri pak Rudy dengan apron yang sudah di pakainya.
"Boleh, non! tapi hati-hati ya!". Pak Rudy memberikan mamgkuk ukuran besar kepada Alindya.
Pak Rudy sudah hafal betul kebiasaan Alindya yang selalu terburu-buru dan ceroboh itu, makanya ia memperingatkan nya dari awal.
"Siap, pak Rudy!". Alindya mengacungkan jari jempol nya dengan wajah riang. "pak Rudy kan udah harus pensiun, aku mau belajar dulu sama pak Rudy. biar nanti kalo nunggu pengganti pak Rudy bisa aku yang gantiin!", tambah Alindya.
Langkah pertama yang di ajarkan pak Rudy adalah memcahkan beberapa butir telur dan di masukan nya ke dalam mangkuk besar. Terdengar sepele memang, tetapi bukan Alindya namanya kalau tidak ceroboh, ia tidak sengaja menjatuhkan telur beserta cangkang nya ke dalam mangkuk besar untuk di kocok ada pula telur yang pecah dan berserakan di lantai.
__ADS_1
"Aduh maaf, pak! jadi pada berantakan". Alindya berusaha mengeluarkan cangkang telur yang masuk di tengah-tengah telur yang di pecahkan nya ke dalam mangkuk.
Setelah semua telur di pecahkan, Alindya membawa mangkuk besar itu menuju mixer besar yang berada di meja sebelahnya.
Saat berjalan membawa mangkuk berisikan delapan butir telur, Alindya tidak sengaja menginjak telur yang jatuh ke lantai tadi. Kaki yang terasa licin membuatnya kesulitan menyeimbangkan diri dan pada akhirnya mangkuk yang berisi delapan butir telur itu mendarat di atas kepalanya.
"Aaah...!". Teriak Alindya ketika tubuhnya di penuhi dengan telur.
Pak Rudy yang merasa bersalah telah membiarkan Alindya masuk ke dapur pun membantunya untuk berdiri dengan memegang satu tangan Alindya.
Tetapi karena lantai yang semakin licin, Alindya masih kesulitan untuk menyeimbangkan diri dan dengan spontan tangan satunya malah meraih mangkuk besar yang berisikan tepung terigu, tanpa menunggu lama lagi isi mangkuk itu berjatuhan di badan Alindya.
Kini seluruh tubuh Alindya tertutupi tepung yang melekat pada telur yang lebih dulu jatuh dan membuatnya tampak seperti udang goreng tepung.
Alindya membersihkan area matanya dari tepung terigu agar bisa melihat dengan jelas keadaan di sekitarnya.
"Maafkan saya, non!". Pak Rudy menatap Alindya yang tengah menunduk membersihkan matanya.
"Tidak apa-apa, pak! ini bukan salah bapa". Alindya menatap wajah sayu pak Rudy.
Mendengar teriakan Alindya membuat para karyawan mendatangi dapur untuk membantu sang bos yang kesulitan berdiri, sebagian dari mereka segera membersihkan kerusuhan yang di buat Alindya dan sebagian lagi membantu Alindya menuju kamar mandi.
Melihat Alindya yang di papah oleh beberapa karyawan menuju kamar mandi, membuat pak Rudy menggelengkan kepalanya. "Bagaimana mau gantiin saya, non! baru pecahin telor aja udah bikin gaduh satu kafe".
Lisa yang baru sampai terkejut melihat keadaan Alindya yang sudah tampak seperti adonan. "Ya ampun, Lin. perasaan ulang tahun lo masih lama, kok badan lo udah penuh tepung gini sih, mana bau amis lagi!". Lisa mengibaskan tangannya di depan hidung agar menghilangkan bau amis dari hadapannya.
"berisik lo. temen lagi kesusahan gini bukan nya di tolongin malah ngeledek. minggir lo, gue mau mandi!", seru Alindya.
Lisa hanya tertawa melihat Alindya yang berubah menjadi manusia tepung terigu, ia cukup merasa terhibur memiliki sahabat ceroboh macam Alindya yang selalu bisa mengocok perut nya.
__ADS_1
Tiba-tiba Lisa teringat akan janji pertemuan Alindya dengan Kaivan. "Tadi si kampret jadi dateng ke sini ngga ya?". Lisa masih berdiri di depan kamar mandi menantikan Alindya yang tengah membersihkan diri.