
Di sebuah rumah tampak seorang wanita paruh baya tengah duduk santai dengan raut wajah yang begitu bahagia seraya menyesap sebatang rokok yang di pegangnya.
"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu secara langsung dengan anak itu!". Ucap Karina tersenyum sinis.
"Hmm sabar lah sedikit, mam! Aku belum mendapat kabar dari orang-orang itu". Jawab Kaivan sambil memainkan ponselnya.
Beberapa bulan yang lalu, Karina telah keluar dari jeruji besi setelah menyelesaikan hukumannya. Walau telah menjalani hukuman, tampaknya ia tidak merasa jera, ia masih menginginkan Ravendra untuk menyusul Rafael.
Tak lama kemudian, Kaivan menerima kabar jika Ravendra telah berhasil di tangkap dan kini berada di sebuah gudang dimana tempat yang telah di tentukan oleh Kaivan.
"Kerja bagus! Ikat dia, jangan biarkan dia bisa kembali melarikan diri!". Ucap Kaivan dari balik telepon.
Entah apa yang telah Karina katakan kepada Kaivan hingga membuatnya merasa begitu membenci Ravendra, sama seperti Karina yang membenci keluarga Wardhana.
Karina tampak gembira mendengar kabar tertangkapnya Ravendra, ia segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumahnya.
Kaivan pun mengikuti perintah sang ibu untuk melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di sebuah gedung yang sudah tidak terpakai.
"Aku sudah tidak sabar ingin bermain di sisa waktu bocah itu!". Ucap Karina tertawa lepas.
Sementara Alindya dan Roy telah berhasil menemukan lokasi ponsel Ravendra, dini hari itu pun mereka berangkat menuju lokasi.
"Lo nggak usah ikut, biar gue ajah sama mereka yang nyari Ravendra!". Ucap Roy menunjuk beberapa pengawal dari keluarga Wardhana.
"Iya, nak Alindya! Ini terlalu berbahaya untuk seorang anak perempuan". Ucap Felicia mencegah Alindya yang ingin ikut dengan Roy.
"Nggak, tante! Aku harus ikut, aku harus selametin kak Ravendra, aku gak mau kehilangan dia lagi". Ucap Alindya tampak begitu yakin.
Pada akhirnya Alindya di bolehkan ikut untuk mencari keberadaan Ravendra. Alindya dan Roy berada dalam mobil yang sama dan di ikuti oleh sebuah mobil yang berisi para pengawal.
__ADS_1
Mereka mempersingkat waktu perjalanan yang harusnya empat jam menjadi dua jam karena di dukung oleh kondisi jalanan yang tampak lengang.
"Lokasi terakhir ponsel Ravendra berada di sini!". Ucap Roy menunjuk sebuah gang kecil tempat Ravendra bersembunyi dari kejaran para penjahat.
Alindya menatap sekeliling yang tampak begitu sepi, tidak terlihat satu orang pun berada di sana. Saat tengah memperhatikan area sekitar, Alindya tiba-tiba berlari menuju sebuah benda pipih berwarna hitam yang tergeletak di tanah.
"Ini, bukankah ponsel kak Ravendra yang di pakai saat bekerja di kafe". Tanya Alindya menyodorkan sebuah ponsel kepada Roy, matanya tampak sayu seakan memikirkan hal buruk apa yang telah terjadi kepada Ravendra
"Iya benar, dia masih belum mengganti ponselnya!". Ucap Roy mengambil ponsel dari tangan Alindya.
Raut wajah Alindya semakin sayu, ia kembali mengingat kejadian saat Ravendra pergi dari kafe karena ulahnya. Akan tetapi, sebuah senyuman terukir di wajanya saat melihat benda yang di yakininya adalah kamera pengawas.
"Hah, di sana ada kamera pengawas. Kita bisa mencari petunjuk dari sana!". Alindya tampak antusias menunjuk sebuah kamera pengawas yang terpasang di ujung jalan.
Roy pun tersenyum, seakan menemukan sedikit titik terang yang membuatnya menaruh banyak harapan. Roy segera meretas kamera pengawas di sana untuk melihat kejadian saat Ravendra tertangkap oleh para penjahat.
Alindya meneteskan air mata saat melihat dengan jelas bagaimana Ravendra melawan para penjahat itu seorang diri menggunakan sisa tenaganya. Perasaan Alindya semakin hancur saat melihat Ravendra yang terkapar di atas tanah kemudian di masukan ke dalam sebuah mobil.
Roy juga merasa bersalah karena ia melewatkan pengawasannya terhadap Ravendra dan membuat sahabatnya itu pergi sendiri hingga berada dalam bahaya. Namun, Roy yakin jika ia bisa segera menyelamatkan Ravendra dan membawanya kembali ke rumah.
Terlihat dengan jelas mobil mini bus yang membawa Ravendra menuju sebuah gedung yang telah lama terbengkalai dan jarang sekali orang-orang melintas di sana.
"Ayo, kak. Kita ke sana!". Ajak Alindya bergegas menuju mobil.
Tanpa pikir panjang, Roy dan para pengawal pun segera menuju gedung tempat Ravendra berada.
Di sebuah gedung tua, tampak Ravendra tengah duduk dalam keadaan kedua tangan yang terikat dan masih tak sadarkan diri setelah ia tertangkap oleh para penjahat.
"Hey, kau. Cepat bangun! Aku ingin mengajakmu main sebelum kau pergi menemui kakakmu!". Karina menyipratkan air ke wajah Ravendra yang penuh luka sambil tertawa.
__ADS_1
Merasa ada yang membuatnya tidak nyaman, Ravendra perlahan membuka kedua matanya. Rasa sakit sangat terasa pada seluruh tubuhnya saat pertama kali membuka mata. Ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya, ingin rasanya ia berontak tetapi tidak bisa karena tubuhnya yang semakin melemah dan kedua tangannya pun terikat.
Kedua mata Ravendra menangkap sosok pria yang tak asing lagi baginya, rival di dunia kerja dan juga di dunia asmaranya kini tengah berdiri di hadapan Ravendra dengan senyum senangnya karena melihat Ravendra yang sudah tidak berdaya.
"Kau!". Ucap Ravendra mengangkat kepalanya perlahan untuk menatap Kaivan.
"Halo, tuan muda! Sudah lama kita tidak berjumpa. Lo pikir bisa deketin Alindya setelah lo rebut Amara dari gue?". Ucap Kaivan mencengkram rahang Ravendra dengan penuh emosi.
"Saya hanya ingin menyelamatkan Alindya dari pria tidak waras seperti kau!". Seru Ravendra membuat Kaivan kesal dan menampar wajah Ravendra.
Melihat anaknya begitu emosi, Karina menghampirinya dengan senyuman nya.
"Tenanglah, nak! Jangan terburu-buru menghabisinya. Mama belum mendapatkan giliran!". Ucap Karina membelai rambut Ravendra kemudian menariknya ke belakang dengan cepat.
Suara rintihan pun terdengar dari Ravendra yang tengah merasa kesakitan.
"Apa kau sudah siap menemui kakakmu? Karena kebaikan hatiku, akan segera ku kirimkanmu ke sana!", bisik Karina di telinga Ravendra.
Ravendra merasa tidak asing dengan suara yang begitu dekat dengan telinganya, seketika ia teringat akan kejadian di masa lalunya yang membuat dirinya harus kehilangan sang kakak.
"Anda?", tanya Ravendra dengan lirih menahan sakit.
"Ya, dia adalah ibuku dan orang yang harus tinggal di dalam sel begitu lamanya karena ayahmu telah melaporkanya!", bisik Kaivan.
"Memang sudah sepantasnya dia mendapat hukuman karena sudah menghilangkan nyawa kakak saya!". Ucap Ravendra penuh penekanan.
Mendengar ucapan Ravendra membuat emosi Kaivan kembali memuncak, ia menampar wajah Ravendra sekuat tenaganya.
"Apa aku boleh menggores wajahnya sedikit? Wajah seperti itu terlalu bagus untuk nya". Tanya Kaivan kepada Karina seraya mengeluarkan pisau kecil dari dalam sakunya.
__ADS_1
Karina menjawab dengan sebuah senyuman, seolah ia menyetujui ide Kaivan. Perlahan Kaivan mendekatkan pisau ke arah wajah Ravendra
"Tidak, jangan!". Teriak seorang wanita dari kejauhan.