When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 40: Mencari Teman Masa Kecil


__ADS_3

"Sekeras apapun saya berusaha mencari cinta sejati, jika memang Tuhan belum menghendaki maka cinta itu tidak akan saya dapatkan".


Ravendra duduk di teras rumahnya sambil menikmati secangkir teh di pagi hari itu. Tiba-tiba saja ia teringat akan sosok gadis kecil di masa lalunya yang selalu membawa keceriaan untuknya, hingga membuat dirinya semangat kembali setelah kehilangan sang kakak.


"Salsa, dimana dia sekarang?", ucap Ravendra tersenyum mengingat wajah imut Salsa.


Ravendra memutuskan untuk tidak terburu-buru untuk mendapatkan seorang pendamping hidupnya, tetapi ia juga tidak ingin secepat itu menyerah pada rencana ayahnya untuk menjodohkan dirinya.


Isi kepalanya saling bertarung membuat dirinya merasa jenuh, ia membutuhkan waktu untuk beristirahat sejenak dari segudang pikiran yang memenuhi kepalanya.


"Sepertinya saya harus pergi berlibur, sesekali saya pergi tanpa sepengetahuan orang lain. Selama ini mereka hanya memikirkan perusahaan, apa mereka juga akan memikirkan saya jika saya menghilang tiba-tiba?". Ravendra menatap ponselnya dengan senyuman yang tidak dapat di artikan.


Ravendra bersiap untuk pergi ke suatu daerah yang ia yakini adalah tempat dimana gadis di masa kecilnya itu berada.


Dengan memakai topi dan kacamata, serta ia juga menutupi wajahnya dengan masker berharap tidak akan ada orang yang mengenalinya karena ia akan menaiki kereta api untuk sampai di tempat yang ia tuju.


Semuanya tampak lancar hingga Ravendra akhirnya sudah berada di sebuah daerah yang dia yakini adalah tempat dimana Salsa berada dan sejauh ini tidak ada satu orangpun yang mengenalinya sebagai seorang pewaris tunggal perusahaan ternama di kota.


Setelah menanyakan kepada warga sekitar, akhirnya kini ia berada tepat di sebuah rumah yang tampak sejuk dan penuh kedamaian. Rumah yang bergaya klasik, tetapi masih sangat kokoh dan sama sekali tidak terlihat seperti rumah tua yang seram seperti di film-film horor walau dengan gaya bangunan tempo dulu.


Perlahan Ravendra mengetuk pintu rumah yang tampak sepi itu, tetapi ia sangat berharap jika di dalam rumah tersebut ada seseorang yang ia kenali.


"Permisi, apa benar ini rumah Nyonya Anita?". Tanya Ravendra kepada seorang wanita berusia sekitar kurang dari setengah abad menyebutkan nama nenek Salsa.


"Iya, benar. Anda siapa, ya?". Tanya ibu tersebut tampak berusaha mengingat wajah Ravendra.


"Perkenalkan nama saya Ravendra, saya datang ke sini untuk mencari Salsa. Apa benar dia ada di sini?". Ravendra melepaskan topi serta masker yang di kenakan nya kemudian ia tersenyum.


Seolah tengah memutar kembali ingatannya ke masa lalu, ibu tersebut terdiam sejenak karena faktor usia juga ia sudah mulai lambat dalam soal mengingat.

__ADS_1


Hingga akhirnya ia tersenyum seraya ingatan yang di carinya telah ia temukan dari dalam tumpukan berkas di ingatannya. Ia pun segera mempersilahkan Ravendra untuk masuk ke dalam rumah.


"Oh jadi kamu itu Ravendra anaknya pak Arif ya? Waktu kecil Salsa sering sekali menceritakan tentang kamu, hampir setiap hari walau ia terus mengulang cerita yang sama tetapi ia selalu begitu antusias saat menceritakanmu!". Jelas ibu Asha yang tidak lain adalah adik dari ayah Salsa.


"Salsa sudah lama pindah ke kota. Sejak neneknya meninggal, ia tampak murung dan kakak saya mengajaknya kembali ke kota berharap agar Salsa bisa kembali ceria seperti dulu!". Tambah bu Asha dengan wajah yang tampak sedih.


"Dia pindah ke kota? Tetapi kenapa dia tidak menemui saya lagi?". Tanya Ravendra penasaran sambil melihat foto masa kecil Salsa.


Tatapan wajah bu Asha semakin sayu mengingat kejadian di masa lalu yang menimpa keponakan dan kakaknya itu.


"Saat dalam perjalanan menuju kota, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan hingga membuat Salsa kehilangan sebagian ingatannya!". Ucap bu Asha.


Mendengar cerita tersebut membuat Ravendra begitu terkejut, kenapa ia bisa tidak mengetahui soal itu. Padahal jika saja ia tahu, pasti ia akan mendampingi Salsa selama masa pemulihan.


"Kakak saya dan ayahmu sudah merencanakan perjodohan kalian, tetapi melihat keadaan Salsa yang tidak seperti dulu membuat kakak saya ragu. Ia takut jika mempertemukan kalian kembali akan membuat Salsa merasa tertekan!".


"Kamu menginap saja di sini, nak! Di luar terlalu berbahaya untukmu!". Ucap bu Asha.


Akhirnya Ravendra menuruti ucapan bu Asha sambil ia mencari informasi yang lebih jelas tentang keberadaan Salsa yang sudah lama ingin di temuinya walau ia tahu jika Salsa tidak akan mengingatnya.


Di saat yang bersamaan, Roy tampak panik ketika mencoba menghubungi Ravendra tetapi tidak mendapatkan jawaban sama sekali setelah ia mengetahui jika Ravendra sudah pergi dari kafe sejak pagi tadi.


"Oh ya ampun, dia pergi kemana lagi?". Roy tampak mondar-mandir di depan kafe seraya memegang ponselnya mencoba menghubungi Ravendra kembali.


Melihat Roy yang tampak resah, membuat Lisa merasa penasaran akan apa yang sudah terjadi. Lisa pun meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri Roy untuk menanyakan apa yang sudah terjadi.


"apa kak Ravendra belum bisa di hubungi?", tanya Lisa membuka obrolan.


Roy menggelengkan kepalanya seraya menatap ponsel di tangannya dengan tatapan penuh keputusasaan.

__ADS_1


"Sayang sekali, jika saja Alindya tidak membohongi perasaannya sendiri pasti mereka masih terlihat baik-baik saja!". Lisa tertunduk lesu menyesali keadaan yang sudah terjadi.


"Jadi, Alindya juga menyukai Ravendra?", ucap Roy terkejut.


Lisa menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Roy.


"Lalu kemana dia sekarang?". Roy mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe.


"Dia pamit pulang duluan karena akan membicarakan soal perjodohan yang telah di buat oleh ayahnya, ia akan menyetujui perjodohan itu!". Jelas Lisa menatap lurus ke depan.


Roy terkejut, ia sangat menyayangkan ketika Alindya akan di jodohkan malah Ravendra menghilang tanpa kabar.


"Astaga. Kemana ini anak, di telepon gak di angkat terus? Bukannya usaha buat dapetin cintanya, malah kabur!". Roy kembali menekan nomor telepon Ravendra dengan kesal.


Sementara itu, Alindya sudah berada di rumahnya dan tengah mengajak keluarganya untuk berbicara serius di ruang keluarga.


"Ada apa nih, tumben banget serius?". Sindir Alice duduk di sofa dengan santainya.


Alindya duduk dengan menundukkan wajahnya di hadapan kedua orang tuanya. Ia tengah berusaha memantapkan hatinya untuk menyetujui perjodohan yang selalu di bicarakan oleh ayahnya, walau ia juga belum tahu pasti dengan siapa dirinya akan di jodohkan. Namun, ia berusaha untuk membuat orang tuanya bahagia dan sebagai rasa penyesalannya yang telah menentang ucapan ayahnya.


Alindya merasa malu, karena tidak mendengarkan ucapan ayahnya sejak dulu yang melarangnya untuk berhubungan dengan Kaivan. Setelah ia mengetahui perselingkuhan Kaivan dengan Amara membuat dirinya menyesali perbuatannya yang tidak mau mendengarkan ucapan sang ayah.


"Maafkan aku, ayah! aku sudah membantah ucapan ayah". Alindya tertunduk, ia tidak berani memperlihatkan wajahnya di hadapan sang ayah.


"Ayah sudah memaafkan kamu, nak! Jauh sebelum kamu meminta maaf, yang terpenting saat ini adalah kamu sudah tidak lagi berhubungan dengan anak itu!". Pak Bagaskara berjalan menghampiri Alindya dan membelai lembut rambut anak bungsunya itu.


"Terima kasih, ayah! Mulai saat ini aku akan mematuhi perintah ayah, aku juga bersedia untuk di jodohkan dengan anak teman ayah!". Alindya memeluk erat tubuh sang ayah.


Keluarga pak Bagaskara merasa senang mendengar Alindya yang menyetujui perjodohan itu dengan senang hati tanpa harus terus di paksa.

__ADS_1


__ADS_2