When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 39: Pergi


__ADS_3

Seperti biasa sebelum pergi ke kampus, Alindya terlebih dahulu datang ke kafe. Di lihatnya Radit tengah di sibukkan dengan bahan-bahan kue yang tampak berjejer rapi di atas meja dapur.


Alindya memantapkan langkah kakinya menghampiri Radit, ia sangat marah kepada Radit yang ternyata sudah membohonginya. Padahal Alindya begitu nyaman berteman dengan Radit yang telah membantunya untuk bangkit dari rasa pedihnya pengkhianatan yang di dapatnya dari Kaivan.


"sebenarnya apa yang lo mau?". tanya Alindya berdiri tepat di depan Radit.


Radit yang merasa terkejut akan kehadiran Alindya yang secara tiba-tiba ada di hadapannya segera menghentikan kegiatannya membuat adonan kue.


"apa maksudmu?", tanya Radit berjalan menghampiri Alindya dengan santai.


Radit selalu bertindak tenang ketika menghadapi situasi apapun, apalagi saat ia berhadapan dengan Alindya yang selalu membuat dirinya merasa nyaman.


Alindya yang merasa emosi karena terpengaruh oleh ucapan Kaivan pun melangkahkan kakinya mendekati Radit, ia berjinjit mengambil topi serta kacamata yang selalu di pakai oleh Radit sebagai penyamarannya. Kemudian Alindya mengacak-acak rambut Radit hingga terlihat jelas Ravendra tengah berdiri di hadapan Alindya.


Ravendra hanya terdiam, ia memang sudah siap jika suatu hari penyamarannya terbongkar oleh Alindya.


Melihat Ravendra yang terdiam dengan wajah teduhnya menatap ke arahnya, membuat Alindya terpesona melihat wajah Ravendra dalam jarak yang begitu dekat.


"astaga ternyata benar, dia memang sangat tampan!", ucap Alindya dalam hatinya.


Seketika Alindya menggelengkan kepala, menyadarkan lamunannya dan kembali membuat perhitungan kepada Ravendra.


"Ternyata benar, Ravendra Wardhana. apa yang di inginkan oleh seorang pewaris tunggal di sini, hah?". Alindya berjalan membelakangi Ravendra, mengalihkan perhatiannya agar tidak terlena oleh paras tampan Ravendra.


Belum sempat Ravendra menjelaskan, Alindya kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Ravendra kembali terdiam.


"apa lo mau bikin perhitungan sama gue karena udah pernah bikin lo malu di depan banyak orang?", tanya Alindya.

__ADS_1


Ravendra berjalan menghampiri Alindya dan memegang kedua Alindya, untuk mengalihkan perhatian agar tidak terus berbicara sebelum mendengar penjelasan darinya.


"Dengarkan saya dulu! saya melakukan ini semua bukanlah untuk membuat perhitungan kepadamu. Awalnya memang ini semua ide Roy agar saya bisa menghindari perjodohan yang di buat oleh ayah saya, akan tetapi lama kelamaan saya merasa nyaman dengan pekerjaan ini dan saya sama sekali tidak ada niatan seperti yang kamu tuduhkan. Tapi, jika kamu merasa tidak nyaman dengan kehadiran saya disini, saya akan pergi saat ini juga. maaf karena saya telah merusak hari-hari mu!". Ravendra melepaskan apron kemudian meletakkan nya di atas meja dapur.


Ravendra memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaan nya karena penyamarannya pun sudah terbongkar. Keputusan untuk menyerah pada perjodohan yang di buat oleh sang ayah menurutnya adalah pilihan terbaik daripada ia membuat Alindya akan semakin membencinya dengan terus berada di kafe.


Ravendra berjalan keluar ruangan dapur meninggalkan Alindya yang hanya terdiam karena ia sendiri merasa bingung dengan apa yang sudah dilakukannya.


"saya pamit, terima kasih sudah membantu saya selama di kafe ini!", ucap Ravendra saat berpapasan dengan Andra.


Melihat seorang CEO ternama keluar dari dapur tempat ia bekerja membuat Andra terkejut, ia hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Ravendra yang tampak terburu-buru untuk meninggalkan kafe sebelum lebih banyak orang lagi yang mengenalinya.


Lisa yang baru sampai di kafe terkejut saat melihat Ravendra tengah memakai helm nya dan bersiap untuk meninggalkan kafe. Lisa berlari menghampiri Ravendra dan berusaha untuk membuat Ravendra mengurungkan niatnya meninggalkan kafe.


"Tunggu.. lo mau kemana? apa Alindya udah bilang sesuatu ke lo?". Lisa berdiri di depan motor Ravendra.


"Pasti si Alin salah bertindak nih!". Lisa berjalan dengan cepat mencari keberadaan Alindya di dalam kafe.


Sebenarnya Lisa sudah lama mengetahui siapa Radit sebenarnya saat melihat perilaku Radit yang seperti begitu peduli terhadap Alindya bukan seperti anak buah terhadap bosnya. Tanpa sepengetahuan Alindya, Lisa mencari informasi sendiri tentang Radit melalui Roy. Merasa terdesak oleh Lisa, akhirnya Roy pun menceritakan jika Radit adalah Ravendra yang tengah menyamar menjadi orang biasa untuk mencari cinta sejatinya.


Roy meminta Lisa untuk merahasiakan kebenaran yang telah di sampaikan olehnya agar rencana yang telah di buat Roy berjalan dengan lancar. Untung nya Lisa bisa di percaya, karena Lisa juga tidak ingin Alindya terus di gantung oleh Kaivan akhirnya ia mendukung Ravendra agar bisa lebih dekat dengan Alindya.


Namun Kaivan datang menghancurkan segalanya, ia merasa tidak rela jika Ravendra memiliki kehidupan yang bahagia, hingga ia menghalalkan segala cara untuk membuat Ravendra selalu menderita.


Kini Alindya tampak lesu setelah membiarkan Ravendra pergi dari kafenya, sebenarnya ia tidak ingin Ravendra pergi karena ia tahu jika Ravendra adalah orang yang baik.


Semalam saat Alindya pergi ke rumah Lisa, ia mendengar semua kenyataan jika memang benar Radit adalah Ravendra yang bekerja demi menghindari perjodohan. Ravendra begitu baik kepada karyawan kafe, bahkan gajinya pun ia bagikan kepada mereka karena ia bekerja seperti melakukan hobinya membuat kue dan ia juga tidak kekurangan uang.

__ADS_1


Ravendra juga rela berbuat apa saja demi melihat Alindya agar selalu tersenyum dan bisa terlepas dari Kaivan yang terus menyiksa batinnya.


Tanpa terasa air mata Alindya menetes begitu saja mengingat Ravendra yang begitu baik kepadanya walau sebagai Radit, tetapi ia merasa jika kebaikan Ravendra kepadanya itu begitu tulus. Sebenarnya Alindya tidak ingin membuat Ravendra pergi, tetapi Alindya yang ceroboh membuatnya bertindak tanpa di pikirkan terlebih dahulu.


"Alin.." teriak Lisa menghampiri Alindya yang tengah duduk termenung di ruangannya.


Alindya hanya menoleh dengan lesu ke arah Lisa tanpa menjawab panggilan nya.


"Lo itu gimana, sih? kok malah bikin dia pergi, bukannya lo sendiri yang bilang kalo di deket dia lo ngerasa nyaman?". Lisa duduk di hadapan Alindya dan mengeluarkan protes nya.


"hmm.. gue juga gak tau kenapa gue marah-marah sama dia!", ucap Alindya menunduk lesu.


"Astaga! gue kira lo beda dari kebanyakan cewek, ternyata lo sama ajah, labil!". Ucap Lisa kemudian pergi meninggalkan Alindya.


"Lisa tunggu, lo mau kemana?", teriak Alindya.


Lisa pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Alindya dengan wajah kesal. "Gue mau nyari Ravendra, mau gue kasih tau yang sebenarnya!".


"Jangan, Lis! biarin dia pergi, kayaknya gue emang harus nurut sama ayah!". Alindya menarik tangan Lisa untuk menghentikan langkahnya.


Lisa terkejut mendengar ucapan Alindya yang tiba-tiba saja menyetujui perjodohan yang di buat oleh ayahnya.


"Lo yakin?". Lisa menggenggam tangan Alindya yang wajahnya tertunduk sedih.


Alindya hanya menganggukkan kepalanya sambil menahan air matanya.


Seketika itu Lisa memeluk erat tubuh sahabatnya yang harus rela melepaskan cintanya demi mematuhi keinginan orangtuanya, kesedihan yang di rasakan oleh Alindya begitu terasa oleh Lisa yang sudah mengenal Alindya sejak bangku sekolah menengah.

__ADS_1


__ADS_2