
Di dalam perjalanannya menuju kafe, Alindya merasa bosan karena ia di perlakukan seolah menjadi seorang sopir pribadi yang tengah membawa tuannya pergi.
Radit yang duduk di kursi belakang hanya terdiam menatap kendaraan yang berlalu lalang dari balik kaca mobil.
"sialan! di kira gue sopirnya apa? gayanya udah kayak bos aja, ngobrol apa ke gitu! huh.. sabar Alindya, lo butuh tangan dia buat nyenengin para pelanggan!" umpat Alindya.
Untuk mengusir rasa bosannya, Alindya menyalakan lagu rock kesukaannya, hal itu membuat Radit yang tidak menyukai lagu rock pun memprotes Alindya.
"Hey, tolong matikan musiknya! membuat telinga rusak saja." Alindya terkejut dengan suara protes dari Radit, tetapi Alindya berpura-pura tidak mendengarnya dan terus bersenandung mengikuti suara penyanyi yang terdengar dari sampingnya.
Radit semakin tidak tahan berlama-lama di dalam mobil bersama Alindya, ia hanya bisa menutup kedua telinganya karena semakin ia memanggil Alindya maka semakin keras pula suara Alindya bernyanyi.
Sementara itu di dalam sebuah gedung yang terletak berseberangan dengan kafe Alindya, terlihat Kaivan tengah berdiri di dekat jendela ruangannya menatap ke arah kafe yang tampak begitu ramai. "Tumben sekali bisa seramai itu! sudah lama juga aku tidak bertemu dengannya, sebaiknya aku menemuinya sekarang, karena Amara tengah sibuk!"
Tepat di jam makan siang, Kaivan datang ke kafe Alindya. Ia di sambut dengan hangat oleh Alindya yang tengah ikut di sibukkan dengan banyaknya pelanggan, Alindya menyerahkan pesanan pelanggan yang hendak ia antarkan kepada karyawannya dan berjalan menuju Kaivan.
"Hai! kamu kemana aja, kenapa baru menemui ku sekarang?" Alindya memeluk Kaivan dengan manjanya.
"Maafkan aku sayang, aku sangat sibuk sekarang. makanya aku gak sempat menghubungimu!" Kaivan memindahkan helaian rambut Alindya ke belakang telinga.
Mereka pun mengobrol dengan saling melemparkan candaan membuat siapapun yang melihatnya akan merasa iri pada pasangan yang tampak bahagia tersebut.
Radit yang tengah membantu membawa kue dari dapur ke bagian depan pun tidak sengaja melihat Kaivan dan Alindya yang tampak tertawa bersama.
Radit terkejut melihat keakraban mereka berdua, ia pun bertanya kepada Andra.
"siapa pria yang bersamanya?" tanya Radit penasaran.
"oh dia itu pacarnya kak Alindya. kalau lo di make over, kayaknya lebih ganteng lo daripada dia!" ucap Andra.
__ADS_1
"kau jangan sembarangan bicara, terdengar oleh bos bisa tamat riwayatmu!" ledek Radit.
"haha.. gue sebenernya kasian sama kak Alin, dia sering tungguin pacarnya tapi yang jadi pacarnya itu gak pernah datang."
Radit tidak menyangka jika Kaivan sudah memiliki kekasih yang bisa ia bohongi hingga membuatnya kembali lagi kepada Amara yang dahulu adalah mantan kekasihnya.
"enak sekali dia, sudah punya pacar tapi pacar orang di ambil juga!" ucap Radit dalam hatinya.
Tak mau tinggal diam, Radit berjalan ke arah Alindya dan Kaivan yang tampak asyik tertawa bersama. Radit masih memiliki dendam kepada Kaivan karena telah mengganggu hubungannya dengan Amara, walau ia tahu jika Amara juga yang memanfaatkannya untuk meraih impian menjadi seorang model terkenal.
Radit yang masih memakai apron, tidak akan bisa di kenali oleh Kaivan karena ia juga memakai kacamata dan topi serta penampilannya juga yang berbeda dari biasanya.
"permisi! ini sudah jam makan siang, saya ke sini ingin menagih janji." ucap Radit tanpa rasa canggung.
Andra yang berdiri dari kejauhan hanya menutup wajahnya dengan satu tangan. "Aduh, ngapain sih si Radit? nekat banget gangguin si bos!"
"Ya, gue inget perjanjian kita. tapi untuk saat ini gue mohon banget, lo beli makan sendiri aja ya!". Alindya memberikan selembar uang berwarna merah dari saku nya berharap Radit segera pergi.
Akan tetapi tujuan Radit bukanlah meminta jatah makan siang seperti perjanjian mereka sebelumnya, melainkan kedatangannya hanya ingin membuat Kaivan merasa kesal dan pergi dari kafe.
"Maaf. saya hanya menerima makanan, bukan uang. perjanjian kita kan kamu yang membelikan saya makan siang!" Radit mengeraskan suaranya agar bisa terdengar oleh Kaivan.
Dan benar saja, Kaivan yang mendengar obrolan mereka merasa semakin kesal. Kaivan kembali bangun dari duduknya seraya memukul meja yang ada di hadapannya kemudian berjalan menghampiri Alindya.
"Alindya, aku sempatin waktu datang ke sini tuh mau ketemu sama kamu, tapi kamu malah sibuk sendiri!" Kaivan yang tidak suka menunggu pun pergi meninggalkan Alindya tanpa mendengar penjelasan dari Alindya terlebih dahulu.
"Kaivan tunggu! dengerin aku dulu dong!" Alindya berjalan dengan cepat mengimbangi langkah Kaivan.
Melihat Alindya mengejar Kaivan membuat Lisa merasa kesal dan menarik tangan Alindya. "Udah cukup, Alindya! cowok kayak dia gak usah lo kejar lagi. kalo emang dia sayang sama lo, pasti dia bakal ngertiin lo bukannya malah nyalahin lo terus!"
__ADS_1
Akhirnya Alindya kembali masuk ke dalam kafe setelah mendengar ucapan Lisa, ia kembali duduk termenung di tempat tadi.
Melihat Alindya yang murung membuat Radit merasa kasihan, tetapi lebih menyedihkan lagi saat melihat Alindya bersama Kaivan yang sudah jelas berselingkuh.
"Bos, mana makan siang saya?" Radit kembali menghampiri Alindya.
"Astaga, berisik banget sih lo!" Alindya bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kafe.
Radit tersenyum melihat Alindya yang kembali menjadi gadis yang pemarah, ia tidak ingin melihat Alindya yang selalu tampak murung memikirkan Kaivan yang tidak baik untuk nya.
"jangan bilang lo suka sama Alindya!" bisik Lisa yang berdiri di samping Radit.
Lisa yang sedari tadi memperhatikan Radit dari kejauhan pun menghampirinya pada saat ia melihat senyuman di wajah Radit.
"ah kau yang benar saja! mana mungkin saya menyukai gadis ceroboh seperti dia!" ucap Radit kemudian pergi meninggalkan Lisa.
Lisa merasa jika Radit bisa membuat Alindya kembali menjadi dirinya sendiri, berbeda dengan Kaivan yang selalu membuat Alindya menangis dan tampak murung.
Sementara Alindya melajukan mobilnya menuju sebuah rumah makan untuk membeli makanan sesuai keinginan Radit. Alindya terus melontarkan umpatan kepada Radit di sepanjang perjalanannya, seketika itu ia melupakan masalahnya dengan Kaivan dan itulah yang di inginkan oleh Radit.
Radit sengaja terus mengganggu Alindya agar tidak terus menerus memikirkan Kaivan yang sudah berselingkuh dengan mantan pacarnya. Bagi Radit, Alindya tidak pantas untuk mempertahankan pemuda seperti Kaivan yang suka membohongi Alindya dan bersikap egois.
Tanpa terasa Alindya sudah kembali ke kafenya dengan membawa sebuah kantong berisi makanan yang segera ia berikan kepada Radit dengan kesalnya.
"Nih makanan lo!" Radit dengan senang hati menerima nya dan segera pergi ke bagian dapur.
Di sana ternyata ada Andra yang tengah memakan potongan kue yang tidak bisa di hidangkan kepada pelanggan.
"Makanlah, saya tahu uang bulanan mu sudah habis, makanya kau tidak membeli makan siang!" Radit memberikan kantong berisi makanan yang di berikan oleh Alindya.
__ADS_1