
Langit di pagi hari itu tampak cerah, tetapi tak secerah hati Alindya. Ia masih terbaring di atas tempat tidurnya dengan selimut yang menutupi ujung kepala hingga ujung kakinya, rasanya berat sekali untuknya mengawali hari.
Suara pintu kamar yang terbuka pun tidak ia hiraukan, hingga terdengar suara teriakan sang kakak yang memekakkan telinga.
"Alindya... bangun! ini udah siang, apa kamu gak mau kuliah, hah?". Alice menarik selimut yang ia kira kepala sang adik tapi ternyata itu adalah kaki.
"Ya ampun, anak gadis tidurnya gimana sih ini? ayo bangun Alin!". Alice kembali membuka ujung selimut yang satunya dan menarik tangan Alindya.
"Duh kakak, apaan sih berisik tau!". Alindya menutup kepalanya dengan bantal.
"mama.. Alindya gak mau bangun, nih! apa harus aku siram dia pake air es?", teriak Alice.
Alindya yang ketakutan akan di siram dengan air es pun segera bangun dan berlari menuju kamar mandi tanpa membereskan selimut yang di lemparnya ke lantai, Alice hanya bisa tertawa melihat adiknya yang lari ketakutan.
Setelah memastikan adiknya sudah bangun, Alice kembali ke meja makan untuk melanjutkan sarapannya. "mama, tante Alin jangan di siram air es, kasian mama!", seru Rasya anak Alice yang masih berumur tiga tahun.
Alice tersenyum melihat anak nya yang begitu peduli terhadap tantenya. Belum sempat Alice menjawab, tiba-tiba Alindya datang di tengah-tengah acara sarapan keluarga.
"Tuh denger, kak! anak nya ajah sayang banget sama aku. makasih ya sayang". Alindya mengecup pipi Rasya kemudian duduk di sebelahnya.
"eh kamu mandi nggak sih? Bukannya tadi baru masuk kamar mandi, kok sekarang udah di sini aja", tanya Alice heran.
"Memang idealnya mandi itu butuh waktu berapa lama? buat aku mandi cepet atau lama sama aja namanya mandi". Alindya menjawab sambil mengoles roti tawarnya dengan selai kacang.
Pak Bagaskara dan bu Arumi yang melihat kelakuan anak gadisnya itu hanya bisa menggelengkan kepala.
Tetapi perhatian bu Arumi tertuju pada mata Alindya, walau hari ini ia mengenakan kacamata bu Arumi bisa melihat jika mata Alindya tampak sembap dan membuatnya menanyakan keadaan Alindya.
"semalaman kamu habis menangis?", tanya bu Arumi.
Perhatian pak Bagaskara pun ikut tertuju pada kedua mata Alindya setelah mendengar pertanyaan bu Arumi.
"iya, matamu tampak sembap. apa kamu menangisi pemuda itu?", tanya pak Bagaskara yang tidak menyukai Kaivan.
"Aku berangkat ke kampus dulu, sepertinya aku udah telat!". Alindya bangkit dari kursinya membawa dua lembar roti.
Setelah menyalami tangan kedua orang tua dan kakaknya, Alindya pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan orang tuanya.
__ADS_1
"kamu harus membujuk adikmu agar mau menerima perjodohan ini, ayah tidak mau Alindya juga bernasib sama sepertimu yang membantah ayah!", ucap pak Bagaskara kepada Alice.
"Baik, ayah!". Alice menundukkan kepalanya tanda patuh kepada sang ayah.
Sementara itu di kediaman Wardhana, tampak Ravendra sudah rapi dengan setelan jas hitam yang menambah wibawanya, ia berjalan menuruni tangga menuju kedua orang tuanya yang sedang menyantap sarapan.
"good morning!", sapa Ravendra.
"good morning, sayang. ayo kita sarapan", ajak bu Felicia.
Ravendra segera duduk di kursi tepat di depan tempat duduk sang ibu, ia tanpa ragu mengambil dua lembar roti tawar kemudian di olesnya selai cokelat kesukaannya.
"bagaimana pertemuan mu tengah malam tadi?", tanya pak Arif membuat Ravendra yang hendak memasukkan rotinya ke dalam mulut merasa terkejut.
"tidak ada yang aneh, dia baik-baik saja!", jawab Ravendra mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Pak Arif menatap anaknya yang tengah menikmati rotinya, tatapannya seolah penuh harap.
Tatapannya seolah berkata agar Ravendra bisa segera mengetahui sifat asli Amara yang hanya menginginkan hartanya saja.
Suasana tiba-tiba terasa hening saat mereka menghabiskan sarapannya masing-masing dengan pikiran yang berbeda-beda.
"Saya sudah selesai, saya pergi ke kantor dulu". Ravendra bangkit dari duduknya meninggalkan kedua orang tuanya yang masih menyantap sarapan.
Saat Ravendra sudah berangkat ke kantor, bu Felicia yang sudah mendengar cerita pak Arif tentang kekasih Ravendra membuatnya geram dan ingin segera memisahkan mereka.
"apa rencana papa untuk memisahkan mereka?", tanya bu Felicia.
"aku tidak merencanakan apa-apa, tetapi aku pastikan gadis itu tidak bisa memanfaatkan anak kita lagi", jawab pak Arif dengan santainya.
Perjalanan menuju kantor yang menyita waktu di karenakan jalanan pagi hari yang selalu macet telah di lalui Ravendra, kini ia tengah bersiap melakukan meeting.
"pastikan ruangan sudah bersih dan tidak ada debu sedikitpun!", seru Ravendra sebelum memasuki ruang kerjanya.
Derap langkah Ravendra yang setiap pagi membuat karyawan merasa seakan napas mereka terhenti sejenak, mereka yang belum merapihkan meja kerjanya pasti akan mendapat teguran dari Ravendra karena matanya yang begitu jeli melihat hal kecil yang terasa berantakan.
"Hey Rama! jangan lupa untuk segera membuang kertas itu. jangan meletakkannya di atas meja karena itu akan merusak konsentrasi kerjamu!". Ravendra mengarahkan jari telunjuknya ke salah satu meja karyawannya, walau tertutupi meja karyawan lain tetapi Ravendra masih bisa melihatnya.
__ADS_1
Tepat pada pukul delapan pagi, meeting pun dimulai, Ravendra memimpin dengan serius dan tak ada satu hal pun yang dapat mengganggunya.
Sementara kekasihnya tengah meeting, Amara tengah asyik menelpon selingkuhannya.
"hari ini kamu nggak sibuk, kan?", tanya Amara.
"nggak, aku lagi nggak sibuk kok. kamu mau aku antar kemana?", tanya balik Kaivan.
"temenin aku shopping yuk! aku bosen nih lagi gak ada kerjaan", ajak Amara.
Tanpa berpikir panjang, Kaivan bersiap untuk menuju apartemen Amara. Di lihat dari wajahnya, Kaivan terbilang pemuda yang tampan dengan tinggi pemuda Asia pada umumnya, berkulit putih dan bisa di bilang dia berada di urutan kedua setelah Ravendra.
Kaivan menatap bayangannya di cermin. "Sepertinya rencanaku untuk membuat Ravendra hancur akan berjalan dengan mulus".
Tiba-tiba ia teringat akan Alindya yang semalam menunggunya di restoran. Sebelum ia pergi menemui Amara, ia terlebih dahulu menelpon Alindya. Ia meraih ponsel dan menekan nomor telepon Alindya.
"Aku harus menghubunginya, agar tidak terkesan sangat mencampakkan nya".
Namun teleponnya tidak di angkat karena Alindya tengah berada di dalam kelas, Kaivan memilih untuk segera pergi menemui Amara karena sudah berjanji akan menemaninya berbelanja.
Saat para kekasihnya tengah sibuk, Amara dan Kaivan malah asyik berkeliling di sebuah pusat perbelanjaan. Perhatian Amara tertuju pada toko pakaian, disana ia menghabiskan banyak waktu untuk memilih satu dress dengan harga satu setengah juta.
"Kamu yakin hanya membeli ini saja?". Di tengah antrian Kaivan bertanya kepada Amara.
"yah, aku masih ingin mencari di toko lain lagi", jawab Amara dengan santai.
Beberapa saat mengantri, akhirnya giliran mereka pun tiba. Amara menyodorkan kartu berwarna hitam pemberian Ravendra tadi malam dengan wajah sombongnya, tetapi hal yang tidak terduga oleh Amara pun terjadi.
"Maaf, kak! apa ada kartu lain? sepertinya kartu ini sudah di blokir". Kasir toko mengembalikan kartu kepada Amara.
"apa? nggak mungkin mba. biasanya ini bisa kok", tanya Amara tidak percaya.
Sebelum terjadi hal yang membuatnya malu, Kaivan menyodorkan kartu ATM nya kepada kasir.
"Pakai ini aja mba!".
"Kaivan!", seru Amara merasa tidak enak.
__ADS_1
"Udah gak apa-apa. kalo kamu ngerasa nggak enak, aku anggap ini sebagai hutang!". Kaivan tersenyum penuh arti seraya berbisik di telinga Amara membuat bulu kuduk Amara berdiri.
Di satu sisi Amara merasa kesal kepada Ravendra karena memberikan kartu yang telah di blokir, di sisi lain ia juga memikirkan maksud dari kalimat yang terucap dari Kaivan, seolah memiliki maksud yang akan memanfaatkan dirinya.