
Akibat perkelahian yang terjadi di restoran membuat Amara kehilangan nafsu makan nya, ia mengajak Kaivan ke apartemen untuk mengobati luka di wajah Kaivan.
"Kamu duduk dulu di sini! aku ambilkan obat dulu". Amara meninggalkan Kaivan di sebuah kursi kemudian ia mencari kotak obat.
Kaivan hanya menganggukkan kepalanya sambil menahan sakit di wajahnya. Tak lama kemudian Amara datang membawa kotak P3K, ia segera mengobati luka di wajah Kaivan.
"Ah, pelan-pelan Amara!". Kaivan merintih memegangi wajahnya.
"iya ini udah pelan-pelan, Kaivan!", seru Amara berusaha sabar.
Kaivan menatap wajah Amara yang sangat serius mengobati luka di wajahnya, dengan spontan Kaivan mengangkat tangannya kemudian membelai wajah Amara. "Kapan kamu akan putus dengan nya?".
Amara menghentikan aktivitasnya mengobati wajah Kaivan kemudian memegang tangan Kaivan yang berada di wajahnya. "Secepatnya. kau juga harus secepatnya putus dengan gadis itu!".
Kaivan tersenyum melihat wajah Amara yang cemburu dan tidak mau menyebutkan nama kekasih Kaivan,
kemudian ia mencubit hidung mancung Amara dengan lembut. "Kau menggemaskan sekali, sayang!".
Amara tersenyum lalu kembali mengobati luka di wajah Kaivan, seakan dunia hanya milik mereka berdua saat kedua mata mereka saling beradu pandang.
"kau beristirahatlah dulu di sini sebelum kembali ke apartemen mu!", seru Amara.
"Sepertinya aku mau menginap saja di sini, tubuhku terasa sangat lemah". Kaivan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Amara yang hendak pergi ke dapur untuk mengambil air hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Kaivan yang segera merebahkan diri tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Terserah kau saja!".
Ketika kekasihnya tengah berselingkuh, Ravendra malah asyik dengan espresso dan buku bacaan nya di taman belakang rumah. Seakan telah putus asa dengan Amara, pikiran Ravendra mulai tersadar jika Amara memang bukanlah yang terbaik baginya.
Ravendra memang senang sekali membaca buku, ia memanfaatkan waktu libur bekerjanya untuk membaca buku. Hingga tak terasa hari mulai petang, ia memutuskan untuk membersihkan dirinya.
Seperti biasa, ia membutuhkan waktu selama dua jam untuk mandi. Entah apa saja yang ia lakukan di dalam sana selama itu. Hingga waktu makan malam pun tiba, terdengar kegaduhan di ruang keluarga saat pak Arif baru tiba dari kantornya.
Mendengar suara gaduh tersebut, Ravendra yang baru selesai berganti pakaian pun turun ke lantai bawah untuk mencari tahu apa yang telah terjadi.
"Ada apa ini, pah?". Ravendra berjalan menghampiri ayahnya yang tampak marah.
__ADS_1
"Nih, kau baca saja sendiri!". Pak Arif melemparkan sebuah surat kabar terbaru kepada Ravendra.
Pada saat keadaan genting pun Ravendra masih sempat menyemprotkan cairan hand sanitizer pada telapak tangannya sebelum mengambil surat kabar yang terjatuh karena di lempar ayahnya.
Di dalam surat kabar itu terdapat berita tentang perusahaan bernama Pratama Group telah berhasil menjalin kerja sama dengan Heksa Gemilang.
Hal itu membuat Ravendra terkejut, usahanya selama ini berujung sia-sia. Ia telah bekerja siang malam untuk bisa menjalin kerja sama dengan Heksa Gemilang malah berujung kegagalan.
"Kau berikan kepada siapa berkas-berkas yang telah kita cari selama ini, hah?". Pak Arif meradang, tampak wajahnya semakin memerah.
"saya simpan di atas meja kerja, pah! tidak saya berikan kepada siapa-siapa!", jawab Ravendra meyakinkan sang ayah.
Ravendra terdiam sejenak, pikirannya seolah mencoba kembali memutar kejadian yang sudah di lewatinya.
Hingga akhirnya ia berhenti pada ingatan sebuah kejadian dimana Amara datang ke kantornya dan Ravendra memberitahu apa yang membuatnya sibuk sekali.
"Tunggu dulu, Pratama Group? bukan kah itu nama perusahaan yang di miliki oleh ayahnya Kaivan?". Ravendra kembali melihat surat kabar yang masih di pegangnya.
Mengetahui kebenaran yang terjadi membuat Ravendra sangat terkejut, jadi memang benar Amara mengorek rahasia perusahaan Ravendra untuk di beritahukan kepada Kaivan agar bisa satu langkah lebih maju dari Ravendra.
"Saya harus pergi dulu, mah!". Ravendra pamit kepada ibunya dan segera berlari menuju garasi untuk mengambil mobilnya.
Ravendra yang kesal segera menginjak gas menuju apartemen Amara, ia hendak menanyakan apakah ada hubungan di antara mereka sekaligus ingin mengakhiri hubungan mereka.
Tak butuh waktu lama, Ravendra telah sampai di parkiran apartemen Amara. Ia berjalan dengan cepat menuju unit apartemen milik Amara.
Sebelum menggedor pintu, Ravendra kembali menyemprotkan hand sanitizer ke tangannya. Mendengar suara pintu yang di gedor dengan cukup nyaring membuat Amara segera membuka pintu.
"Kalau mau bertamu yang sopan sedikit dong!". Amara segera membuka pintu tanpa melihat siapa yang ada di depan nya.
"saya mau minta penjelasan mu!" seru Ravendra.
Mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya membuat Amara terkejut, ia segera keluar dan menutup pintu apartemen nya takut jika Kaivan mendengar pembicaraannya.
"Ra... Ravendra! kenapa kau tiba-tiba datang ke sini?". Amara terbata-bata.
__ADS_1
"jelaskan apa hubungan kau dengan Kaivan?", tanya Ravendra penuh amarah.
"Ak.. aku..."
Belum sempat Amara menjawab pertanyaan Ravendra, tiba-tiba Kaivan yang tengah tertidur pun membuka pintu menghampiri Ravendra dan Amara.
"Aku adalah kekasih Amara saat ini. kau pergilah, mengganggu saja!". Kaivan melingkarkan tangan nya pada leher Amara.
Tanpa memperlihatkan wajah bersalah, Amara malah ikut mengusir Ravendra dari apartemen nya.
"Pergilah, aku sudah tidak membutuhkan mu lagi!". Amara tersenyum sinis menatap Ravendra. "aku sudah bosan menjadi kekasihmu yang tidak pernah bersikap romantis sekedar memegang tangan pun kau tidak bisa!", tambah Amara.
Hati Ravendra terasa begitu sakit melihat pengkhianatan yang nyata di depan matanya. Seperti ada sebuah benda besar yang mengganjal dadanya, sakit dan sesak,
Ravendra seperti tengah bermimpi. Ia terdiam, berharap segera bangun dari tidurnya dan mengakhiri mimpi buruknya itu.
Namun ternyata itu bukanlah mimpi, hal yang menyesakkan dadanya itu memanglah terjadi di hidupnya.
Ravendra memang sudah menyadari jika Amara mulai menghindarinya, mungkin inilah saatnya ia terbebas dari belenggu Amara yang hanya menginginkan hartanya saja.
"Baiklah, jika itu mau mu, saya akan pergi. terima kasih atas waktu tiga tahun ini, semoga kamu lebih bahagia!". Ravendra tersenyum meninggalkan apartemen Amara dengan langkah pasti yang seolah tidak ada rasa kehilangan.
Amara dan Kaivan tertawa melihat Ravendra yang pergi begitu saja tanpa memberikan banyak kata-kata.
"Kau tenang saja, sayang! aku pasti akan membahagiakan mu!". Kaivan memeluk Amara dan kembali masuk ke dalam unit apartemen.
Ravendra mengemudikan mobilnya mengelilingi kota tanpa tujuan yang pasti. Dadanya semakin sesak kala mengingat Kaivan yang begitu berani melingkarkan tangannya di leher Amara, tidak seperti dirinya yang tidak pernah menyentuh gadis manapun.
Ravendra menghentikan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan, ia berniat membeli beberapa bahan untuk membuat kue.
Kebiasaan Ravendra yang akan meluangkan waktu di dapur saat suasana hatinya tengah kacau, ia tidak peduli dengan ucapan negatif orang lain tentang kebiasaannya, karena yang terpenting saat ini adalah mengembalikan suasana hatinya menjadi lebih baik.
Sebenarnya bisa saja ia menyuruh orang untuk membeli apa yang di butuhkan nya, tetapi tiba-tiba saja ia ingin berjalan-jalan sendirian.
Suasana hatinya perlahan mulai membaik kala melihat deretan bahan-bahan kue yang tersusun dengan rapi. Tetapi perhatian nya seketika tertuju pada sebuah kotak yang terjatuh dari tempatnya berada, tanpa ragu Ravendra bergegas menuju kotak itu berada.
__ADS_1
Dengan sarung tangan yang di kenakan nya sejak memasuki toko, ia mengambil kotak tersebut. "Bubuk pembuat es krim? sepertinya menabahkan es krim di atas pancake akan terlihat menarik!". Ravendra meletakkan kembali kotak itu pada tempatnya dan mengambil kotak yang tertata rapi di tempatnya.
Entah kenapa ia tidak mau mengambil kotak yang sudah terjatuh tadi, padahal ia akan membelinya.