
Malam itu Roy merasa ada di posisi yang serba salah. Ia merasa tidak enak jika harus berada di tengah-tengah keakraban Radit dengan Alindya, tetapi ia juga ingin memastikan jika Radit baik-baik saja agar bu Felicia tidak terus menerus merasa khawatir.
Ketika Roy memutuskan untuk kembali ke mobilnya, tiba-tiba Radit mengetahui keberadaan Roy yang tengah berdiri di depan pintu kemudian ia memanggilnya.
"Hey, kau mau kemana?" Radit bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Roy.
"Ah itu, gue mau balik. hari ini di kantor sibuk banget, jadi gue rasa harus cepetan tidur!" jawab Roy canggung.
Mendengar percakapan Roy dan Radit membuat Alindya merasa tidak enak sendiri, ia memilih untuk berpamitan pulang karena sudah waktunya juga kafe tutup.
"hmm kalo gitu aku balik ke kafe dulu!" ucap Alindya kemudian berjalan menuju mobilnya.
"baiklah, hati-hati!" seru Radit. Roy tersenyum menahan tawanya, ia merasa ada yang aneh dengan mereka berdua.
"dia bilang apa tadi? aku? biasanya kan gue" ledek Roy setelah Alindya dan mobilnya sudah tidak terlihat lagi.
Wajah Radit seketika bersemu merah, entah kenapa jantungnya terasa begitu berdebar dengan kencangnya saat berada di dekat Alindya.
"saya tidak tahu!" ucap Radit kemudian berjalan memasuki rumahnya.
Roy tertawa dengan puasnya seraya berjalan mengikuti langkah Radit yang memasuki ruang tamu.
"jadi, ada berita apa kau datang ke sini?" tanya Radit datar.
"astaga, bukan kah memang setiap hari gue ke sini buat ngecek keadaan lo yang lagi jauh dari orang tua?" ucap Roy sedikit meledek.
"katakan saja apa yang terjadi!" ucap Radit sedikit kesal.
"oh baiklah, lo gak perlu marah gitu donk! gue ke sini karena nyokap lo telpon gue, katanya firasatnya ga enak, takut lo kenapa-kenapa dan ternyata bener kan lo sakit. tapi gue liat-liat lo sehat aja tuh!" ucap Roy menatap Radit dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.
Lagi-lagi wajah Radit bersemu merah saat mengingat kejadian tadi, ia segera bangkit mendorong tubuh Roy dan menyuruhnya untuk pulang. "Karena kau sudah tahu keadaan saya, silahkan pulang. katanya hari ini kau begitu sibuk, sebaiknya kau beristirahat saja!"
__ADS_1
BRAKKK...
Radit segera menutup pintu setelah menyuruh Roy keluar, padahal Roy belum sempat mengatakan apa-apa tetapi Radit mengusirnya begitu saja.
"wah, udah tau nih gue! pasti ada yang lagi salah tingkah nih," ucap Roy tersenyum lalu berjalan menuju mobilnya.
Radit yang wajahnya masih memerah pun segera masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Astaga! kenapa saya jadi begini, seperti anak remaja saja." Radit menatap langit-langit kamarnya kemudian perlahan memejamkan mata.
Sementara Alindya sejak melajukan mobil nya meninggalkan rumah Radit pun merasakan hal yang sama, jantungnya berdetak begitu kencang seperti tengah menguji nyalinya terjun dari ketinggian.
"Ya ampun.. gue bilang apa tadi? aku? oh my god, masa iya gue suka sama dia. Alindya, ini gak boleh terjadi. gue masih punya pacar, gak ada dalam kamus hidup gue itu yang namanya selingkuh! nggak. pokoknya gak noleh terjadi!" Alindya memukul-mukuli kemudi mobilnya.
Sepertinya benih-benih cinta mulai tumbuh diantara mereka walau hanya dengan mengobrol dan bersenda gurau bersama. Dua orang yang merasa kesepian dalam hidupnya pun bisa saling melengkapi dengan caranya masing-masing dan menemukan kenyamanan dalam hati mereka.
Kini Radit tidak merasa sendiri lagi setelah di tinggalkan oleh Amara dan Alindya pun tidak menyia-nyiakan waktunya hanya untuk memikirkan Kaivan yang hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri.
Malam yang panjang terasa singkat, Radit terbangun dari tidurnya dengan begitu semangat. Ia tidak sabar untuk segera kembali menjalankan aktifitasnya bekerja sebagai chef di kafe milik Alindya.
"ternyata lagu ini bisa membangkitkan semangat!" ucap Radit.
Tanpa terasa ia sudah sampai di depan kafe karena berkendara sambil mendengarkan musik dan ia juga sampai di kafe lebih awal. Tidak seperti Ravendra, kini ia sudah mulai sedikit merubah kebiasannya semenjak bertemu dengan Alindya.
Radit melangkahkan kakinya memasuki kafe, ia terkejut dengan sambutan yang di berikan Alindya. Ternyata Alindya datang lebih pagi untuk menyambut kedatangan Radit.
"Hey, lo udah sehat?" sapa Alindya yang berdiri tepat di dekat pintu.
"ah, hai. sudah, saya sudah sehat!" jawab Radit tersenyum.
Radit segera menuju dapur, tempat ia bekerja. Tetapi tidak seperti biasanya, Alindya juga mengikuti dirinya ke dapur.
__ADS_1
"kau sedang apa di sini?" tanya Radit melihat Alindya yang berdiri di depannya.
"hmm gue mau belajar bikin kue yang enak kayak buatan lo!" seru Alindya tersenyum canggung. Radit kembali terkejut saat mendengar keinginan Alindya yang ingin belajar membuat kue bersamanya.
Seketika ia melihat ke arah penampilan Alindya yang tampak seperti tidak pernah memegang alat-alat dapur sekalipun.
"apa kau yakin?" tanya Radit mengerutkan dahinya.
"i.. iya, gue yakin. gue cuma gak mau kalo lo sakit terus kafe gue ga ada makanan terus pelanggan gue pada kabur deh" sela Alindya.
Walau Alindya sudah sedikit dekat dengan Radit, tetapi ia masih sering mempertahankan gengsinya di depan Radit.
Sebenarnya Alindya merasa nyaman saat berada di dekat Radit yang membuatnya sejenak melupakan Kaivan, tetapi ia tidak ingin mengatakannya langsung kepada Radit karena ia sadar jika ia masih menjadi kekasihnya Kaivan.
"langsung saja ya, pertama-tama kita pastikan dulu kebersihan tangan sebelum menyentuh bahan-bahan yang nantinya akan di hidangkan kepada pelanggan!" ajak Radit.
Mereka berdua mencuci tangan di atas wastafel secara bergantian, Alindya memperhatikan cara Radit membersihkan tangan hingga benar-benar bersih kemudian ia segera mempraktekannya.
"apa setiap mencuci tangan harus kayak gini?" tanya Alindya mempraktekan cara Radit mencuci tangannya.
"ya, memang harus seperti itu agar semua kuman di tangan mu mati!" jawab Radit dengan santainya.
Kemudian setelah selesai mencuci tangan, Radit memakai sarung tangan dan mulai menyiapkan bahan-bahan pembuat kue nya, sementara ia menyuruh Alindya memotong cokelat batang yang akan di cairkan.
"sebagai langkah awal pembelajaran, kau potong ini saja yang sepertinya sangat mudah untuk kau kerjakan!" ucap Radit memberikan satu bungkus cokelat batang kepada Alindya.
"oh ini sih gampang!" seru Alindya tersenyum.
Alindya mulai mengeluarkan cokelat dari kemasannya kemudian ia mengambil pisau dan memotong cokelat sesuai perintah Radit. Alindya begitu semangat hingga membuat pisau yang ia pegang malah menggores jari telunjuknya.
"aw..!" teriak Alindya menarik tangannya dari kumpulan cokelat yang sudah di potong nya.
__ADS_1
Melihat darah yang keluar dari jari telunjuk Alindya membuat Radit panik dan segera mengambil beberapa lembar tisu untuk menghentikan darahnya yang terus keluar dari jari Alindya.
"kau duduk dulu, saya ambilkan obat!" ucap Radit kemudian pergi menimnggalkan Alindya.