When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 33: Dalam Bahaya


__ADS_3

Dua anak laki-laki itu tampak saling berpelukan di dalam ruangan yang hanya memiliki sedikit cahaya. Rafael terus memeluk erat tubuh Ravendra yang begitu ketakutan, mereka belum pernah jauh dari rumah dimana menjadi tempat teraman satu-satunya bagi mereka.


"Maafkan kakak! Jika tadi kakak tidak mengajakmu untuk keluar sekolah tanpa memberitahukan mama dan papa terlebih dahulu, mungkin kita tidak berada di sini."


Ravendra yang sudah meneteskan air mata hanya bisa menganggukkan kepalanya setelah mendengar ucapan sang kakak.


Tak lama kemudian, Karina yang baru selesai berbicara dengan pak Arif melalui telepon genggamnya itu kembali menemui Rafael dan Ravendra, Karina membawakan dua piring berisi makanan untuk mereka.


"Makanlah! Aku tidak mau kalian mati secepat ini. Aku masih ingin bermain-main dengan papa kalian." Karina menyeringai setelah meletakkan piring makanan di hadapan dua anak tersebut.


Karina kembali ke luar ruangan dan tak lupa mengunci pintu kembali. Selepas kepergian Karina, Rafael mengajak Ravendra untuk makan.


"Ayo makan! kita akan butuh banyak tenaga untuk keluar dari tempat ini. Kau harus semangat jika kau masih ingin bertemu dengan mama dan papa!" Rafael mengambil piring yang ada di hadapannya dan melahap nasi beserta lauknya.


Ravendra masih terdiam, sebagai anak yang masih suka memilih-milih makanan, hal itu membutuhkan banyak waktu baginya untuk bisa memakan makanan yang di berikan oleh Karina.


"aku ingin makan masakan mama!" ucap Ravendra dengan lirih.


"makanlah, kita bahkan tidak tahu seberapa jauh jarak dari sini ke rumah. cepat makanlah, daripada kau mati kelaparan!" ucap Rafael sedikit kesal.


Mendengar ucapan sang kakak, akhirnya Ravendra dengan cepat melahap makanan yang ada di hadapannya.


Sementara pak Arif yang pada saat itu perusahaannya sedang mulai merangkak naik setelah menikah dengan bu Felicia, tampak kebingungan di kantornya setelah mendapat telepon dari Karina.


Bagaimana tidak, Karina yang ternyata adalah mantan kekasih dari pak Arif mengancam akan melenyapkan kedua anak laki-lakinya pak Arif jika tidak kembali kepadanya.


Karina memang masih terobsesi kepada pak Arif walau sudah memiliki suami dan seorang anak laki-laki, ia yang tidak terima saat mengetahui pak Arif lebih memilih wanita yang di jodohkan oleh kedua orang tuanya di bandingkan dengan dirinya.


"Aku tidak bisa meninggalkan Felicia demi menyelamatkan anak-anakku. tetapi aku juga tidak mau jika anak-anakku terluka." Pak Arif memijat keningnya saat memikirkan perkataan Karina beberapa saat lalu di telepon.

__ADS_1


Terbersit dalam benak pak Arif untuk menghubungi pihak berwajib, walaupun nyawa anak-anaknya dalam bahaya jika ia membawa pihak berwajib untuk menyelamatkannya sebab Karina telah mengancam pak Arif jika berani melapor kepada pihak yang berwajib.


Demi keselamatan orang-orang yang di cintainya, pak Arif membuat rencana dengan bantuan pihak yang berwajib. Setelah berbicara kepada bu Felicia, pak Arif pun bergegas menuju kantor polisi dan menceritakan semuanya.


"Saya mohon bantuannya, agar anak-anak saya dapat di selamatkan!" ucap pak Arif.


Karina yang tidak mengetahui jika pak Arif tengah menyusun rencana tampak asyik menyiksa kedua anak pak Arif. Ia memasuki ruangan penyekapan mereka dan memperhatikan wajah mereka satu per satu dengan seksama, diraihnya terlebih dahulu wajah Rafael.


"Kau memiliki wajah persis seperti ayahmu!" Karina mengangkat dagu Rafael dengan perlahan.


Kemudian ia beralih menuju Ravendra yang tampak terus menunduk ketakutan.


"Hey, perlihatkan wajahmu!" Karina mengangkat dagu Ravendra dengan kasar.


Ravendra dan Rafael memiliki wajah yang berbeda walaupun mereka kakak beradik, Rafael memiliki wajah yang persis dengan ayahnya sedangkan Ravendra memiliki bentuk wajah seperti ibunya.


"Kau mirip sekali dengan wanita itu, sebaiknya aku melenyapkan mu terlebih dahulu karena aku benci dengan wajah ini!" Karina mencengkram dagu Ravendra dengan kuat dan menghempaskannya ke lantai.


Tanpa ada rasa bersalah, Karina pergi meninggalkan ruangan begitu saja. Rafael bergegas menghampiri Ravendra yang tersungkur ke lantai, Rafael panik saat melihat pelipis sebelah kiri Ravendra yang terluka akibat terbentur ke lantai dengan permukaan yang kasar.


Rafael dengan sigap meletakkan kepala Ravendra di atas pangkuannya. "Ravendra, kau dengar suaraku?" Rafael menepuk kedua pipi Ravendra saat melihatnya terdiam memejamkan kedua mata.


"Aku dengar suaramu, kak! hanya saja pandanganku sedikit buram, aku tidak bisa membuka mata." Seulas senyuman terlihat di wajah Ravendra membuat Rafael sedikit bernapas lega.


Melihat Ravendra yang terus mengeluarkan darah, Rafael meraih ranselnya yang di dalamnya terdapat kaos miliknya. Ia merobek kaos itu untuk kemudian di jadikan sebagai perban untuk menutupi luka Ravendra.


Rafael membaringkan tubuh lemah Ravendra dan menggunakan ranselnya sebagai bantalan kepalanya. "Kamu beristirahatlah, aku akan mencari jalan keluar!"


Ravendra hanya menganggukkan kepalanya perlahan, kemudian memejamkan matanya kembali berharap rasa sakitnya akan sedikit berkurang saat ia tertidur.

__ADS_1


Rafael yang berusaha mencari celah untuk bisa keluar dari ruangan itu pun di buat kebingungan karena jalan keluar satu-satunya hanyalah pintu tempat keluar masuknya Karina, jendela di ruangan itu terlalu tinggi untuk di gapai oleh anak berusia dua belas tahun sepertinya.


Di tengah kebingungannya, Ravendra membuka mata dan memanggil namanya. "Kak, sepertinya tidak ada jalan keluar lain. tetapi aku punya sebuah ide."


Ravendra yang berbaring di lantai pun bangun di bantu oleh kakaknya, ia merencanakan sebuah ide untuk melarikan diri pada saat Karina membukakan pintu.


Kini mereka duduk di dekat pintu menunggu kedatangan Karina.


"Apa kau siap?" tanya Rafael menatap wajah adiknya yang masih tampak lemah.


"Aku sangat siap! Aku rindu papa dan mama." Ucap Ravendra mengepalkan tangannya.


Tak lama kemudian pintu pun terbuka, Karina terkejut saat melihat ke dalam ruangan ternyata tidak ada anak-anak yang ia sekap. Karina melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan, di saat itu Rafael dan Ravendra berjalan perlahan melewati pintu.


Namun tak semudah yang Ravendra bayangkan untuk bisa kabur begitu saja. Karina dengan cepat melihat ke arah pintu dan di lihatnya Ravendra yang tengah berlari mengikuti Rafael.


"Hey, kau!" teriak Karina.


Ravendra yang masih merasa lemas terus berlari di belakang Rafael. Karina melihat Ravendra yang jaraknya cukup dekat dengannya pun mengacungkan sebuah pisau ke arah Ravendra. "Ku habisi saja kau sekarang!"


Rafael yang melihat adiknya dalam bahaya pun segera menghampiri dan memeluk Ravendra berharap pisau itu tidak mengenai adiknya. "Ravendra, awas!"


Rafael memeluk tubuh adiknya dengan erat hingga akhirnya mereka berdua terjatuh ke lantai, Karina terkejut karena pisau yang berencana ia tancapkan kepada Ravendra ternyata meleset dan mengenai pinggang Rafael.


"Kau baik-baik saja?" tanya Rafael menatap wajah adiknya.


Ravendra terkejut saat melihat banyak darah di pinggang Rafael yang membuatnya kesulitan untuk bangun.


"Kakak!" teriak Ravendra memindahkan kepala Rafael ke pangkuannya.

__ADS_1


__ADS_2