
"Lo..!". Alindya bangun dengan perasaan kesalnya.
Lisa mencoba menenangkan Alindya dengan menarik tangan Alindya untuk kembali duduk. "Kita kasih dia kesempatan, kalo dia gagal lo boleh pecat dia. gimana?"
Alindya pun menyetujui saran Lisa, "okeh kalo lo berhasil bikin kue yang enak, gue bakal terima lo di sini. tapi kalo rasanya nggak enak, lo silahkan pergi dan cari pekerjaan lain!".
"Baik". Radit tersenyum dan segera berjalan menuju dapur diantar oleh Andra.
Sesampainya di dapur, Radit mencuci tangannya terlebih dahulu kemudian mengenakan sarung tangan dan tak lupa ia memakai apron yang sudah ia sterilkan.
"Heran gue, sebenernya lo mau masak apa mau jadi dokter yang mau masuk ruang operasi?". Andra menggelengkan kepalanya melihat Radit yang sudah bersiap melakukan tantangan untuk mempertahankan pekerjaannya.
Radit menyiapkan bahan-bahan seorang diri, walaupun Andra menawarkan diri untuk menjadi asisten Radit, tetapi karena Radit tidak ingin konsentrasinya terbagi maka ia menolak tawaran Andra.
Namun Andra tetap berada di dapur untuk menemani Radit dan ia juga ingin menyaksikan sendiri apakah Radit mampu melakukan tantangan yang di berikan oleh Alindya.
Suasana dapur yang sepi membuat Radit leluasa menghadapi bahan-bahan pembuat kue di hadapannya, ia tampak tenang karena baginya membuat sebuah makanan penutup sudah menjadi hobinya dan ia yakin jika pelanggan pasti akan menyukainya.
Andra yang terus memperhatikan Radit tercengang saat melihat setiap ada setetes adonan yang jatuh di atas meja, pasti akan segera di bersihkan oleh Radit sehingga kebersihan dapur selalu terjaga.
"Heran gue, dari tadi dia mainin segala tepung tapi meja sama bajunya masih bersih banget kayak belum ngapa-ngapain gitu!". Andra berdiri menyaksikan Radit dari kejauhan.
Alindya dibuat penasaran dengan Radit yang mengajarkan dirinya sebagai chef, ia tidak yakin jika Radit akan berhasil. Maka dari itu ia akan dengan mudahnya memecat Radit yang sudah membuat dirinya kesal.
"sebenernya dia tuh bisa nggak sih?", tanya Alindya.
"makanya, yuk kita ke dapur liat dia!", ajak Lisa.
Mereka pun meninggalkan ruangannya dan pergi menuju dapur tempat dimana Radit tengah bertarung dengan bahan pembuat kue yang akan membuatnya tetap bertahan di kafe atau harus pergi mencari pekerjaan lain.
Alindya terkejut saat melihat dapur yang tampak bersih dan Radit yang tengah menata brownis nya untuk di hidangkan kepada pelanggan.
__ADS_1
"Apa-apaan ini? kenapa dapur tampak bersih tidak seperti habis di pakai? kamu curang ya, beli di mana kue itu?". Alindya berjalan menghampiri Radit dengan berteriak.
"Astaga Alin. susah kalo pertemuan pertama bikin kesel, pasti keterusan deh!". Lisa menggelengkan kepalanya.
Alindya masih menyimpan sisa kekesalannya terhadap Radit hingga membuatnya terus menerus mencari cara agar Radit keluar dari kafe, tetapi Radit sudah terlanjur merasa nyaman di kafe dan akan terus berusaha untuk mempertahankannya.
"maaf, kak! kalo tidak percaya silahkan cek kamera CCTV. di situ kakak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan kakak!", dengan tenang Radit menanggapi tuduhan Alindya.
Alindya segera ke ruangannya untuk mengecek rekaman CCTV untuk menemukan buktinya.
Sementara di bagian depan, pelanggan yang tadi sempat komplain kini mulai lagi memanggil pemilik kafe agar memberikan apa yang dia inginkan.
Lisa pun memutuskan untuk menghidangkan brownis buatan Radit, daripada membuat pelanggan semakin marah.
"ayo Andra, bawa itu kepada pelanggan!", pinta Lisa.
Mereka pun berjalan beriringan menuju tempat pelanggan itu berada, Andra segera menghidangkan makanan di meja pelanggan yang ternyata seorang ibu-ibu dengan riasan tebal.
"Mau pergi kemana, lo?". Alindya melipat kedua tangannya dan berdiri di belakang Radit yang tengah berjalan mundur.
"hmm itu, saya mau membereskan dapur!", jawab Radit ngasal. Akibat kamera CCTV yang terpasang di dapur mengalami kerusakan membuat Alindya tidak bisa melihat rekaman aktivitas Radit saat di dapur, oleh sebab itulah Alindya masih mencurigai Radit.
"Lo pasti mau kabur kan? takut ketauan menipu kita, pake brownis yang lo beli tapi ngakunya lo bikin sendiri, kan? ayo jawab!". Alindya menghalangi jalan Radit yang hendak pergi meninggalkan kafe.
Belum sempat Radit menjelaskan semuanya, Lisa memanggil Alindya hendak memberitahukan jika pelanggan sangat menyukai brownis buatan Radit.
Alindya menarik tangan Radit dan menyeretnya kembali kepada pelanggan tersebut, Radit hanya bisa mengikuti Alindya karena tangannya sudah di pegang dengan kuatnya oleh Alindya yang tenaganya seperti tiga orang lelaki berbadan besar.
"kenapa tidak dari kemarin kau mengeluarkan makanan selezat ini, nak? aku ingin bertemu dengan pembuatnya!", ucap pelanggan tersebut dengan senyum bahagianya.
"Oh iya bu, ini dia pembuatnya! tanyakan saja sendiri bagaimana dia membuatnya!". Alindya mendorong tubuh Radit ke hadapan pelanggan.
__ADS_1
Tubuh Radit tampak bergetar hebat, ia tak bisa berkata apa-apa. Seluruh tubuhnya kini berkeringat, ia berusaha menjauh dari seorang pelanggan yang menggunakan riasan tebal.
Semakin ia melangkah mundur, pelanggan itu terus bertanya dan mengikuti langkahnya.
"Tidak! jangan!". Radit mengangkat kedua tangannya menghalangi pelanggan itu agar tidak mendekat.
Andra yang melihat Radit tengah sangat ketakutan mencoba menenangkannya, tetapi Andra tidak berhasil.
Radit berlari ke dapur dan bersembunyi di bawah meja dapur berharap tidak melihat pelanggan tadi.
Alindya mencoba memberikan penjelasan kepada pelanggan agar tidak terjadi kesalahpahaman. "Mohon maaf ibu, atas ketidaknyamanan yang terjadi. tapi kami akan tetap memberikan yang terbaik untuk para pelanggan semua!".
"Kalau begitu, besok dan seterusnya saya mau makanan yang seperti ini tetap di pertahankan!". Pelanggan itu mengambil tasnya kemudian pergi dari kafe.
Alindya pun segera mencari keberadaan Lisa dan Andra yang tengah mencoba menenangkan Radit.
"Lin, coba lo telpon kak Roy barangkali dia tahu apa yang bikin Radit kayak gini!", pinta Lisa.
Dengan santainya Alindya mencoba menghubungi Roy untuk mencari tahu apa yang sudah terjadi kepada Radit.
Alindya tampak tidak begitu memperdulikan Radit yang menurutnya hanya berpura-pura saja agar tidak di tanyai masalah makanan yang dia buat.
Di kantor, Roy tampak panik setelah menerima panggilan dari Alindya. Ia segera meminta izin kepada pak Arif untuk menemui Ravendra di kafe, pak Arif yang ikut panik pun mengizinkan Roy pergi ke kafe.
Radit bersembunyi di bawah meja dapur dengan menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan, Lisa dan Andra yang mencoba menenangkannya pun sama sekali tidak berhasil, sedangkan Alindya hanya berdiri menatap sinis ke arah Radit.
"Udah deh gak usah akting, lo udah berhasil ngambil hati pelanggan tadi, kok!". Alindya berdiri memainkan kuku jari salah satu tangannya tanpa ada rasa simpati terhadap Radit.
Radit terus berteriak. "Tidak! Tolong jangan lakukan itu!".
Seolah wanita dengan riasan tebal itu tengah mengejar dan ingin menangkapnya, ia hanya melihat dan mendengar wanita itu dan sama sekali tidak mendengar ucapan orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1