When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 7: Pancake Pengantar Tidur


__ADS_3

Amara terpaku melihat sekumpulan bunga mawar merah yang di ikat menjadi satu dan di hias dengan cantiknya, ukuran nya yang besar membuat dirinya sejenak mengalihkan pandangan dari Ravendra.


"sepertinya bunga ini lebih menarik perhatianmu daripada saya yang dengan susah payah mengucapkan kalimat tadi!", seru Ravendra membuat Amara kembali tersadar dan segera menatap Ravendra.


"Oh maaf, aku begitu senang melihat bunga ini!". Amara meraih buket bunga dari tangan Ravendra.


"tidak apa-apa. kalau kamu mau, setiap hari akan saya kirimkan bunga ke rumahmu", ucap Ravendra tersenyum.


"Terima kasih!". Amara memegang tangan Ravendra.


Dengan respon yang cepat, Ravendra segera menarik tangannya dan membuat Amara merasa heran melihat sikap Ravendra yang ia kira tidak benar-benar menyukainya.


Melihat ekspresi wajah Amara membuat Ravendra merasa tidak enak, ia segera menjelaskan keadaan dirinya yang tidak bisa di sentuh oleh seorang wanita.


"saya harap dengan mengenalmu, saya bisa sembuh dan menjalani hidup seperti orang normal lainnya", ucap Ravendra.


"aku pasti akan menemanimu dan membuatmu hidup layaknya pria normal lainnya!", seru Amara.


Sejak saat itulah mereka menjadi sepasang kekasih dan sejak saat itu pula Amara sering meminta bantuan dari Ravendra, salah satunya ia meminta Ravendra agar membuatnya menjadi model terkenal.


Ravendra akan mengabulkan segala permintaan Amara, terlebih lagi ia memiliki rekan bisnis seorang pemilik agensi model. Ravendra merekomendasikan Amara sebagai salah satu modelnya dan Amara pun berhasil masuk karena kepiawaiannya berpose di depan kamera.


Akhirnya cita-cita Amara yang pertama telah terwujud, kini tinggal cita-cita keduanya yang ia rasa sebentar lagi akan terwujud yaitu menjadi istri konglomerat.


Namun hal itu tidak akan di wujudkan oleh pak Arif, ia sudah lama mengintai kekasih anaknya itu dan mengetahui tentang perselingkuhannya.


Pak Arif yakin jika ia mengatakannya secara langsung kepada Ravendra, ia tidak akan di percayai karena Ravendra sudah dibutakan oleh rayuan manis Amara.


Pak Arif membiarkan Ravendra agar ia melihat sendiri kelakuan kekasihnya saat berada di belakangnya. Kedekatan Ravendra dengan Amara pula membuat Kaivan yang berstatus sebagai mantan kekasih Amara semakin membenci Ravendra yang di anggapnya telah merebut kekasihnya itu.

__ADS_1


Segala cara akan Kaivan lakukan untuk membuat Ravendra hancur, bahkan ia juga tak segan untuk melenyapkan Ravendra jika terlalu sulit membuat karirnya hancur.


****


Setelah menemui Amara di apartemennya, kini Ravendra telah kembali ke kediamannya, ia segera berjalan menuju kamarnya dan berniat untuk memejamkan matanya mengingat esok hari akan ada meeting di kantornya.


Sebelum merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia berganti pakaian terlebih dahulu dan mencuci wajah, tangan dan kakinya walau sudah terasa lelah tetapi harus di lakukannya sebelum ia tidur.


Saat semuanya sudah bersih, ia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur king size dengan berselimut warna putih yang tampak bersih karena setiap hari ia meminta kepada asisten rumah tangga untuk menggantinya.


Perlahan ia memejamkan matanya berharap agar bisa segera beristirahat, tetapi itu tidaklah mudah. Berkali-kali ia mencoba memejamkan mata, ia teringat akan Amara.


Sepatu pria yang di lihatnya tadi di apartemen membuat kecurigaannya terus bertambah mengingat siang tadi pun Roy melihat Amara bersama seorang pria. Ia yakin jika sepatu itu bukanlah milik manager Amara, melainkan ada pria yang di sembunyikannya.


Firasatnya yang begitu kuat membuatnya tak dapat beristirahat dengan tenang malam itu.


Di saat seperti itu, Ravendra memutuskan untuk pergi ke dapur yang berada di lantai dasar.


Setibanya di dapur, ia mengambil appron berwarna biru yang tersimpan rapih di dalam laci meja dapur. Appron itu tampak bersih dan selalu terlihat baru karena tidak ada yang berani menyentuh benda yang di miliki Ravendra.


Setelah mencuci tangan, dengan cekatan ia menyiapkan alat dan bahan untuk membuat pancake. Setiap kali merasa gundah, ia pasti akan membuat pancake kesukaan mendiang sang kakak yang telah di pelajari nya sejak kecil.


Dengan cekatan ia membuat adonan, tak ada setetes adonan pun yang mengotori meja karena Ravendra begitu hati-hati dan menjaga kebersihan sekitarnya, ia tidak betah berada di dapur yang tampak kotor.


Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan satu porsi pancake dengan saus stroberi yang tampak manis nan menggoda lidah siapa saja yang melihatnya.


Potongan buah stroberi segar yang ia letakkan di atas tumpukan pancake seakan memanggil untuk memakannya hingga habis, di tambah lagi dengan aroma dari pancake yang baru saja matang membuat siapa saja tidak akan bisa menolak godaannya.


Ravendra menarik sebuah kursi kecil yang terdapat di pantry dan duduk menatap pancake yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Andai kau masih ada di sini, saya pasti akan meminta pendapatmu!". Ravendra tersenyum menatap pancake yang menjadi salah satu pengobat rindu terhadap kakaknya.


Perlahan ia memakan pancake itu hingga akhirnya ia terlelap di atas meja pantry, seperti biasa pancake selalu mengantarkan Ravendra untuk bisa tidur saat ia merasa kesulitan untuk memejamkan mata, apalagi saat pikirannya terasa kacau.


Ketika sudah menghabiskan pancake nya, Ravendra pasti akan selalu tertidur walau piring sisa pancake nya masih belum ia bereskan atau bahkan tangannya masih menggenggam garpu. Jika sudah begitu, ia tidak peduli dimana tempat merebahkan tubuhnya.


Keesokan harinya, asisten rumah tangga di kejutkan dengan pemandangan sang tuan muda yang setengah badannya berada di atas meja pantry.


Dari sekian banyak asisten rumah tangga yang dimiliki keluarga Wardhana, tak ada seorang pun yang berani membangunkan Ravendra. Apalagi kebanyakan dari pelayan tersebut adalah perempuan, mereka takut akan membuat trauma tuan mudanya kambuh.


Mereka hanya bisa menunggu nyonya Felicia untuk membangunkan Ravendra yang masih tampak nyaman dengan posisi tidur bersebelahan dengan piring pancake yang hanya menyisakan sedikit saus stroberi yang tampak mengering.


Setelah menanti beberapa menit, nyonya yang di tunggu-tunggu pun datang. Ia tahu betul masalah yang tengah di alami oleh para asisten rumah tangga, mereka tidak bisa memulai pekerjaannya sebelum Ravendra keluar dari area dapur.


"Ravendra, ini udah pagi sayang. ayo bangun, bukankah hari ini kamu ada meeting?". Bu Felicia mengusap lembut punggung Ravendra.


Mendengar suara dan belaian lembut sang ibu, Ravendra segera membuka mata dan duduk dengan tegak.


"Ah iya, ma! saya harus segera bersiap ke kantor". Ravendra segera bangkit dan berjalan menuju kamarnya walau tampak wajahnya masih mengantuk, tetapi ia ingat akan piring yang belum di bereskan nya.


"Bi Inah, tolong cuci piring yang di sana ya!". Ravendra menunjuk ke arah meja pantry.


Bu Felicia tersenyum menatap sang anak yang masih mengenakan piyama berjalan dengan sedikit sempoyongan menahan kantuknya.


"Tak terasa dia sudah dewasa sekarang!". Bu Felicia merasa bangga kepada Ravendra karena walaupun ia adalah anak tunggal, tetapi ia tidak pernah menunjukkan sikap manjanya.


Sejak kepergian kakaknya, Ravendra merasa sangat terpukul dan masih kehilangan sampai sekarang.


"Kamu pasti sedang merindukan kakakmu!". Bu Felicia menatap piring kecil yang di pakai Ravendra untuk meletakkan pancake buatannya semalam.

__ADS_1


__ADS_2