When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 28: Merasa Bersalah


__ADS_3

Sebenarnya Radit sudah mengetahui rencana Alindya untuk mengerjainya, Alindya berfikir jika Radit akan mengundurkan diri setelah di perintah untuk melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan perjanjian.


Walaupun Radit juga tidak menyukai hal yang tampak kotor, jika bukan karena janjinya untuk bertahan di kafe ia juga tidak akan mau mengerjakan perintah Alindya.


Sejak saat Radit mengetahui bahwa Alindya adalah kekasih Kaivan, ia berjanji pada diriku sendiri untuk bertahan di kafe sampai Alindya mengetahui keburukan Kaivan saat di belakangnya.


"Lelaki sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya, walau saya harus mati setelah ini setidaknya saya tidak mengingkari janji." Radit menyikat lantai kamar mandi dengan semangat walau wajahnya sudah terlihat pucat karena merasa kelelahan.


Radit yang tidak bisa bekerja terlalu keras pun memaksakan diri demi janjinya. Tidak ada yang tahu jika di balik penampilannya yang sempurna ternyata ia hanyalah seorang pria dengan penyakit yang membuat tubuhnya lebih lemah.


Pandangannya kini mulai berkunang-kunang tetapi ia tetap memaksakan diri untuk bekerja hingga akhirnya ia menyerah. Radit terdiam seorang diri di dalam toilet yang tengah ia bersihkan, rasa sesak di dadanya ia coba untuk mengatasinya sendiri. Hingga akhirnya ia melihat bayangan wajah sosok yang di kenalinya, dalam pandangan yang tidak begitu jelas ia mendengar seruan kekhawatiran yang di ucapkan oleh sosok tersebut.


"Astaga Radit! lo kenapa?" Andra merangkul tubuh lemah Radit dan membawanya ke ruang istirahat karyawan.


Setelah membaringkan tubuh Radit di sebuah kursi, Andra berlari mencari keberadaan Alindya yang ternyata tengah berada di dalam ruangannya bersama Lisa.


"Kak, Radit ka! Radit pingsan di toilet." Andra berbicara dengan mengatur napasnya yang seolah segera habis setelah berlari.


"Alin, lo apain lagi tuh anak baru!" seru Lisa berlari di belakang Alindya.


Alindya yang merasa bersalah, segera berlari menuju ruang istirahat karyawan untuk melihat keadaan Radit.


Di lihatnya tubuh Radit yang terbaring lemah di atas kursi, Alindya menghampirinya dan berusaha menyadarkan Radit dengan memberikan aroma minyak angin di sekitar hidungnya dengan begitu panik berharap agar Radit segera sadar.


"Apa gue telpon kak Roy aja ya?" Alindya merogoh sakunya mencari keberadaan ponselnya.


Tangan Alindya tiba-tiba tertahan oleh sebuah tangan yang terasa dingin menempel di kulitnya. "Jangan panggil dia, saya sudah terlalu sering merepotkannya. saya mohon izin pulang saja." Radit berusaha untuk bangun.


Alindya yang merasa bersalah, ikut membantu membangunkan tubuh Radit yang tampak begitu lemah. "Gue anterin lo balik!"

__ADS_1


Tatapan Alindya penuh rasa khawatir saat berbicara kepada Radit, karena tidak memungkinkan untuk nya pulang sendiri akhirnya Radit menerima tawaran Alindya untuk mengantarnya pulang.


Alindya bergegas menyiapkan mobilnya, sementara Andra membantu Radit berjalan menuju mobil Alindya. "Tapi kita nggak bisa ikut nganter kak, kakak bisa sendiri kan?"


Andra yang masih memiliki banyak pekerjaan pun tidak bisa ikut mengantar Alindya ke rumah Radit.


"ya udah, kalian selesain aja kerjaan kalian!" ucap Alindya kemudian ia melajukan mobilnya menuju rumah Radit.


Dalam perjalanan, Alindya tak hentinya melihat Radit yang hanya diam terbaring di kursi belakang. Alindya semakin merasa khawatir melihat keadaan Radit dengan wajah yang begitu pucat.


"aduh., kalo dia kenapa-kenapa gimana dong? gue kan cuma mau ngerjain dia doang, kok jadi gini sih!" ucap Alindya dalam hatinya.


Tak butuh waktu lama, Alindya sudah sampai di rumah Radit. Merasa mobil yang di tumpanginya berhenti, Radit pun dengan perlahan membawa tubuhnya untuk bangun, Alindya begitu sigap membantu Radit untuk keluar dari dalam mobil.


Alindya melingkarkan tangannya di pinggang Radit dan memapahnya sampai di depan pintu rumah.


"sudah cukup sampai di sini saja, kau boleh kembali ke kafe!" ucap Radit dengan perlahan mencari kunci rumah dari dalam sakunya.


"Terserah kau saja!" Radit berjalan gontai memasuki rumahnya.


Beberapa kali Radit hampir terjatuh saat hendak memasuki kamarnya, beruntung Alindya dengan sigap menopang tubuh Radit yang lebih tinggi dari dirinya. Walau begitu Alindya adalah gadis yang kuat di bandingkan gadis lain seusianya.


"Terima kasih, kau pergilah! saya hanya butuh waktu untuk beristirahat." Radit menutupi tubuhnya dengan selimut kemudian memejamkan mata.


Melihat wajah Radit yang tampak pucat membuat Alindya tidak tega untuk meninggalkannya, ia memberanikan diri memegang kening Radit untuk sekedar mengecek suhu tubunya.


Alindya begitu panik saat menyentuh kening Radit yang begitu panas.


"Ya ampun, panas banget badannya!" Alindya bergegas menuju dapur untuk mengambil air.

__ADS_1


Alindya kembali terkejut saat melihat dapur yang begitu rapi dan bersih seperti dapur yang baru di bangun, Radit memang sangat menyukai kebersihan dan kerapihan hingga tak heran rumahnya pun terasa begitu nyaman.


"Heran gue, anak cowok rumahnya rapi banget. apa dia ga tinggal sendirian?" gumam Alindya melihat sekelilingnya.


Dengan cekatan Alindya mengompres kening Radit, sementara Radit terlihat hanya memejamkan matanya dan memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya.


Alindya semakin merasa bersalah, ia tidak tahu jika Radit yang tampak memiliki tubuh sehat ternyata dia begitu lemah.


"kakak.. tunggu saya kak! saya mau ikut kakak" ucap Radit yang matanya masih terpejam.


"Ya ampun, badannya panas banget sampe ngigo dia!" Alindya menempelkan sebuah kain di kening Radit.


Alindya bergegas keluar rumah menuju apotek membelikan obat untuk Radit, ia tidak berani untuk menghubungi Roy karena Radit sendiri yang melarangnya untuk memberitahukan kepada Roy.


Setelah mendapatkan obat, Alindya kembali ke rumah Radit. Ia segera membangunkan Radit agar memakan bubur yang di belinya tadi setelah membeli obat.


"Lo harus makan yang banyak. gue gak mau kalo lo sakit terus kafe gue jadi sepi lagi!" Alindya memegang mangkuk berisi bubur dan menyuapi Radit.


Radit hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Alindya dengan wajah khawatirnya.


Sinar matahari perlahan mulai meredup, Radit masih tertidur setelah meminum obatnya. Alindya merasa tidak tega jika meninggalkan Radit sendirian di rumah, ia juga sudah mulai bosan menemani Radit yang masih tertidur.


Untuk mengusir rasa bosannya, Alindya berjalan ke luar rumah menuju sebuah pohon yang cukup besar di samping rumah Radit. Ia segera menaiki sebuah ayunan yang berada pada pohon tersebut, Alindya sangat menikmati permainan yang cukup sederhana, semilir angin yang menerpa rambut panjangnya membuat ia merasakan kedamaian.


"Hah.. tenang sekali di sini, rasanya semua beban pikiran gue hilang!" Alindya memejamkan matanya menikmati tubuhnya yang tengah berada dalam ayunan.


Radit yang merasa tubuhnya mulai membaik pun perlahan turun dari tempat tidurnya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamarnya mencari keberadaan Alindya yang telah merawatnya.


Perlahan Radit berjalan menyusuri setiap sudut rumahnya mencari Alindya, tetapi ia sama sekali tidak menemukannya. Ia memilih untuk duduk di sebuah kursi di dekat jendela sekedar mengistirahatkan tubuhnya yang masih terasa lemah.

__ADS_1


"ternyata dia di sana!" ucap Radit melihat ke luar jendela.


__ADS_2