
Radit tampak begitu panik saat melihat jari telunjuk Alindya mengeluarkan darah karena terkena pisau saat memotong cokelat. Ia bergegas mencari Lisa untuk membantu mengobati Alindya, tetapi Lisa ternyata belum sampai di kafe. Radit semakin panik saat tidak ada satu orang pun yang bisa membantunya, sebab para karyawan tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Tidak mau terlalu lama membuat Alindya mengeluarkan banyak darah, Radit yang sebenarnya takut saat melihat darah pun memilih untuk memberanikan diri mengobati luka Alindya. Radit bergegas membawa kotak obat menuju Alindya yang tengah berada di dapur sesuai arahannya.
Perlahan Radit membuka kotak obat tersebut kemudian ia mengambil kapas dan botol alkohol untuk membersihkan darah yang menempel di jari Alindya. Radit menumpahkan alkohol pada kapas, dengan begitu perlahan ia berusaha menempelkan kapas tersebut pada jari Alindya seraya sedikit memejamkan matanya.
Sebenarnya Alindya tidak merasa begitu kesakitan karena ia sudah terbiasa menghadapi anggota tubuhnya yang sering kali terluka. Alindya melihat Radit seperti orang yang tengah menutupi rasa takutnya, ia segera mengambil kapas dari tangan Radit. "Udah, sini biar gue aja yang kasih obat!"
Alindya mulai mengobati lukanya, ia tampak terlihat santai seolah tidak sedang terjadi apa-apa. Alindya yang penasaran, menanyakan kenapa Radit tampak ketakutan saat melihat darah.
"apa lo takut kalo liat darah?" tanya Alindya.
"hmm iya, ada sedikit rasa takut saat melihatnya!" ucap Radit mengalihkan pandangannya dari Alindya.
Alindya yang tengah memasangkan plaster pun merasa penasaran. "Kenapa bisa takut? apa lo juga ada trauma sama darah? berarti selama ini lo hidup dalam rasa trauma dong, karena trauma lo bukan sama wanita yang pake riasan tebal aja."
Selama ini memang Radit menjalani hidup dalam rasa traumanya, sudah lima belas tahun sejak kepergian kakaknya yang membuat Radit merasa trauma karena kejadian di masa lalunya yang terus terbayang dalam benaknya.
"ya, hidup saya memang di penuhi oleh rasa takut karena trauma yang selalu saya rasakan. terkadang saya ingin hidup dalam mimpi yang saya buat sendiri dan melupakan semua rasa takut di kehidupan nyata saya!" ucap Radit.
"kalo boleh tau, memangnya apa yang udah terjadi sampe lo jadi trauma kayak gini?" tanya Alindya penasaran.
"itu terjadi pada lima belas tahun yang lalu," ucap Radit dengan tatapan yang seolah memandang jauh kembali ke masa lalunya.
Lima belas tahun yang lalu....
Di pagi hari itu terasa seperti pagi biasanya, tidak ada firasat buruk apapun yang di rasakan oleh keluarga Wardhana.
Kala itu Ravendra masih berusia delapan tahun dan memiliki seorang kakak bernama Rafael yang berusia dua belas tahun, mereka berada di lingkungan sekolah yang sama karena pak Arif sengaja mencari sekolah yang membuat mereka selalu bersama.
__ADS_1
Rafael yang lebih berani dari Ravendra pun mengajaknya untuk bermain sebelum jemputan mereka datang, kebetulan hari itu pulang lebih awal dari biasanya.
"dek, kita pergi main dulu yuk! kalo main di rumah aja bosen tau," ajak Rafael.
"tapi, kak. kita kan harus pulang kalo sekolah udah selesai," jawab Ravendra polos.
"ya, gak apa-apa dek. sekali ini doang kok!" seru Rafael tersenyum.
Ravendra pun mengiyakan keinginan kakaknya untuk pergi bermain terlebih dahulu, ia tidak menyangka jika pertama kalinya ia membohongi orang tua akan mengawali rasa trauma yang di alaminya seumur hidup.
Mereka berdua berjalan di luar lingkungan sekolah tanpa memberitahukan siapapun jika mereka akan pergi tanpa pengawalan yang setiap hari mereka dapatkan.
Rafael merasa senang karena ia merasa bebas dari para pengawal yang selalu ada kemana pun mereka pergi.
Akan tetapi kesenangan Rafael mendadak hilang ketika di datangi seorang wanita dengan riasan wajah tebal dan bibir dengan lipstik berwarna merah marun.
"Hey kalian mau kemana?" sapa wanita yang usianya tidak jauh berbeda dari bu Felicia dengan senyum ramahnya.
Di saat mereka diam, ternyata menjadi kesempatan wanita tersebut untuk mengatur rencananya.
"kalian jangan takut, tante adalah teman lama papa kalian! sekarang papa kalian ada di rumah tante dan menyuruh tante menjemput kalian!" wanita itu tersenyum melihat ke arah Rafael dan Ravendra.
Kedua kakak beradik itu merasa terkejut saat mendengar kata papa, mereka sangat takut kepada ayah mereka yang begitu keras dalam mendidik.
Tanpa berpikir panjang, Rafael mengiyakan ajakan wanita tersebut. Mereka pun menaiki mobil yang di kendarai oleh wanita yang bernama Karina.
Sepanjang perjalanan, Karina mengajak mereka mengobrol dengan sangat akrab membuat mereka yakin jika Karina adalah orang yang baik. Hingga akhirnya mereka di buat terkejut saat Karina menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang terlihat seperti rumah kosong tak berpenghuni.
"kenapa kita di sini?" tanya Rafael penuh kecurigaan.
__ADS_1
Ravendra hanya bisa memegangi tangan sang kakak dan bersembunyi di baliknya karena merasa begitu ketakutan.
"haha.. kau tenang saja, di dalam ada papa kalian sudah menunggu!" seru Karina tersenyum sinis.
Suasana yang hangat tiba-tiba berubah menjadi sangat mencekam ketika Karina memaksa mereka berdua untuk masuk ke dalam rumah tua yang jauh dari pemukiman penduduk itu. Tangan Rafael di cengkram dengan kuat oleh Karina yang terus menariknya, sekuat tenaga Rafael mencoba melepaskan tangannya dari Karina tetapi hal itu menjadi sangat mustahil karena Rafael yang begitu kecil di bandingkan dengan Karina.
Ravendra terus menangis kala tangannya juga ikut di seret oleh Karina, dengan kasarnya tubuh kedua bocah itu di dorong ke dalam sebuah ruangan yang hanya memiliki sedikit cahaya dari jendela kecil.
"kalian diam saja di sini, aku akan memanggil papa kalian!" seru Karina kemudian pergi dan mengunci pintu ruangan.
Ravendra terus memegangi tangan Rafael karena begitu ketakutan. "Kakak, aku mau pulang!"
Rafael yang juga merasa takut, berusaha untuk menenangkan adik kecilnya itu dengan membuat dirinya terlihat berani.
"kau tenang saja, aku pasti akan temukan jalan kita untuk kembali ke rumah!" ucap Rafael memegang kedua pundak Ravendra.
Sementara itu Karina tengah berusaha menghubungi Pak Arif.
"halo pak Arif Wardhana, apakah Anda masih mengenali suara saya?" sapa Karina tersenyum dari balik telepon genggamnya.
Pak Arif terkejut saat mendengar suara wanita yang tak asing lagi di telinganya dengan nada bicara yang selalu penuh ancaman dan membuatnya merasa emosi.
"KAU! mau apa lagi menghubungi saya?" bentak pak Arif.
Karina tersenyum sinis, seolah ia memiliki dendam yang sangat besar kepada pak Arif.
"saya mempunyai berita baik untuk Anda! Rafael dan Ravendra saat ini sedang bermain di rumah saya, apakah Anda tidak ingin ikut bergabung dengan kami?" ucap Karina santai.
Kedua mata pak Arif terbelalak mendengar ucapan Karina. "Kau jangan macam-macam dengan mereka!"
__ADS_1
"Oh Anda takut, ya? kalau begitu, mari kita sepakati tawaran yang saya berikan." Karina tersenyum puas.