When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 20: Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah, terlihat seorang pemuda dengan rambut yang sedikit di buat berantakan dan kacamata yang dikenakan nya di tambah dengan tas ransel di pundaknya tengah mengendarai sebuah motor klasik menuju tempat dimana ia akan bekerja.


"Ternyata enak juga naik motor, tapi saya harus memakai jaket agar tangan saya terlindungi!". Ravendra memegang kemudi motornya dengan perasaan senang.


Ya, Ravendra sudah berada dalam mode penyamarannya dan tengah menuju lokasi tempatnya akan bekerja sesuai arahan yang di berikan Roy.


Tak sampai setengah jam, Ravendra sudah sampai di halaman parkir tempat ia akan bekerja. Ravendra memarkirkan motornya dan melepaskan helm serta jaket yang dikenakannya, di lihatnya sebuah tulisan besar di atas bangunan yang menunjukkan nama tempat tersebut.


"AL Cafe!". Ravendra berjalan sambil menatap dekorasi cafe yang menurutnya cukup unik.


Ravendra yang terus berjalan tanpa fokus menatap ke depannya membuat Ravendra tidak menyadari ada seorang gadis yang tengah terburu-buru keluar dari kafe, hingga akhirnya tabrakan pun terjadi.


"Mas kalo jalan liat-liat dong!". Alindya memunguti kertas miliknya yang berserakan di depan pintu kafe.


"Maaf, tadi mbak nya juga gak liat ke depan kan?". Ravendra ikut membantu Alindya tanpa menatap wajahnya, begitupun dengan Alindya yang hanya fokus pada tugas kuliahnya yang harus segera di kumpulkan.


Tidak terima jika di salahkan, Alindya kembali ngotot mengatakan jika Ravendra lah yang telah menabraknya. Alindya terus memarahi Ravendra sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah wajah Ravendra tanpa memberi kesempatan Ravendra untuk membela dirinya sendiri.


Mereka saling bertatapan, Ravendra menyadari jika Alindya adalah gadis yang telah berulang kali menabraknya.


"kenapa dia lagi? dasar ceroboh! jika saya terus menghadapinya, penyamaran saya bisa ketahuan. tapi dia memang menyebalkan sekali", umpat Ravendra dalam hatinya.


Ravendra terkejut saat melihat wajah Alindya yang sudah tidak asing lagi baginya karena ini adalah kali ketiga mereka bertabrakan, tentu hal itu membuat Ravendra merasa heran mengapa harus selalu bertabrakan dengan Alindya.


Melihat Ravendra yang hanya diam mendengar ocehannya, Alindya memilih pergi dengan perasaan kesalnya.


"Awas aja lo kalo ketemu lagi!". Alindya menunjukkan wajah kesalnya kepada Ravendra kemudian pergi.


Pagi ini Alindya sudah berjanji untuk mengumpulkan tugasnya karena kemarin ia telah merusak tugasnya dengan tidak sengaja menumpahkan minuman ke atas kertas tugasnya.


Alindya begitu terburu-buru meninggalkan kafe tanpa memperpanjang masalahnya dengan Ravendra. Ravendra yang melihat Alindya dengan tatapan serupa, penuh kekesalan.


"Nabrak sendiri malah orang lain yang di marahi!". Ravendra kembali melanjutkan langkah kakinya untuk mencari pemilik kafe sesuai arahan dari Roy.

__ADS_1


"selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?", tanya Andra salah satu karyawan dengan sopan, sesuai perintah Alindya setiap orang yang masuk ke kafenya harus di perlakukan dengan baik.


"oh iya, say mau ketemu pemilik kafe ini?" tanya Ravendra.


Andra pun segera mengantarkan Ravendra ke ruangan Lisa setelah mendengar jika Ravendra sudah membuat janji dengan pemilik kafe. Roy memang telah berpesan kepada Alindya agar menerima Ravendra sebagai karyawannya.


Alindya yang tengah sibuk dengan kuliahnya pun menitipkan pesan kepada Lisa agar menerima karyawan baru rekomendasi dari Roy yang memang pelanggan setia kafe.


"oh kamu yang di rekomendasikan sama kak Roy, ya? siapa nama kamu?" tanya Lisa setelah mendengar penjelasan Ravendra.


"nama saya Rav... Radit. ya, nama saya Radit!" jawab Ravendra terbata-bata karena ia hendak menyebutkan nama aslinya.


Tanpa menaruh kecurigaan, Lisa langsung menerima Radit sebagai karyawan baru.


Lisa meminta bantuan Andra agar mengajari Radit sebagai karyawan baru.


"Nah sekarang kita mulai dari membereskan meja!". Andra memberikan alat-alat pembersih meja.


Radit terdiam, ia merasa ragu saat menatap alat pembersih meja yang di pegang oleh Andra.


Radit segera mengenakan sarung tangannya dan dengan senang hati ia menerima alat pembersih yang diberikan oleh Andra.


Melihat hal itu Andra mulai ragu kepada Radit, sambil memperhatikan cara kerja Radit, Andra bertanya dalam hatinya. "Apakah dia mampu melakukan pekerjaan seperti ini?".


Andra terus memperhatikan Radit yang tampak senang melakukan pekerjaannya, karena baginya kebersihan adalah sebagian dari dirinya yang selalu melengkapi hari-harinya.


"selesai!", ucap Radit membuat Andra terkejut.


Hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, Radit membuat meja yang tadinya begitu berantakan menjadi tampak bersih dan rapih.


Andra ternganga melihat kemampuan Radit yang begitu menakjubkan baginya. "Gila, lo belajar di mana ilmu kayak gitu bro?". Andra menggelengkan kepalanya merasa kagum.


Radit tersenyum melihat Andra yang begitu terkejut. "Terus lanjut yang mana lagi nih?".

__ADS_1


Kegiatan bersih-bersih pun terhenti ketika Alindya tiba di kafe. Ia terkejut melihat meja-meja yang tempak rapi dengan posisi meja satu dengan yang lainnya begitu pas dengan jarak yang sama.


Alindya melihat Andra dan Radit tengah membereskan meja, dengan rasa penasaran Alindya berjalan menghampiri Andra.


"Apa dia karyawan yang di rekomendasi sama kak Roy, ya?". Rasa penasarannya berubah menjadi rasa kesal ketika melihat lelaki yang bersama Andra.


"Hey, siapa yang suruh dia kerja di sini?". Alindya menunjuk wajah Radit dengan kesal.


"maaf kak, kak Lisa tadi yang menerimanya!", jawab Andra ketakutan.


Alindya segera menuju ruangan di mana Lisa berada. Radit terkejut melihat Alindya tiba-tina datang dengan wajah marahnya.


"Siapa dia?". Radit menatap kepergian Alindya.


"dia dan kak Lisa adalah pemilik kafe ini!", jawab Andra.


Andra mengkhawatirkan Radit, ia takut jika Alindya akan memecat Radit di hari pertamanya bekerja.


"Lisa, siapa yang menyuruh dia bekerja di sini?". Alindya membuka pintu ruangan membuat Lisa terkejut.


"Ya ampun Alin, ngagetin ajah! dia siapa maksud lo? Radit?". Lisa bangkit dari duduknya dan menghampiri Alindya yang berdiri di dekat pintu.


"yah gue gak tau nama dia siapa! pokoknya kenapa dia bisa kerja di sini?", tanya Alindya semakin kesal.


"lah kan lo yang nyuruh gue terima karyawan rekomendasinya kak Roy, ya dia. si Radit itu rekomendasinya kak Roy!", Lisa menjawab dengan santainya.


Di tengah perdebatan yuang terjadi, tiba-tiba seorang karyawan mengetuk pintu. Ia memberitahu jika ada seorang pelanggan yang mengeluhkan tentang makanan yang di pesannya, mendengar hal itu Lisa dan Alindya segera menghampiri pelanggan tersebut dan meminta maaf.


"kalau makanan di sini masih seperti ini, bisa-bisa para pelanggan juga tidak ingin datang lagi ke sini!", ucap pelanggan tersebut kemudian pergi.


Alindya tampak putus asa karena ia belum menemukan koki sebaik pak Rudi.


"Udahlah, Lin. kita coba cari lagi pengganti pak Rudi. gue yakin pasti kafe bakal rame lagi!". Lisa mengusap pundak Alindya untuk membuat Alindya semangat lagi.

__ADS_1


"Bolehkah saya mencoba untuk membantu kafe ini?". Radit menghampiri Alindya dan Lisa yang tengah duduk di salah satu meja tamu.


__ADS_2