
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Roy mengemudikan mobilnya membawa Ravendra menembus jalanan yang masih terasa ramai walau langit berwarna hitam.
Ravendra duduk tepat di belakang Roy yang fokus pada jalanan yang di laluinya, Ravendra yang masih memakai piyama rumah sakit yang hanya ia tutupi dengan jaketnya, terus mengeluhkan jika ia merasa lapar.
"Sepertinya saya tidur begitu lama hingga perut ini terus meronta-ronta seolah ingin pergi mencari makan sendiri!". Ravendra menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menatap ke luar jendela seraya memegangi perutnya yang terasa lapar.
"ya, lo emang tidur lama banget! giliran gue baru tidur lo bangunin," ujar Roy.
Ravendra hanya tersenyum mendengar sahabatnya yang tengah kesal itu. Tiba-tiba ia teringat akan kafe tempat ia tadi pagi bekerja dan memikirkan apakah para pelanggan menyukai makanan buatannya atau malah sebaliknya.
Kalau mereka tidak menyukainya, maka dengan berat hati Ravendra harus mencari tempat kerja lain untuk melanjutkan misinya menjadi orang biasa agar mendapatkan cinta sejatinya.
Sebenarnya dalam hati kecilnya, Ravendra sudah langsung merasa nyaman dengan suasana kafe saat pertama kali menginjakkan kaki di kafe milik Alindya dan Lisa itu.
Rasanya berat jika ia harus berhenti bekerja di kafe, mengingat para karyawannya pun begitu ramah padanya walau dirinya menyamar menjadi orang biasa. Hanya saja salah satu pemilik kafe yang selalu melakukan sesuatu agar membuat Ravendra mengundurkan diri.
"Roy, apakah pemilik kafe itu menghubungimu selama saya tidur?", tanya Ravendra.
Mendengar pertanyaan Ravendra membuat Roy terkejut, bagaimana bisa Ravendra tidak mengetahui nama bosnya. Tetapi Roy lebih terkejut lagi saat melihat notifikasi di ponselnya, pasalnya ada lebih dari sepuluh panggilan tak terjawab dari Alindya sejak ia meninggalkan kafe.
"Apa? ini sungguh sulit di percaya!". Roy menginjak rem tiba-tiba membuat tubuh Ravendra terlempar ke depan.
"Ahh! hey, sebenarnya kau bisa mengemudi atau tidak?". Ravendra memegangi keningnya yang membentur kursi kemudi di depannya.
"Oh sorry, bro! gue tadi kaget pas liat notifikasi. ternyata bos lo yang galak itu khawatir juga sama lo. nih dia coba nelpon gue lebih dari sepuluh kali, pasti dia mau tanyain keadaan lo!". Roy membalikkan badannya memperlihatkan ponselnya kepada Ravendra sambil tertawa.
Ravendra melirik ponsel Roy tanpa berkata apa-apa, menurutnya Alindya sekedar ingin tahu saja apakah Ravendra hanya berpura-pura sakit atau tidak.
"Saya tidak peduli, yang terpenting sekarang adalah saya lapar dan ingin makan!". Ravendra melipat kedua tangannya dan kembali bersandar pada sandaran kursi.
"dasar kayak anak kecil aja!", umpat Roy. Roy kembali mengemudikan mobilnya menuju tempat yang di inginkan oleh Ravendra.
Pada saat yang bersamaan, Alindya tampak tengah berguling-guling di atas tempat tidurnya karena sedari tadi ia tidak bisa memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, pasti akan terbayang kejadian siang tadi yang membuat dirinya terus merasa bersalah.
Kali ini di dalam pikirannya bukan lagi Kaivan, melainkan yang ada di benaknya saat ini hanyalah Radit. Alindya benar-benar merasa bersalah karena mengira Radit hanya berpura-pura saja.
"Ahh.. selama ini belum pernah gue ngerasa se nyesel ini!". Teriak Alindya memukuli bantalnya.
"apa gue udah keterlaluan sama dia ya?", tambahnya.
Alindya berencana untuk menjenguk Radit esok hari dan meminta maaf kepadanya.
Keesokan harinya...
Alindya terlihat sudah siap untuk pergi ke kampus, tidak seperti biasanya yang harus di bangunkan terlebih dahulu oleh sang kakak.
"tumben udah rapi! ada angin apa nih?", ledek Alice.
"Angin ribut!". Alindya menyuapkan nasi goreng yang ada di hadapannya dengan kasar membuat kedua orangtuanya tertawa.
Suasana sarapan keluarga Bagaskara terasa menyenangkan saat para anggota keluarga menikmatinya dengan tenang tanpa harus ada perdebatan terlebih dahulu diantara mereka.
Terlihat raut wajah Rasya begitu ceria, ia terus mengembangkan senyumannya dan ia juga sesekali terlihat menari.
Hal itu mengundang Alindya untuk bertanya, ia menatap wajah anak kecil itu seraya berkata. "Heh anak kecil, kenapa kau terlihat sangat bahagia hari ini?".
Rasya menjawab pertanyaan Alindya sambil menari di lantai dengan girangnya. "Rasya mau jalan-jalan sama mama!".
"beneran? tante ikut dong!" rengek Alindya.
"No.. no.. tante gak boleh, tante kan mau kuliah!" Rasya menggelengkan kepalanya.
Alice menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan anak kesayangan nya yang masih sangat polos tetapi sudah mengerti akan hal di sekelilingnya itu.
"Oke kalo begitu tante berangkat duluan ya! selamat bersenang-senang Rasya." Alindya mendaratkan sebuah kecupan di pipi tembam Rasya.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Alindya pergi menuju kampusnya dengan segera dan berharap bisa cepat menjenguk Radit untuk meminta maaf kepadanya.
Sedangkan Alice dan Rasya, mereka berdua menuju sebuah pusat perbelanjaan dengan Alice menyetir mobilnya sendiri. Seperti biasa, Alice tidak ingin menggunakan jasa sopir pribadi orang tuanya karena ia hanya ingin melakukannya sendiri.
Setibanya di pusat perbelanjaan, Rasya tampak bahagia berjalan-jalan dan menemani sang ibu berbelanja. Sesekali ia bermain di play ground layaknya anak-anak seusianya yang sangat senang bermain.
"Gimana boy, apakah sudah puas bermain?" Alice berjalan menggandeng tangan Rasya yang tampak gembira.
"Belum, mama! aku belum puas main, tapi hari ini aku mau bobo dulu. besok kita main lagi ya, mama!" Rasya menatap wajah Alice dengan senyuman menggemaskannya.
Saat tengah asyik mengobrol sambil berjalan, tanpa di sadari ada seorang pria yang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.
Pria berpakaian rapi dengan setelan jas tersebut terus mengikuti Alice dan Rasya, ia hendak menyapa tetapi masih ada rasa ragu dalam hatinya.
Ia hanya memperhatikan Alice dan Rasya dari kejauhan, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk mencoba menyapa.
"hai, Alice!" sapanya sedikit canggung.
"Kamu?" Mata Alice terbelalak saat melihat pria yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Apa kabar? kamu sudah besar, ya!" Pria itu berlutut menyeimbangkan tinggi badanya dengan Rasya dan mengusap kepalanya.
Tampak mata pria tersebut berkaca-kaca saat membelai rambut Rasya, ada rasa ingin memeluknya dengan erat melepas rindu yang teramat dalam.
Alice yang juga berkaca-kaca menahan air mata dan rasa sesak di dadanya, menarik tangan Rasya agar menjauhi pria itu.
"jangan sentuh anak ku!" ucap Alice penuh penekanan.
Alice segera menggendong Rasya dan pergi meninggalkan pria tersebut. Pria itu hanya bisa terdiam menatap Alice yang menyimpan rasa benci terhadapnya begitu dalam, rasanya ucapan maaf pun tidak cukup untuk menebus rasa bersalahnya.
Alice berjalan dengan cepat menuju tempat parkir, ia segera memasangkan sabuk pengaman pada Rasya kemudian ia duduk memegang kemudi.
Tanpa terasa air mata Alice yang sedari tadi tertahan menetes begitu saja, ia berusaha untuk menjadi kuat demi Rasya.
__ADS_1
"Kenapa kau datang lagi setelah aku bersusah payah untuk mengobati luka yang kau berikan kepadaku, Kevin!" Alice menyeka air matanya dan segera melajukan mobilnya.