
Pagi hari ini tampak cerah saat melihat Alindya yang begitu bersemangat mengemudikan mobilnya menuju kampus, ia berharap agar jam kuliahnya cepat selesai kemudian ia pergi menemui Radit untuk membujuknya kembali membuat bekerja di kafe nya.
Tak hentinya Alindya bersenandung menyanyikan lagu-lagu ceria seraya menggoyangkan sedikit badannya menanti kemacetan segera berakhir, ia sangat senang saat membayangkan wajah para pelanggan yang memuji makanan di kafe nya.
Di tengah perjalanan tiba-tiba ponselnya berbunyi, Alindya segera meraihnya kemudian memasangkan earphone di telinganya.
"Halo. kenapa Lis?" Sapa Alindya sambil terus memegang kemudinya.
"Gawat Alindya, gawat! pelanggan udah banyak yang ngantri nih buat pesen brownis nya si Radit." Lisa tampak mondar-mandir sambil memegang ponselnya.
"Ya ampun! ya udah gue telpon kak Roy dulu ya!" Alindya segera menutup telponnya.
Alindya kembali mencoba menghubungi Roy, sebenarnya ia merasa tidak enak karena sejak semalam ia terus menghubungi Roy tetapi tidak ada jawaban sama sekali.
Lisa pun belum sempat meminta nomor dan alamat rumah Radit, hal itu membuat Alindya dan Lisa kesulitan untuk menemukan Radit, jalan satu-satunya hanyalah Roy yang merekomendasikan Radit untuk bekerja di kafe.
Ponselnya terus berdering, tetapi sang pemilik ternyata masih tertidur dengan nyenyak di atas kursi apartemen nya. Mendengar suara nyaring ponsel Roy, membuat Radit terusik. Ia yang menginap di apartemen Roy, tengah bersantai menikmati secangkir kopi di pagi hari.
"Hey bangun! ponselmu berisik sekali." Radit menarik-narik kaos yang di kenakan Roy dengan dua jarinya berharap agar Roy cepat bangun.
Roy merasa sangat lelah akibat semalaman menemani Radit menyantap berbagai jenis makanan yang di inginkan nya, hingga jam tidurnya pun terganggu.
Berbeda dengan Radit, walaupun ia juga tidak tidur malam tetapi masih tetap bangun pagi karena sudah menjadi kebiasaannya.
Merasakan kaosnya di tarik-tarik, Roy dengan malas meraba sekelilingnya mencari keberadaan ponsel yang terus berbunyi.
"Alindya? astaga, pasti dia nyariin lo!" Roy mengernyitkan alis menatap ponselnya dan segera bangkit kemudian menatap ke arah Radit yang berdiri di depannya.
Sesuai perjanjian semalam, Radit ingin membuat Alindya mencarinya dan meminta maaf agar ia bisa kembali bekerja di kafe Alindya. Terdengar rumit memang, Radit yang masih ingin bekerja di kafe tetapi ia membuat kesan seperti Alindya lah yang membutuhkan dirinya untuk kembali bekerja di kafe.
__ADS_1
Roy pun berhasil membuat Alindya meminta maaf kepada Radit, ia memberikan alamat rumah sewaan yang akan menjadi tempat tinggal Radit selama dalam penyamarannya.
"hah.. lo kenapa sih ga langsung aja masuk kerja, padahal lo juga udah nyaman kerja di sana kan?" tanya Roy setelah selesai menutup teleponnya.
"seperti sedang bermain layangan, jika ingin menang kau harus bisa menarik dan mengulur benangnya kan?" jawab Radit dengan santainya.
"Terserah lo aja deh!" Roy pergi meninggalkan Radit untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.
Setelah jam kuliah selesai, Alindya bergegas menuju alamat rumah yang telah di berikan oleh Roy. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kafe, Roy memang sengaja mencari rumah yang berdekatan dengan kafe Alindya dan kebetulan sekali rumah itu cukup di sukai oleh Radit.
Alindya akhirnya sampai di rumah Radit yang terasa sejuk dengan beberapa tanaman di halaman depan rumah dan ada sebuah pohon yang cukup besar, di pohon tersebut ada sebuah ayunan yang membuat Alindya tertarik.
"wah.. kayaknya seru tuh main ayunan di situ!" ucap Alindya dengan wajah gembiranya.
Tanpa ia sadari, Radit dan Roy tengah berdiri menatapnya sambil tersenyum. Alindya memalingkan wajahnya dari pohon besar itu dan kembali berjalan menuju rumah, ia terkejut saat kedua pria itu berdiri tepat di hadapannya.
"Haha.. kalo kamu mau bermain dulu, silahkan!" Roy tertawa lalu berjalan memasuki rumah mengikuti Radit.
Alindya hanya bisa tersenyum menahan malunya kemudian berjalan memasuki rumah bergaya klasik dengan pernak pernik zaman dulu yang masih tertata rapi di ruang tamu.
Alindya sangat menyukai gaya rumah tersebut, ia merasa takjub karena di zaman modern seperti saat ini masih ada rumah bergaya klasik seperti itu.
"Selamat datang di rumah saya, sepertinya kamu menyukai rumah ini!" ucap Radit menyambut kedatangan Alindya.
"ya, sepertinya begitu!" jawab Alindya.
"Langsung saja pada inti permasalahan, waktu saya terbatas. saya harus buru-buru melakukan pekerjaan lainnya." Roy yang tengah memainkan jari-jarinya di atas ponsel pun ikut berbicara.
Alindya segera mengutarakan maksud kedatangannya untuk meminta maaf dan mengajak Radit kembali bekerja di kafe.
__ADS_1
"bukankah kamu bilang saya hanya berpura-pura membuat kue itu agar saya bisa bertahan di kafe mu?" tanya Radit.
"ya, untuk itu saya juga minta maaf. setelah saya mendengar penjelasan dari Andra, saya percaya jika kamu yang membuatnya. maka dari itu saya harap kamu bisa kembali bekerja di kafe saya!" ucap Alindya tersenyum.
"jika kau ingin aku kembali bekerja, ada syaratnya!" seru Radit.
Alindya melihat Radit yang duduk bak seorang CEO yang tengah berbicara dengan karyawannya membuat Alindya merasa kesal dan melontarkan umpatan di dalam hatinya.
"sombong sekali dia. oke sekarang gue cuma tinggal turutin dia, abis dia masuk ke kafe lagi, giliran gue yang ngerjain dia!" ucap Alindya dalam hatinya.
Alindya mengiyakan permintaan Radit yang hanya ingin bekerja di bagian dapur saja dengan gaji dua kali lipat di bandingkan dengan gaji karyawan baru dan selalu mendapatkan makan siang yang di belikan langsung oleh Alindya.
Seusai menyepakati keinginan Radit, Alindya pun mengajaknya ke kafe untuk memulai kembali pekerjaannya, karena motornya masih ada di kafe maka Radit dan Alindya pergi ke kafe bersama.
Seperti biasa, Radit tidak melupakan kebiasaannya walau ia tengah menyamar sebagai karyawan. Sebelum membuka pintu mobil Alindya, Radit menyemprotkan hand sanitizer terlebih dahulu pada telapak tangannya.
Tidak sampai di situ, Radit juga menyemprotkan cairan disinfektan pada kursi bagian belakang yang akan ia duduki.
Melihat kelakuan Radit yang terlalu berlebihan membuat Roy menutup wajahnya dengan satu tangan. "Astaga, kenapa dia melakukan itu!"
Sementara Alindya yang sudah duduk di kursi kemudi menatap Radit dengan wajah kesalnya. "Hey, menurutmu mobilku ini sarang kuman apa? pake di semprot-semprot segala!"
Belum sempat Radit menjawab ucapan Alindya, Roy datang menghampiri Alindya. "Alin.. maaf, dia orangnya memang seperti itu. di tempat manapun dia melakukan hal yang sama!"
Alindya terdiam, ia ingat cerita Andra yang mengatakan jika dirinya melihat Radit yang melakukan pekerjaannya dengan sangat rapi dan bersih tanpa ada setitik noda pun di sekitarnya.
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu!" Alindya segera mengemudikan mobilnya menuju kafe.
Roy akhirnya bisa bernapas lega saat Alindya tidak kembali marah kepada Radit. "Hah... untung dia gak marah, bisa gagal rencananya kalo Ravendra ga bisa kerja di kafe lagi!"
__ADS_1