When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 29; Gara-gara Sakit


__ADS_3

Sore hari di kediaman keluarga Wardhana, terlihat ibu Felicia berjalan mondar-mandir di ruang keluarga. Perasaannya begitu tidak enak saat tiba-tiba ia teringat akan anak semata wayangnya yang tengah berada jauh dari dirinya.


"bagaimana keadaannya sekarang, sudah empat belas hari aku tidak bertemu dengannya!" ucap bu Felicia cemas.


Bu Felicia mencoba menghubungi Roy untuk mengetahui bagaimana keadaan Ravendra yang saat ini tinggal sendirian demi menjalankan penyamarannya.


"astaga, kenapa Roy tidak mengangkat teleponnya!" gumam bu Felicia.


Bu Felicia juga berusaha menghubungi pak Arif untuk menanyakan kabar dari Ravendra, tetapi sayangnya mereka tidak menjawab telepon bu Felicia juga. Ternyata pak Arif dan Roy tengah mengadakan rapat di kantor, karena mereka begitu serius pada rapatnya membuat mereka tidak memperhatikan ponselnya masing-masing.


Roy juga tidak sempat mengecek keadaan Ravendra karena pekerjaan di kantor begitu menguras pikirannya. Ravendra yang di khawatirkan ibunya pun saat ini tengah berdiri di pintu rumah menatap Alindya yang asyik menikmati permainan barunya hingga ia lupa waktu.


"Hey, apa kau mau terus bermain hingga malam hari?" Radit berteriak ke arah Alindya dan membuatnya terkejut.


"Eh, lo udah sembuh?" tanya Alindya menghentikan ayunan yang terbuat dari sepotong kayu, kemudian berjalan menghampiri Radit.


"ya, sepertinya saya sudah sedikit membaik. terima kasih sudah merawat saya." ucap Radit tersenyum.


"hmm... gue juga minta maaf, gara-gara gue ngasih kerjaan yang berlebihan jadi bikin lo sakit!" ucap Alindya mengulurkan tangannya.


Radit terdiam mendengar ucapan Alindya, ia ragu untuk menyambut tangan Alindya yang di ulurkan nya untuk meminta maaf kepada Radit.


Tetapi Radit tidak ingin membuat Alindya merasa tersinggung atas perilakunya yang tidak mau berjabat tangan, pada akhirnya Radit menyambut tangan Alindya.


Di pegangnya tangan Alindya dan dengan cepat ia melepaskannya kembali karena Radit begitu terkejut saat pertama kali berjabat tangan dengan seorang wanita.


Radit segera melihat punggung tangannya yang tampak berwarna merah akibat tersentuh oleh Alindya.


"maaf, saya tidak bisa berjabat tangan!" ucap Radit menutupi tangannya yang tampak berwarna merah.


Hal itu mengundang tanya pada Alindya yang melihat keanehan di tangan Radit setelah berjabat tangan dengannya.


"Radit, kenapa tangan lo jadi merah pas nempel di tangan gue?" tanya Alindya penuh selidik.

__ADS_1


"Ng.. nggak, kamu mungkin salah lihat!" Radit menyembunyikan tangan nya di balik badan.


Alindya yang penasaran mendekati Radit dan mencari cara untuk bisa melihat tangannya, Radit terus berjalan mundur saat Alindya semakin berjalan maju mendekatinya.


"tidak Alindya, kau tidak perlu tahu!" ucap Radit berjalan mundur.


"gue cuma mau pastiin kalo lo bukan alien atau makhluk jadi-jadian lainnya!" jawab Alindya dengan berani berjalan mendekati Radit.


Radit yang terus berjalan mundur tidak begitu memperhatikan jalannya, hingga akhirnya ia menabrak tembok yang ada di belakangnya, hal itu memberikan kesempatan bagi Alindya untuk melihat tangan Radit.


Saat tubuh Radit menempel di tembok, Alindya dengan cepat menarik tangan Radit dan melihatnya. Radit yang tidak memiliki pilihan lain pun akhirnya memperlihatkan tangannya kepada Alindya.


Alindya terkejut melihat tangan Radit yang seketika muncul bercak merah setelah berjabat tangan dengannya.


"Ini kenapa? lo bukan alien kan?" tanya Alindya menunjuk tangan Radit.


"Bukan, mana ada alien setampan ini!" ucap Radit berjalan menuju kursi ruang tamu.


"Lalu, kenapa tangan lo bisa merah pas di pegang gue?" tanya Alindya penasaran.


Radit merasa nyaman saat melihat tatapan mata Alindya kepadanya, rasanya ia ingin terus berada di dekatnya dan ia merasa tidak sungkan untuk berbagi cerita kepada Alindya.


"sebenarnya saya mengidap Dermatographia. kulit saya akan menimbulkan bercak merah setelah tersentuh, saya merasa malu jika harus terlihat oleh orang lain!" jelas Radit menundukkan wajahnya, ia takut jika setelah itu akan di kucilkan karena penyakit anehnya.


Melihat Radit sudah memberanikan dirinya untuk menceritakan suatu hal yang ia rahasiakan selama ini dari orang banyak, membuat Alindya merasa kagum dan ingin membangkitkan kembali semangat Radit.


"itu berarti lo bisa nulis apapun di tangan lo kan? menurut gue sih lo gak usah malu, justru itu jadi suatu keunikan. lo jadi bisa tulis nama orang yang spesial buat lo di situ. kan ga perlu bikin tato deh, hehe.." Alindya berkata dengan santainya sambil tertawa.


Radit terkejut mendengar pendapat Alindya tentang penyakitnya, berbeda dengan mantan kekasihnya dulu yamg menganggap dirinya adalah pria yang aneh dengan penyakit yang terbilang langka, ternyata masih ada yang bisa menerima keadaan dirinya.


"Heh! spesial?" Radit mengangkat sebelah bibirnya saat mendengar kata orang spesial. Alindya heran melihat ekspresi wajah Radit yang seolah menertawakan kepedihan dirinya sendiri.


"iya spesial, kayak nama pacar misalnya!" seru Alindya sedikit ragu.

__ADS_1


Radit tiba-tiba tertawa saat mendengar kata pacar yang keluar dari mulut Alindya.


"hahaha... sayangnya saya tidak memilikinya, mana ada gadis yang mau dengan saya yang memiliki penyakit aneh!" ucap Radit menertawakan dirinya sendiri.


"hust! lo gak boleh bilang kayak gitu, lo sama aja menghina ciptaan Tuhan lho," ucap Alindya menatap Radit.


Mereka mulai lebih banyak mengobrol layaknya sebagai teman, berbagi cerita tentang diri mereka masing-masing, kadang mereka tertawa bersama hingga tanpa mereka sadari hari sudah mulai gelap.


Roy yang telah menyelesaikan rapat dan pekerjaan di kantor pum terkejut saat melihat banyak panggilan tak terjawab dari bu Felicia, tanpa menunggu lama Roy segera menghubungi kembali bu Felicia untuk menanyakan apa yang terjadi.


Roy segera melajukan mobilnya menuju kafe setelah mendengar kekhawatiran bu Felicia, ia percaya jika firasat seorang ibu itu lebih kuat.


Roy yang terlalu sibuk mengurus kantor pun merasa bersalah karena tidak sempat menengok keadaan Radit, padahal ia tahu jika Radit tidak bisa bekerja terlalu berat,


Roy akan merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada Radit.


Sesampainya di kafe, ia segera menanyakan keberadaan Radit kepada Lisa yang kebetulan tengah berada di depan kafe.


"dimana Radit?" tanya Roy dengan wajah panik.


Mendengar suara Roy membuat Lisa terkejut dan menghentikan pembicaraannya dengan salah satu karyawan nya.


"hmm anu, kak! tadi Radit sakit dan pulang di antar Alindya," jawab Lisa canggung.


"apa? dia sakit? kenapa tidak menghubungiku?" tanya Roy panik.


"maaf, kak! tadi kita juga mau kasih tau, tapi Radit ngelarang kita buat hubungin kakak," jelas Lisa.


Roy yang merasa panik segera melajukan mobilnya menuju rumah Radit, ia merasa bersalah karena tidak sempat untuk mengecek keadaan Radit.


Tak butuh waktu yang lama, Roy telah sampai di depan rumah Radit, Roy segera berlari memasuki rumah mencari keberadaan Radit. Ia terkejut saat melihat mobil Alindya yang masih terparkir di halaman rumah Radit.


"oh, jadi kalian udah mulai akrab!" gumam Roy tersenyum saat melihat Radit dan Alindya tampak sedang bersenda gurau di ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2