When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 41: Mengetahui Kebenaran


__ADS_3

Sinar matahari kini telah berganti dengan terangnya rembulan yang menghiasi langit malam dan di temani oleh ribuan bintang hingga menambah suasana damai di malam itu.


Ravendra duduk di teras rumah masa kecil Salsa dan membayangkan senyum ceria dari gadis kecil yang mampu membuatnya bangkit dari kesedihan setelah kepergian sang kakak, Rafael.


Terlintas di benaknya rasa penasaran dengan seperti apa wajah Salsa kini setelah ia beranjak dewasa.


"Hmm maaf bu, apakah ada foto Salsa yang terbaru? Saya ingin melihatnya, barang kali nanti saat saya kembali ke kota tiba-tiba bertemu dengannya". Ucap Ravendra tersenyum.


Bu Asha dengan senang hati menyambut permintaan Ravendra karena ia tahu jika Ravendra adalah anak yang baik walau baru pertama kali di jumpainya.


"Oh iya, ada. Tunggu sebentar, ya!". Bu Asha bergegas mencari sebuah foto yang di simpannya dengan rapi.


Tak butuh waktu lama, bu Asha memberikan sebuah album foto yang menyimpan beberapa foto yang pernah di kirimkan oleh Salsa kepadanya.


"Ini dia, Salsa adalah keponakan yang paling dekat dengan saya. Dia selalu memberikan kabar tentang dirinya kepada saya, katanya saat ini dia tengah mengelola sebuah kafe". Ucap bu Asha memberikan album foto kepada Ravendra.


Ravendra sedikit terkejut saat mendengar kata kafe, pikirannya segera tertuju pada Alindya.


"Kafe? Apakah dia...? Ah, tidak mungkin! Bisa saja kafe lain, bukankah banyak sekali kafe di kota?". Ucap Ravendra dalam hatinya.


Ravendra segera membuka sebuah album yang di berikan oleh bu Asha. Perlahan ia membuka sampul album yang berwarna merah muda itu, terlihat Salsa dengan senyuman yang sama tampak dari pose dirinya dari samping.


Kemudian Ravendra kembali membuka halaman album berikutnya, berharap ada pose lain yang memperlihatkan wajah Salsa dengan jelas. Tak lupa ia melengkungkan senyuman seraya membuka tiap halaman yang masih memperlihatkan fotonya bersama teman-temannya.


Namun, ada suatu hal yang terlihat jelas di mata Ravendra saat melihat foto Salsa bersama seorang teman wanitanya.


"Bukankah ini Lisa?". Tanya nya dalam hati.


Di dekatkan nya foto tersebut ke wajahnya berharap apa yang di lihatnya itu tidaklah benar, tetapi semakin ia lihat semakin mirip wanita di foto itu dengan Lisa.

__ADS_1


Ravendra lebih meneliti lagi wajah Salsa hingga akhirnya pada halaman terakhir ia menemukan foto Salsa yang tengah berpose sendirian dengan wajah yang cukup jelas dalam pandangannya.


"Astaga, bukankah ini Alindya?". Tanya Ravendra terkejut menatap foto di halaman terakhir.


Mendengar pertanyaan Ravendra membuat bu Asha ikut terkejut.


"Iya, memang nama lengkap Salsa adalah Alindya Salsabila. Sejak kecil dia lebih suka di panggil Salsa, tetapi setelah masuk sekolah dan teman-temannya memanggil dengan panggilan Alindya, ia memilih untuk menggunakan nama itu hingga sekarang!". Jelas bu Asha membuat Ravendra terdiam.


"Berarti kamu sudah bertemu dengannya?". Tanya bu Asha tersenyum senang.


Ravendra terus memandangi foto yang di pegangnya, ia merasa kecewa pada dirinya sendiri kenapa tidak dari dulu ia mengetahui kebenarannya. Saat ini yang di rasakannya adalah ingin segera kembali ke kota dan menemui Alindya untuk menceritakan kebenaran yang baru ia ketahui.


Dalam hati Ravendra, ia ingin sekali mengembalikan ingatan Alindya tentang masa kecil mereka dan segera melamar Alindya sebelum pak Arif menjodohkannya dengan wanita lain.


"Sepertinya saya harus segera kembali ke kota, bu!". Ucap Ravendra merapihkan pakaiannya dan berpamitan kepada bu Asha.


Akan tetapi karena hari semakin malam, bu Asha tidak mengizinkan Ravendra untuk pergi sebab di luar sangatlah sepi ketika malam hari berbeda dengan pagi atau siang hari, ia takut jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan pada Ravendra di dalam perjalanan pulang.


"Tidak, bu! Saya harus segera menjelaskan semuanya kepada Alindya sebelum terlambat!". Tegas Ravendra.


Melihat keyakinan kuat Ravendra membuat bu Asha tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya bu Asha membiarkan Ravendra kembali ke kota.


"Hati-hati, nak! Seharusnya seorang pewaris sepertimu di dampingi oleh pengawal setiap bepergian kemana pun, agar bisa selalu terlindungi!". Ucap bu Asha dengan tatapan sayu seraya menyambut tangan Ravendra yang menyalaminya.


Ravendra hanya tersenyum mendengar ucapan bu Asha. Sebenarnya Ravendra masih betah berlama-lama di rumah masa kecil Alindya, mengingat bu Asha yang hanya tinggal seorang diri karena suami dan anaknya tengah pergi bekerja di kota.


"Lain kali bolehkah saya datang lagi ke sini, bu?". Tanya Ravendra kepada bu Asha yang begitu ramah kepadanya.


"Oh tentu saja, ajak Alindya sekalian ke sini ya!". Ucap bu Asha tersenyum senang.

__ADS_1


Ravendra pun pergi meninggalkan rumah bu Asha mencari transportasi umum menuju kota.


Sudah cukup jauh Ravendra berjalan, tetapi ia belum juga menemukan kendaraan satu pun yang melintas di jalanan tersebut, jalanan yang ia lewati benar-benar sangat sepi.


Ravendra sempat merasa putus asa karena tidak terlihat satu orang pun di jalanan, tetapi beberapa saat kemudian sebuah harapan pun datang kepadanya. Di lihatnya sebuah mobil dari kejauhan melaju ke arahnya, Ravendra berinisiatif untuk menghentikan laju mobil tersebut.


Ravendra melambaikan tangannya ke arah mobil sedan berwarna hitam tersebut tanpa berpikir panjang.


"Bolehkah saya menumpang sampai ke depan?". Tanya Ravendra saat mobil itu berhenti dan sang pemilik membukakan kaca jendela.


"Ayo, naiklah!". Ucap pria pengemudi mobil tersebut.


"Terima kasih!". Seru Ravendra duduk di samping pengemudi.


Seakan pria tersebut sudah mengetahui Ravendra walau wajahnya tertutupi oleh masker dan topi.


"Tidak baik seorang pewaris seperti mu berjalan sendirian tanpa pengawalan di tempat yang asing pada malam hari seperti ini!". Ucap pria yang usianya beberapa tahun lebih tua dari Ravendra.


Mendengar ucapan pria tersebut membuat Ravendra terkejut, "bagaimana Anda tahu siapa saya?",


"Haha.. itu tidak penting, ambilah ini! untuk berjaga-jaga karena banyak yang mengincar nyawamu!". Pria tersebut memberikan sebuah kantong kertas kepada Ravendra.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di terminal bis, "maaf, aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini karena aku juga masih ada urusan lain!", ucap pria tersebut.


"Tidak apa-apa, terima kasih banyak sudah mengantarkan saya sampai di sini!". Jawab Ravendra kemudian pria tersebut pergi.


Ravendra merasa heran dengan daerah saat ini ia berada, karena semua tempat begitu sepi ketika malam hari sampai terminal bis pun tampak begitu sepi.


Setelah Ravendra bertanya kepada salah satu petugas terminal bis, ternyata bis yang menuju kota baru saja berangkat dan membuat Ravendra harus menunggu sendirian karena sudah tidak ada lagi penumpang lain.

__ADS_1


"Astaga, sesulit inikah keluar rumah sendirian!". Keluh Ravendra bersandar di salah satu kursi.


Tiba-tiba saja ada beberapa orang berbadan besar menghampiri Ravendra. "Hei kau, ikutlah dengan kami! ada yang ingin bertemu denganmu!".


__ADS_2