When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 13: Sahabat Sejati


__ADS_3

Roy yang tengah sibuk di kantor bersama pak Arif tiba-tiba berulang kali mendapat panggilan dari Ravendra melalui ponselnya, karena suara ponsel Roy yang mengganggu akhirnya pak Arif menyuruh Roy untuk mengangkatnya.


"halo, apa lo gak tau ini masih jam kerja? gue bisa di cincang sama bos besar kalo kayak gini terus!", bisik Roy yang menjauh dari pak Arif saat menerima telepon.


"haha. kau jangan berlebihan, papa mana mungkin mencincang pria jomblo seperti kau!", ledek Ravendra.


"apa mau lo, buruan!", seru Roy.


"galak sekali kau! tolong belikan saya espresso, jika saya menyuruh orang lain pasti rasanya akan berbeda", pinta Ravendra.


Dengan terpaksa menuruti permintaan Ravendra, tetapi sebelumnya ia harus meminta izin pak Arif terlebih dahulu.


"apa? baru sembuh dia meminta minum kopi? seistimewa apa kopi itu, coba belikan satu untuk saya!", pinta pak Arif.


Tanpa menunggu lama, Roy bergegas menuju kafe Al. Dengan kepiawaian nya mengemudi, ia berhasil menembus kemacetan yang sering sekali terjadi, akhirnya Roy sampai di kafe Al.


Ia di sambut oleh karyawan Alindya yang akan membuatkan pesanan nya.


"tunggu dulu, dimana pemilik kafe yang biasanya meracik espresso?", tanya Roy.


"oh maaf, pak! kak Alindya sedang menemui tamu nya!", jawab karyawan dengan sopan.


"sepertinya dia tamu istimewa ya? tapi saya minta tolong agar pesanan saya di buatkan olehnya, katakan saja saya pelanggan setia di sini. kalau tidak, saya tidak akan datang lagi!", pinta Roy membuat karyawan tersebut segera menemui Alindya.


Melihat karyawan Alindya yang segera bergegas menemui bosnya membuat Roy merasa di hargai sebagai pelanggan.


"tamu istimewa? apa dia pacarnya? gue jadi penasaran kayak apa orang yang beruntung memiliki gadis seperti Alindya!", ucap Roy dalam hatinya.


Pandangan Roy menyisir setiap sudut kafe berharap melihat kekasih Alindya, tetapi tak lama kemudian Alindya datang dan tanpa basa-basi lagi ia segera membuatkan pesanan Roy


Setelah berhasil mendapatkan pesanan nya, Roy terlebih dahulu kembali ke kantor untuk memberikan satu cup espresso kepada pak Arif yang ingin mencicipinya juga.


"Ini pak, espresso nya!". Roy dengan sopan meletak kan cup di atas meja.

__ADS_1


Pak Arif meraih cup dan segera meminum nya perlahan, tampak dari raut wajahnya pak Arif begitu menikmati rasa dan aroma kopi nya.


"Pantas saja Ravendra begitu ketagihan, rasanya memang pas!". Pak Arif mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia menyukainya.


Roy pun berpamitan pergi ke rumah untuk mengantarkan pesanan Ravendra.


Di tengah perjalanan, untuk yang kesekian kalinya ia bertemu dengan Amara dan Kaivan yang tengah memasuki sebuah restoran.


Merasa kesal melihat kekasih sahabatnya berselingkuh, Roy mengikuti mereka dan menegur Amara.


"Hey gadis murahan! pacar lagi sakit, lo malah enak-enakan jalan sama cowok lain!". Roy menarik tangan Amara karena merasa begitu kesalnya.


Roy tidak peduli dengan Amara yang meronta meminta Roy untuk melepaskan tangannya, rasanya Roy ingin menyeret Amara ke hadapan pak Arif agar mendapat hukuman. "Lepasin tangan dia!". Kaivan menarik Amara ke dalam pelukannya.


"Dasar gak tau malu! udah porotin sahabat gue, sekarang malah selingkuh sama mantan. Apa jangan-jangan lo sengaja deketin Ravendra cuma mau duitnya doang, hah!". Roy mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Amara.


Kaivan yang terpancing emosinya pun menangkis tangah Roy dan menarik kerah kemeja Roy hingga terjadi perkelahian di parkiran restoran.


Tak lama setelah itu, security datang untuk melerai perkelahian mereka. Roy pun memilih pergi dari restoran dengan tatapan penuh dendam pada Kaivan dan Amara.


"Ravendra! prestasi lo banyak, kuliah juga di luar negeri tapi lo bego banget pacaran sama cewek gampangan kayak dia!". Roy menggerutu sambil mengemudikan mobilnya menuju rumah Ravendra.


Luka lebam yang menutupi hampir sebagian wajahnya tidak begitu di rasakannya, Roy masih sangat kesal karena sahabatnya telah di khianati oleh gadis yang masih menjadi kekasihnya.


Roy rela melakukan apa saja demi membela sahabat yang sudah banyak menolongnya itu, bahkan luka seperti ini belum seberapa di bandingkan dengan semua kebaikan Ravendra kepadanya.


Dengan kecepatan tinggi, Roy mengemudikan mobilnya berharap agar segera sampai di rumah Ravendra. Tak peduli dengan umpatan demi umpatan pengendara lain yang jalannya di ambil oleh Roy layaknya tengah berada di lintasan balap, ia hanya ingin segera sampai.


Kali ini Roy berniat untuk memberitahu Ravendra jika Amara sudah berselingkuh di belakangnya. Ia tidak tega melihat sahabatnya terus di khianati gadis yang hanya menginginkan harta saja.


Akhirnya Roy tiba di rumah mewah keluarga Ravendra, para security dan asisten rumah tangga terkejut saat melihat wajah Roy yang masih meneteskan darah.


"ya ampun mas Roy mukanya kenapa?", tanya Feby satu asisten rumah tangga yang terbilang masih muda.

__ADS_1


"biasa lah urusan lelaki! dimana tuan muda kalian?", tanya Roy.


"tuan sedang duduk di taman belakang rumah!", jawab Feby.


Roy pun segera menuju taman belakang rumah, tak lupa ia membawa paper bag yang berisi cup espresso pesanan Ravendra.


Tampak dari kejauhan, Ravendra tengah duduk sendirian menatap beberapa pot bunga milik ibunya yang berisi berbagai jenis bunga, raut wajahnya tampak sayu seperti tengah menyimpan rasa sedih.


"Nih pesenan lo!". Roy menyodorkan paper bag tepat di depan wajah Ravendra yang tengah melamun.


"Astaga Roy! kau mengejutkan saya". Ravendra meraih paper bag dari tangan Roy.


Tanpa berkata apa-apa Roy duduk di samping Ravendra dan menatap Ravendra yang tengah membuka paper bag tanpa melihat ke arah wajahnya yang tampak berbeda.


"apa lo nggak mau bilang makasih sama gue?", tanya Roy membuat Ravendra menoleh ke arahnya.


"Astaga.. wajah mu kenapa? siapa yang telah memukuli mu!". Ravendra meletakkan cup nya di atas meja, ia terkejut melihat penampilan Roy.


Tanpa mendengar jawaban dari Roy, Ravendra memanggil Feby untuk mengambilkan kotak P3K dan meminta Feby untuk mengobati Roy.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada mu?". Ravendra menatap Roy dengan serius.


"gue tadi liat Kaivan sama Amara di restoran, gue samperin tuh mereka eh malah gue di hajar sama musuh bebuyutan lo yang gak lain adalah mantan pacar nya pacar lo. ah gimana sih, pokoknya begitu deh!", jelas Roy dengan rasa kesal yang masih di rasakannya.


"Oh pantesan!". Ravendra termenung menatap jauh ke depan nya.


Bukan nya marah, Ravendra malah tersenyum getir mengingat pesan nya yang hanya di lihat saja oleh Amara tanpa balik menghubungi nya hingga sekarang. Melihat Ravendra yang hanya diam saja membuat Roy merasa geram.


"Sekarang juga mending lo akhiri hubungan lo sama dia! hubungan macem apa kayak gitu, pacaran tuh pasti endingnya bakal nyakitin! makanya gue males pacaran". Roy tiba-tiba saja bangkit dari duduknya membuat Feby yang tengah mengobatinya terkejut.


"tapi Feby nggak bakal nyakitin kok, mas Roy!", sahut Feby.


Ravendra yang awalnya merasa sedih, tiba-tiba tertawa mendengar ucapan Feby yang sepertinya menyukai Roy, sementara Roy merasa risih dengan kehadiran Feby kemudian Roy menyuruhnya pergi walau luka di wajahnya belum selesai di obati.

__ADS_1


__ADS_2