When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 36: Kesetiaan yang Sia-sia


__ADS_3

Alindya tidak langsung percaya dengan ucapan Radit karena ia pikir jika Kaivan hanya sedang membicarakan soal pekerjaan, mungkin Kaivan meminta Amara untuk menjadi model sebuah produk miliknya.


Dengan terus berpikir positif, Alindya memilih untuk pergi meninggalkan restoran karena ia tidak ingin mengganggu pekerjaan Kaivan.


"Ayo kita pulang!" ajak Alindya beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu dulu!" Radit menarik pergelangan tangan Alindya sambil menatap ke arah Kaivan.


Radit menahan kepergian Alindya pada saat matanya menangkap sebuah momen yang mungkin akan membuat Alindya tersadar.


Terlihat Kaivan tengah memegang jemari Amara dan memasangkan sebuah cincin berlian yang di belinya tadi. Amara tampak tersipu melihat Kaivan mencium tangannya setelah selesai memasangkan cincin.


"Kapan kau akan memutuskan hubunganmu dengan gadis urakan itu?" tanya Amara dengan wajah cemberutnya.


"Secepatnya, sayang!" seru Kaivan kembali mencium punggung tangan Amara.


Hal itu tertangkap jelas oleh kedua mata Alindya, seketika itu hatinya terasa hancur berkeping-keping. Sia-sia sudah pengorbanannya untuk setia menanti kedatangan kekasih yang begitu ia banggakan hingga ia rela membantah orang tuanya demi untuk bisa bersama dengan nya.


Dengan emosi yang memuncak, Alindya berjalan menghampiri Kaivan dengan cepat ia mendaratkan telapak tangannya tepat di pipi Kaivan dan membuat Kaivan terkejut.


"Dasar buaya! kalo lo mau pacaran sama dia harusnya lo ngomong, biar gue gak capek nungguin lo terus!" teriak Alindya menahan rasa sakit dalam hatinya.


"Dan lo ulet bulu, makan tuh cowok yang gak pernah bisa setia!" ucap Alindya menatap tajam ke arah Amara.


"Kurang ajar lo ngatain gue ulet bulu!" ucap Amara kesal mengambil segelas air dan berniat menyiramkan ke wajah Alindya.


Melihat Alindya dalam bahaya, Radit dengan sigap melindungi Alindya dengan menggunakan tubuhnya hingga air dari gelas tersebut membasahi punggungnya.


"Sudah cukup, kau sudah tahu kebenarannya. sekarang lebih baik kita pulang!" ajak Radit memegang tangan Alindya.


"Tunggu! Lo siapa?" tanya Kaivan menghentikan langkah kaki Radit.

__ADS_1


"Kau tidak perlu tahu, urus saja sikap kekasihmu agar bisa lebih sopan lagi!" ucap Radit kemudian berlalu meninggalkan restoran.


Sampai ke halaman parkir, Radit tidak pernah melepaskan tangan Alindya. Tanpa sadar ia terus berjalan dengan nyamannya memegang tangan Alindya yang masih terdiam memikirkan Kaivan yang sudah mengkhianatinya.


Perlahan air mata Alindya pun menetes mengingat janji Kaivan dahulu yang tidak akan meninggalkannya walau dalam keadaan apapun, tangis Alindya pun pecah saat memori ingatannya kembali memutar saat-saat indah bersama Kaivan hingga akhirnya Kaivan sendiri yang membuat hatinya hancur.


Mereka pun sampai di tempat mobil Alindya terparkir, di situlah Radit baru menyadari jika sedari tadi tangannya terus menggenggam tangan Alindya.


"Astaga! maaf, saya tidak bermaksud apa-apa." ucap Radit segera melepaskan tangannya.


"Nggak apa-apa, justru gue mau bilang terima kasih karena lo udah tolongin gue!" ucap Alindya menyeka air matanya.


"Tidak perlu berterima kasih. Ayo, saya antar kamu pulang!" ajak Radit.


Alindya terdiam, ia merasa tidak ingin bertemu orang tuanya karena merasa malu mengingat saat dulu ia tidak mempercayai ucapan orang tuanya yang mengatakan jika Kaivan adalah pria yang tidak baik untuk nya.


"Gue mau balik sendiri, lo balik naik taksi aja ya!" ucap Alindya mengulurkan tangannya meminta kunci kepada Radit.


"Saya tidak bisa membiarkan seorang wanita yang tengah menangis menyetir mobil sendirian! jika terjadi apa-apa, pasti saya akan menjadi tersangka utama." seru Radit membuka pintu mobil.


"Jadi, kamu mau saya antar kemana?" tanya Radit memasang sabuk pengamannya.


"Terserah lo aja!" ucap Alindya dengan wajah sayu.


Radit terdiam sejenak memikirkan sesuatu, ia meraih ponselnya untuk mengirim pesan kepada Roy, setelah itu ia segera melajukan mobilnya.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat yang telah di rencanakan oleh Radit. Alindya berjalan mengikuti langkah kaki Radit memasuki sebuah hotel bintang lima membuat Alindya menaruh rasa curiga.


"Hey lo mau ngapain ke sini? Lo jangan macem-macem ya!" bisik Alindya kepada Radit.


Radit hanya tersenyum mendengar bisikan Alindya yang tampak begitu waspada.

__ADS_1


"Selamat malam mbak, saya Radit!" ucap Radit kepada resepsionis hotel.


"Oh mas Radit, iya mas silahkan masuk!" seru resepsionis tersenyum ramah.


Alindya merasa curiga saat semua karyawan hotel terlihat begitu ramah kepada Radit, banyak pertanyaan yang ingin Alindya lontarkan kepada Radit, tetapi semuanya ia urungkan saat Radit membawanya ke rooftop hotel tersebut.


Ternyata beberapa saat yang lalu Radit meminta Roy untuk memberitahukan karyawan hotel yang memang milik keluarga Wardhana jika ia akan datang dan memakai rooftop.


"Kau jangan khawatir, saya hanya mengajakmu untuk melihat langit malam yang kebetulan malam ini sangat cerah. Biasanya jika merasa sedih atau kesal saya pasti ke sini tapi tidak berniat untuk melompat dari sini ya!" jelas Radit sedikit bercanda.


Alindya tampak terpukau melihat ribuan bintang di langit dan bulan yang terasa begitu dekat kepadanya, rasa sedih yang tadi menyelimuti hatinya pun sedikit demi sedikit mulai menghilang.


"Haha.. gue kira lo mau lompat ke bawah sana. Jadi kalo lo ngerasa sedih, lo ke sini?" tanya Alindya.


"Ya bisa di katakan jika di sini lah tempat yang paling tenang, jauh dari keramaian dan kita bisa berpikir lebih jernih, untuk apa kita merasa sedih. Dunia ini luas, kita bisa mendapatkan kebahagiaan lain!" seru Radit menatap ke langit malam yang bertaburan bintang.


Alindya tersenyum, ia tidak menyangka jika pemuda yang awalnya menumbuhkan rasa benci malah saat inilah yang membuat dirinya bangkit dari rasa sedih yang membuat dirinya rapuh.


"Sekali lagi terima kasih!" ucap Alindya menatap wajah Radit yang tengah duduk di sampingnya.


"Apa kau tidak bosan, berulang kali mengucapkan terima kasih?" tanya Radit tersenyum menatap langit.


"Terima kasih udah mematahkan pikiran gue yang ngerasa kalo pisah sama Kaivan adalah akhir dari segalanya!" Alindya tersenyum menundukkan kepala mengingat kebodohannya.


Hal itu membuat Radit mengingat saat pertama kali mendengar kata perpisahan dari Amara yang membuat dirinya begitu terpuruk.


"Itu hal yang wajar bagi seseorang yang sudah berusaha mempertahankan hubungannya hanya seorang diri! Sialnya saya juga pernah merasakan hal itu!" ucap Radit tersenyum menatap langit.


"Jadi lo pernah punya pacar?" tanya Alindya terkejut.


"Gadis yang bersama mantan kekasihmu itu adalah mantan kekasihku!" seru Radit tanpa sengaja dan membuat Alindya tertawa sangat puas.

__ADS_1


Alindya terus tertawa geli seraya memegangi perutnya dan sesekali menyeka air mata yang keluar dari matanya karena terlalu keras ia tertawa.


Radit sama sekali tidak merasa tersinggung saat di tertawakan, justru ia malah senang saat melihat Alindya akhirnya bisa tertawa setelah terus-menerus menangis.


__ADS_2