When Mr. Tricky Meet Alindya

When Mr. Tricky Meet Alindya
Bab 12: Pertemuan Menyakitkan


__ADS_3

Cerahnya mentari pagi ini menambah semangat Alindya yang baru menerima telepon dari sang kekasih,


Kaivan berjanji akan datang ke cafe Alindya pada jam makan siang nanti. Hal itu membuat hati Alindya berbunga-bunga, ia tampak terus bersenandung saat menuju ruang makan yang membuat keluarganya merasa heran.


"kayaknya ada yang lagi berbunga-bunga nih", seru Alice.


Alindya hanya tersenyum sambil mengoles selai pada rotinya. Hal itu menambah kecurigaan sang ayah, ia menebak jika Alindya terlihat senang karena Kaivan.


"Alin, ayah peringatkan kamu agar segera menjauhi pemuda itu! kamu harus secepatnya bertemu dengan pemuda pilihan ayah!", ucap pak Bagaskara dengan tegas.


Raut wajah Alindya yang awalnya tersenyum bahagia, kini memperlihatkan raut kesal dan tidak sukanya. "Ayah, aku udah dewasa! aku bisa bedain mana yang baik dan juga buruk. tolong ayah jangan terlalu ikut campur masalah jodoh aku". Alindya bangkit dari tempat duduknya meninggalkan keluarga yang tengah sarapan.


"ayah, harusnya ayah pelan-pelan kasih tau Alin. ibu takut dia malah berbuat nekad", seru bu Arumi menenangkan pak Bagaskara.


Alindya berjalan dengan wajah kesalnya menuju halaman depan dimana mobilnya terparkir. Tanpa basa-basi ia segera meninggalkan rumah membuat security merasa heran karena biasanya Alindya selalu menyapa dengan ramah, tapi kali ini menatap sekitarnya pun tidak ia lakukan.


Alindya melajukan mobilnya menuju kafe, ia mendadak malas berangkat ke kampus karena teringat ucapan sang ayah yang membuatnya kesal.


Jalanan yang macet membuatnya tambah kesal, ia terus menerus membunyikan klakson membuat pengguna jalan lain ikut terganggu.


"Hey, kau! bisakah berhenti membunyikan klakson, kita juga sama sedang terjebak macet!", seru seorang sopir pribadi. "Oh iya, maaf pak!". Alindya menjawab sambil menganggukkan kepala dengan mulut yang penuh dengan sandwich yang di belinya saat baru keluar rumah tadi.


Bos yang duduk di belakang sopir pribadi tadi ikut memperhatikan Alindya, ia tersenyum melihat Alindya yang tampak bertolak belakang sekali dengan anaknya.


"Kebalikan nya Ravendra! sepertinya rumah akan terasa ramai jika ada dia!". Pak Arif mengembangkan sedikit senyuman menatap ke arah mobil Alindya.


Ravendra yang super bersih tidak akan pernah makan di dalam mobil, karena ia berpikir jika makan di mobil pasti remahannya akan jatuh dan berserakan membuat mobil nya tampak kotor walaupun makanan yang tidak memiliki remah sekalipun.


Tanpa terasa Alindya telah sampai di kafe, ia memutuskan untuk menunggu Kaivan yang berjanji akan datang walaupun jam makan siang masih lama.


Ia terus duduk di kursi yang menghadap ke jalan raya karena kantor Kaivan bekerja kebetulan berhadapan dengan kafe miliknya.


"Lin, gue ke kampus dulu, selamat menanti pacar yang belum pasti akan datang!", ledek Lisa.


Alindya tidak peduli dengan ucapan Lisa, ia tetap menanti Kaivan dengan sabarnya. Hari semakin siang, belum terlihat tanda-tanda kedatangan Kaivan. Tetapi Alindya masih setia menanti kedatangan Ravendra.

__ADS_1


Ia terus duduk menatap ke arah gedung pencakar langit tanpa melayani pelanggan, hari itu ia hanya menanti kedatangan Kaivan tanpa melakukan apa-apa dan menyerahkan seluruh pekerjaan kepada karyawan nya.


Di saat yang bersamaan, Ravendra terbangun dari tidur panjangnya. Perlahan ia membuka matanya, ia terkejut saat menyadari jika dirinya masih berada di dalam kamar.


Ia mencoba bangun tetapi kepalanya terasa berat, di lihatnya selang infus yang menempel pada tangan kirinya.


"apa yang sudah terjadi?", tanya Ravendra mencoba mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


Tiba-tiba bu Felicia datang dengan membawakan nampan berisi makanan untuk Ravendra. Melihat ibunya datang, Ravendra segera menanyakan apa yang sudah terjadi kepadanya.


Bu Felicia menjelaskan apa yang sudah terjadi sambil menyuapi anak semata wayangnya itu. Ravendra tampak senang karena dengan dirinya sakit, ia bisa beristirahat sejenak dari pekerjaannya dan ia juga bisa lebih lama bersama sang ibu.


Setelah selesai makan, ia teringat akan Amara yang semalam tampak marah kepadanya. Lalu ia meraih ponselnya untuk memberitahu jika dirinya sedang tidak sehat untuk mengetes apa kekasihnya itu khawatir kepadanya atau tidak, tetapi setelah menunggu beberapa saat Amara hanya membaca pesan Ravendra tanpa membalasnya.


Raut wajah Ravendra tampak sedih saat mengetahui Amara tidak memperdulikan nya.


"ada masalah apa?", tanya bu Felicia.


"Apa selang ini sudah bisa di lepas? saya sangat tidak nyaman karena belum mandi". Ravendra menunjuk selang yang terpasang di tangan nya.


Ravendra terus meminta agar infusnya segera di lepas, hal itu membuat perawat akhirnya melepaskan nya. Sesaat setelah di lepasnya selang infus, ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri walau plester bekas selang infus masih menempel di tangannya.


"Sepertinya tuan muda sudah benar-benar sehat. kalau begitu tugas saya sudah selesai, permisi!". Perawat meninggalkan bu Felicia yang masih berada di kamar Ravendra.


Menanti Ravendra selesai membersihkan diri adalah hal yang membosankan, karena ia akan membutuhkan waktu lama untuk sekedar mandi apalagi setelah sekian lama terbaring di atas tempat tidur.


"Ravendra, kalau sudah selesai temui mama di ruang keluarga!". Teriak bu Felicia dari depan pintu kamar mandi.


Sementara di kafe Alindya tengah gembira karena orang yang di tunggu-tunggu akhirnya datang. Ia segera mengambilkan minuman untuk Kaivan, saking senangnya ia tidak memperhatikan jalanan hingga membuatnya tersandung dan minuman yang ia pegang tumpah ke baju Kaivan.


"Oh ya ampun, maafkan aku sayang! aku tidak sengaja". Alindya hendak membantu Kaivan untuk membersihkan pakaian nya.


"Aku mau ke toilet dulu". Kaivan meninggalkan Alindya dan rasa bersalahnya.


Tak lama kemudian salah seorang karyawan menghampiri Alindya mengatakan jika ada pelanggan yang ingin memesan espresso buatannya.

__ADS_1


Awalnya Alindya kesal karena ia sudah berpesan agar tidak mengganggunya, tetapi setelah mengetahui siapa pelanggan itu akhirnya Alindya bersedia menemuinya.


"maafkan saya, ini permintaan dari bos. dia tidak mau jika bukan kamu yang membuatkan nya!", seru Roy.


Tanpa banyak bicara Alindya segera membuatkan pesanan Roy sambil menatap ke tempat duduk dimana ia dan Kaivan berada, saat itu Kaivan belum kembali dari toilet, jadi Alindya mempunyai waktu untuk sekedar membuatkan dua cup espresso.


"Terima kasih, maaf mengganggu waktunya!". Roy menerima pesanan nya dan terburu-buru meninggalkan kafe.


Alindya menatap heran ke arah Roy yang berjalan menuju pintu keluar sambil melepaskan appron nya.


"Aneh sekali kak Roy, seperti ada yang sangat gawat!". Alindya segera kembali menuju tempat duduk yang ternyata Kaivan sudah ada di sana.


"apa harus pemilik kafe melayani pelanggan? kemana para karyawan yang kamu miliki!", seru Kaivan.


Di lihat dari raut wajahnya, Kaivan tampak kesal karena harus menunggu Alindya yang baru saja selesai melayani pelanggan.


Penantiannya yang hanya dua menit tidak sebanding dengan penantian Alindya yang berhari-hari menunggu kabar darinya, tetapi Kaivan tidak menyadari itu.


"aku hanya ingin membuat pelanggan merasa senang datang kesini", jawab Alindya santai.


"terserah kamu saja lah! sepertinya sekarang adalah kali terakhir kita bisa bertemu, mulai besok aku akan di sibukkan oleh proyek baru! aku sudah bersusah payah untuk mendapatkan proyek ini, makanya aku akan lebih fokus lagi", seru Kaivan tampak kesal.


Mendengar hal itu membuat Alindya merasa sesak, baru juga bertemu dia sudah bilang akan menghilang lagi.


Sekian lama ia menanti saat-saat bersama Kaivan, sekarang malah Kaivan lah yang seakan-akan ingin menjauhinya.


"Oh, ya udah. semoga sukses proyek barunya!". Alindya menjawab dengan senyuman yang terasa berat karena menahan air matanya.


Kaivan hanya menatap ponselnya, ia sama sekali tidak menatap wajah Alindya yang mulai memerah karena menahan butiran-butiran air mata yang seakan-akan hendak menerobos kelopak matanya.


"baiklah, aku rasa pertemuan kita cukup sampai di sini. lain kali jika ada waktu aku akan menyempatkan diri untuk menemuimu!", seru Kaivan.


Hanya seulas senyuman yang Kaivan tinggalkan sebelum pergi dari hadapan Alindya. Air mata Alindya pun sudah mulai menetes menatap kepergian kekasihnya yang terlalu mementingkan pekerjaan.


Tak mau di lihat oleh karyawan dan pengunjung lain, Alindya bergegas memasuki ruangan pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2