
Dua tahun berlalu sejak Ravendra lulus sekolah menengah atas, kini ia tengah mengenyam pendidikan di salah satu Universitas di Amerika. Berkat kerja kerasnya fokus belajar, ia bisa dengan mudahnya masuk universitas di sana.
Saat ini sisa satu tahun lagi ia akan mendapat gelar sarjana strata satu.
"Hah, tinggal satu tahun lagi. saya harus belajar dengan sungguh-sungguh untuk bisa meneruskan perusahaan papa!". Ravendra duduk di balkon apartemennya sambil menatap bintang di langit Amerika malam itu.
Sejak kecil ia berambisi untuk mengalahkan ayahnya sendiri dalam mengelola perusahaan karena selama itu ia selalu di remehkan oleh sang ayah dan selalu di banding-bandingkan dengan mendiang kakaknya, ia bertekad untuk membuat perusahaan ayahnya lebih berkembang lagi saat di kelola olehnya.
Di Amerika ia tinggal sendiri, kesepian selalu ia rasakan walau sesekali ia ikut teman-temannya pergi berkumpul. Tetapi itu tidak berlangsung lama, mengingat Ravendra adalah orang yang begitu mencintai kebersihan, ia tidak bisa berlama-lama di tempat umum dan itulah yang menjadi kelemahannya.
Namun rasa sepinya sedikit terobati oleh sosok Amara yang selalu mengirim surat elektronik kepadanya sebagai teman yang selalu bisa menghibur.
Awalnya memang Ravendra tampak cuek, tetapi karena ia merasa kesepian dan juga ada rasa kasihan kepada Amara yang tak pernah gentar meski sering ia acuhkan, akhirnya ia menanggapi surat dari Amara.
Berawal dari satu minggu sekali, hingga setiap hari mereka saling berkirim surat dan membuat mereka merasa nyaman satu sama lain.
Satu tahun telah di lewati Ravendra, tanpa disadari kini ia telah lulus kuliah dan saatnya kembali ke kota kelahirannya. Ravendra merasa tidak sabar ingin segera bertemu Amara untuk menyatakan perasaannya secara langsung, rasa nyaman saat bertukar pesan cukup membuatnya terkesan dan bertekad untuk memiliki Amara.
Segala harapan ia gantungkan kepada Amara, ia berharap kehidupannya akan kembali normal layaknya pria dewasa lainnya yang bisa merasakan sentuhan seorang wanita selain ibunya.
Trauma masa kecil yang membawanya pada kehidupan berbeda membuatnya ingin segera sembuh dan mampu menjalani hidup seperti yang lainnya, saat ini ia berharap jika Amara lah yang akan membebaskan dirinya dari trauma itu.
Pesawat yang ditumpanginya mendarat dengan sempurna, para pengawal yang sudah menunggu kedatangan Ravendra segera mengawalnya menuju mobil yang sudah di siapkan.
"perjalanan yang melelahkan, tuan?", tanya sopir pribadi pak Arif.
"Yah, saya merasa lelah sekali. tolong bangunkan saya jika sudah sampai, tepuk saja pundak saya!". Ravendra menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil bagian belakang.
__ADS_1
"baik tuan!", seru seorang pengawal yang duduk di samping sopir.
Tak butuh waktu lama, Ravendra sudah terlelap dengan nyamannya. Mobil pun berjalan beriringan dengan mobil yang di tumpangi Ravendra berada di depan dan di ikuti oleh mobil berisi para pengawal, untuk menjemput anak semata wayang nya pak Arif mengerahkan banyak pengawal demi keselamatan anaknya.
Situasi jalan di sore hari yang tampak lengang mempercepat perjalanan menuju kediaman Wardhana, seorang pengawal pun menepuk pundak dengan hati-hati sesuai perintah yang di berikan Ravendra tadi.
"tuan, kita sudah sampai!", ucap salah satu pengawal.
Mendengar suara pengawalnya, Ravendra segera membuka matanya dan keluar dari mobil yang pintunya telah di bukakan oleh pengawal.
Sambutan hangat langsung ia dapatkan dari sang ibu yang begitu merindukannya, bu Felicia segera memeluk anak kesayangannya itu seraya berkata. "Welcome back, Ravendra sayang! mama kangen banget sama kamu!".
Ravendra membalas pelukan hangat sang ibu dan menciumi keningnya seperti baru berjumpa dengan kekasihnya. Ravendra memang lebih dekat kepada ibunya, sedangkan ia tidak begitu dekat dengan sang ayah karena mereka sering terlibat perdebatan dan sang ayah sering membandingkannya dengan mendiang kakaknya.
"sudahlah ma, biarkan Ravendra masuk. dia harus banyak beristirahat sebelum menghadapi dunia kerja yang akan papa berikan!", seru pak Arif.
Walau sering merasa kesal pada ayahnya, tetapi Ravendra tetap menghormati pak Arif sebagai orang tuanya. "saya ke kamar dulu, pah!", ucap Ravendra.
Setibanya di kamar, Ravendra tak langsung beristirahat. Ia malah mengirim pesan kepada Amara, memberitahukan jika ia sudah sampai.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Amara segera menelepon Ravendra karena merasa dirinya sudah akrab dengan nya. Obrolan pun berlangsung beberapa menit, Ravendra tanpa ragu mengajak Amara untuk pergi makan malam dengan dalih merayakan kelulusannya.
Tentu saja hal itu membuat Amara kegirangan, memang itu yang dia tunggu-tunggu selama ini.
"Yes, satu langkah lagi Amara!". Amara menggenggam ponselnya dengan raut wajah yang sangat gembira.
Ravendra segera memesan tempat di sebuah restoran ternama di kota itu, ia meminta tempat dengan pemandangan kota di malam hari yang indah dan akan menambah kesan romantis. Ia memantapkan hatinya untuk menjadikan Amara sebagai kekasihnya dan berharap jika ia bersamanya akan mampu menjalani hidup yang normal.
__ADS_1
Malam yang di nantikan pun tiba, Ravendra tengah kebingungan memilih pakaian yang cocok untuk menyatakan perasaannya malam ini.
Sudah kesekian kali ia berganti pakaian, tetapi ia belum juga menemukan pakaian yang di rasa cocok untuk dirinya.
Hingga akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah kemeja berlengan panjang dengan warna navy yang ia padukan dengan celana jeans berwarna hitam, sebenarnya mengenakan pakaian apapun ia akan terlihat mempesona karena postur tubuh dan ketampanannya sudah cukup mencuri perhatian banyak orang.
Bunyi jantung yang berdetak kencang mewakili rasa gugup Ravendra yang teramat dalam, ini kali pertama ia akan menyatakan perasaannya dan pertama kali pula ia begitu dekat dengan seorang wanita.
Tanpa berkata apa-apa kepada orang tuanya, Ravendra pergi meninggalkan rumah menuju restoran setelah menerima pasan jika Amara pun tengah menuju ke sana.
Setibanya di restoran, Ravendra bertemu dengan Amara yang juga baru sampai. Amara tampak cantik dengan dress selutut yang di padukan dengan sepatu berhak tinggi, berjalan dengan senyum manisnya menuju Ravendra yang baru keluar dari mobilnya.
"hai, apa kabar?", sapa Amara.
"baik, ayo kita masuk!", ajak Ravendra sedikit gugup.
Mereka memasuki resto dan segera di pandu oleh seorang pelayan menuju lift yang tersedia untuk selanjutnya ke tempat pesanan Ravendra.
Mereka pun menaiki lift tersebut, setelah beberapa menit pintu lift terbuka dan membuat Amara terkejut karena melihat rooftop yang telah di beri dekorasi yang begitu romantis dengan pemandangan ribuan bintang di langit dan keramaian kota di bawah sana.
"bagaimana, apa kamu suka?", tanya Ravendra yang melihat Amara tengah terpesona dengan dekorasi romantis di hadapannya.
"ah iya, aku sangat suka. tapi bukankah ini perayaan atas kelulusanmu?", tanya Amara bingung.
"tidak, sebenarnya saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu!", seru Ravendra kemudian terdengar suara alunan musik romantis yang di mainkan sekelompok pemusik yang ada di samping tempat mereka duduk.
"Maukah kamu jadi pacar saya?". Satu buket besar bunga mawar merah Ravendra berikan kepada Amara yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
Amara terpaku melihat sekumpulan bunga mawar merah yang di ikat menjadi satu dan di hias dengan cantiknya, ukuran nya yang besar membuat dirinya sejenak mengalihkan pandangan dari Ravendra.