
Jika pura-pura membenci mu adalah cara terbaik untuk melupakan mu, maka akan aku lakukan itu.
- ***Rendra***-
Mata Rendra memerah, cairan bening lolos begitu saja dari sudut matanya. Sungguh, Ia rapuh. Wanita yang sangat di cintai nya sudah dimiliki orang lain. Menyalahkan takdir pun, percuma. Karena waktu tidak akan bisa di putar bukan?
"Ma, aku ngga sanggup kalau ketemu Ca." Ada getaran di nada suara Rendra. Ia sedang menangis.
"Ren! Mama tidak pernah mendidik mu untuk jadi pria lemah. Apa yang kau takutkan? Ca tidak akan menyukai dirimu yang lemah." Saras melepas pelukan Rendra. Ia menghela napas panjang saat melihat air mata anaknya. Begitu rapuh kah anaknya saat ini. Sepertinya Saras harus ekstra untuk memberi support kepada anaknya.
Rendra menganggukkan kepalanya. Mama nya benar tidak seharusnya Ia terpuruk hanya karena cinta. Bagaimana pun hidup harus tetap berjalan, dan Ia tidak akan larut dengan kesedihan hanya karena tidak memiliki Clara.
"Mama keluar dulu, Kau istirahat lah?" Saras berjalan keluar meninggalkan kamar Rendra.
"Iya, Ma."
***
Clara masih betah dengan tidur nya. Ia seolah enggan untuk bangun. Saat Meli mencoba membangunkan nya, Ia tidak membuka matanya sedikit pun.
"Kau lelah sekali ya?" Ucap Meli saat melihat Clara yang masih setia memejamkan matanya.
Meli ikut merebahkan tubuhnya di samping Clara. Ia lihat wajah cantik dan teduh sahabatnya tersebut. "Orang baik seperti dirimu, kenapa sering merasakan kesedihan." Meli bicara kepada dirinya sendiri.
Ia bingung dengan jalan hidup yang di ambil Clara. Kalau dia tidak bahagia kenapa tidak berpisah. Mungkin, suaminya mencintai dirinya. Tapi keluarga nya tidak pernah menyukai Clara, dan dia masih betah tinggal satu rumah. Meli membayangkan saja sudah merasa ngeri, apalagi Clara yang menjalani nya.
"Mungkin, nanti akan tiba saatnya kau berontak Ca." Meli memandang wajah Clara dengan penuh iba. Sahabat yang begitu di sayang selama hampir tujuh tahun selalu menerima perlakuan buruk dari keluarga suaminya. Mungkin, kalau Meli jadi dirinya Ia sudah lama minta pisah.
Clara membuka pelan kedua mata indahnya. Ia tidak tahu sudah berapa lama tertidur. "Ini jam berapa? aku tertidur terlalu lama rupanya." Ia bergumam sendiri.
Ia mengambil ponsel miliknya yang terletak di nakas samping tempat tidur. Ada banyak panggilan dan beberapa pesan dari suaminya. Ia membuang napas kasar. "Aku ketiduran sampai lupa mengabari Mas Dimas. Sudah malam sekali rupanya."
Clara mengirim pesan kepada Dimas.
__ADS_1
Maaf, Mas aku lupa mengabari mu! Tadi ketiduran setelah sampai di hotel. Aku lelah sekali.
Ia beberapa saat menunggu pesan dari Dimas. Tapi tidak kunjung ada balasan dari suaminya. Ia meletakkan kembali ponselnya di nakas yang terletak di samping tempat tidur. Clara kembali merebahkan tubuhnya, dan setelah beberapa saat Ia kembali tertidur.
***
"Kau tadi malam pulang jam berapa Mel?" Tanya Clara kepada Meli saat mereka sudah sampai di kantor.
"Sekitar jam sembilan. Kau ini tidur sampai tidak dengar aku panggil. Apa kau sangat lelah?"
"Iya, mel. Perutku masih mual dan kepala pusing. Inginnya tiduran di atas kasur Mel."
"Kau pasti hamil Clara."
"Entahlah, nanti aku akan beli test pack untuk memastikan aku hamil atau tidak ya?"
"Iya, nanti kita beli bersama di apotek dekat hotel."
"Makasih sayang ku." Clara merangkul Meli sambil terus berjalan menuju ruangannya.
"Pagi." Jawab Rendra tanpa menoleh ke arah Clara dan Meli. Ia berjalan dengan cepat menuju ruangan Pak Ahmad. Ia akan membicarakan kerja sama antara perusahaannya dan perusahaan tempat Clara bekerja.
Clara merasa heran akan sikap acuh yang Rendra tunjukkan. Apakah Rendra marah? Itulah yang ada di pikirannya saat ini. Bukankah kemarin mereka sudah sepakat untuk berdamai dengan masa lalu. Clara tidak ingin ambil pusing, Ia segera berjalan menuju ruangan Pak Ahmad.
"Kau ada masalah apa dengan Pak Rendra? Sikapnya berbanding terbalik dengan kemarin." Meli merasa ada yang tidak beres antara sahabatnya tersebut.
"Entahlah, aku merasa tidak ada masalah. Sudahlah, tidak usah di pikir."
Saat sampai di ruangan pun, Rendra masih seperti orang asing untuk Clara. Ia sedikitpun tidak melirik Clara. Dia sibuk berbicara dengan Pak Ahmad membicarakan kelanjutan kerjasama antar perusahaan.
Setelah hampir dua jam mereka rapat. Rendra segera pamit kepada Pak Ahmad untuk meninggalkan ruangan tersebut. Clara yang melihat sikap Rendra yang seperti itu tiba-tiba hatinya berdenyut nyeri. Ternyata tidak semudah itu berdamai dengan masa lalu.
"Kurasa Pak Rendra sedang ada masalah Clara." Ucap kepada sahabatnya. Karena suara Meli yang sedikit keras, nyaris semua orang di ruangan tersebut mendengar nya.
__ADS_1
"Hust... kau ini. Nanti kalau yang lain dengar gimana?" Clara menepuk pelan kening nya. Meli memang tidak peka dalam situasi.
"Maaf." Meli langsung menundukkan kepalanya.
"Sudah ngga apa-apa. Ayo kita pergi?"
"Kemana?"
"Ke bagian produksi." Clara berdiri dari tempat duduknya.
Saat berjalan menuju ke bagian produksi Clara melihat ada seorang cleaning servis sedang mencuci meja berbahan partikel. Clara spontan menghentikan langkahnya. "Maaf, Mas ini mejanya kenapa sampai di cuci?" Tanya Clara kepada cleaning servis tersebut.
"Ini kotor mbak."
"Kau bisa membersihkan saja di bagian yang kotor saja Mas. Karena kalau ini kena air lalu kau jemur, maka akan mudah rusak. Lapisan luarnya juga bisa mengelupas." Jelas Clara.
"Maaf mbak, Saya cleaning servis baru. Jadi tidak tahu akan hal ini."
"Kalau bahan kayu jati atau jenis kayu lainnya. Tidak apa-apa kau cuci."
"Baik, terima kasih penjelasan nya Mbak? Saya tidak tahu akan hal itu Mbak."
"Sama-sama Mas." Clara berjalan meninggalkan cleaning servis tersebut. Ia dan Meli berjalan bernama di temani Riza yang juga akan mengantar mereka menuju tempat produksi.
"Mbak Clara sepertinya tahu banyak hal ya?" Ucap Riza sambil mengagumi Clara.
"Tidak, Mas. Memang Aku tahu saja karena dulu pernah melakukan hal tersebut dengan barang ku di rumah." Clara berucap sambil tertawa. Ia mengingat meja belajarnya yang memang sudah lama dan kotor di cuci dengan air di jemur lalu tidak lama kemudian lapisannya mengelupas dan rusak.
Dari jauh Rendra memperhatikan interaksi Clara dengan cleaning servis tersebut. "Maafkan aku Ca? Sungguh aku tidak bermaksud mendiamkan mu. Tapi inilah caraku agar aku melupakanmu." Rendra berucap lemah pada dirinya sendiri. Karena selama dua jam tadi, Ia menahan sesak di dadanya. Bagaimana mungkin Ia membenci Clara hanya karena tidak bisa bersamanya. Ia hanya menahan rasa, rasa cinta yang sulit hilang. Kalau Ia masih berhubungan dengan Clara, walaupun hanya sebagai teman Rendra tidak akan bisa membendung perasaannya. Mungkin menghindari Clara adalah jalan terbaik. Itulah yang di pikirkan Rendra saat ini.
Catatan author :
Bahan partikel adalah serbuk kayu yang di pres. Ini di jadikan bahan untuk lemari, meja dan sebagainya. Bahan ini pada dasarnya awet untuk di gunakan sebagai perabot rumah. Model nya juga beragam dengan harga lebih terjangkau dari pada bahan kayu jati. Tapi, untuk perawatan nya, cukup di lap pakai kain basah atau kanebo. Kalau di cuci dengan air lalu di jemur, air akan masuk ke pori-pori partikel tersebut jadi akan cepat rusak. Nah, sayang kan kalau perabot nya cepat rusak. Niat hati mau membersihkan tapi nanti malah ujung-ujungnya ganti baru kan sayang guys.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya...
Terimakasih 🙏🙏