
Clara sudah sampai di tempat dimana dulu ia kos. Dan beruntungnya ada kamar yang kosong. Ia segera merebahkan badannya di atas kasur berukuran 120x200 ukuran singgel yang cukup untuk satu orang. Ia pejamkan matanya sambil menarik napas dalam-dalam. Setelah hari ini hidupnya akan berubah. Tidak ada sedikitpun rasa sesak di hatinya. Ya, mungkin ini adalah pilihan terbaik. Buat apa bersama kalau hanya merasakan luka setiap hari. Soal anak yang ia kandung, Clara yakin ia bisa membesarkan anaknya sendiri.
***
Dimas membuang semua benda yang ada dalam jangkauan nya. Kamar nya sudah berantakan. Amarah sedang menguasai jiwanya. Setelah puas membuang berbagai benda di kamarnya ia terduduk sambil menangis. Ternyata istrinya benar-benar pergi meninggalkan dia. Clara sudah berubah dari beberapa bulan lalu, wanita yang biasanya banyak cerita kala mereka akan tidur bersama sudah tidak ada lagi. Clara yang akan selalu mengirim pesan kepadanya setiap hari sudah tidak pernah lagi. Clara yang dulu cerewet tiba-tiba berubah. Clara bungkam, tidak ada lagi nada manja dari istrinya. Tidak ada lagi pelukan hangat untuknya. Tidak ada lagi Clara yang ceria selama hampir empat bulan. Semua karena dirinya, ia tidak memperlakukan istrinya selayaknya seorang istri. Ia sering bicara kasar dan yang lebih tidak bisa Clara terima adalah ia sudah mengangkat tangannya dan melukai istrinya. Bukan hanya mental Clara yang terluka, tapi fisiknya juga.
__ADS_1
Pandangan mata nya tertuju pada obat yang ada di meja. Rasa penasaran dengan obat apa yang ada di meja tersebut karena istri nya setiap pagi meminum obat tersebut. Ia mengambil obat tersebut, ia baca lalu Dimas mencari informasi obat tersebut di Internet. Setelah beberapa menit ia membaca informasi dari internet, Dimas menangis. Ia menjadi pria paling bodoh di dunia dan menjadi suami paling kejam. Ia tidak tahu istrinya sedang hamil.
Karena memang selama hampir empat bulan mereka tidak ada sentuhan fisik apapun. Kalau Dimas dalam suasana hati yang tidak baik, Clara lah yang selama ini mencairkan suasana. Wanita tersebut suka bermanja dan mengajak bicara sang suami. Tapi kemarin semua berubah, Clara tidak seperti dulu Lagi. Dan semua itu kesalahan Dimas.
Dimas mengambil benda pipih yang ada di saku celananya. Ia mencari kontak telepon bertuliskan nama Clara. Kontak istrinya saja di simpan dengan nama Clara.
__ADS_1
[ "Halo Clara, kau dimana sekarang? Maaf aku tidak tahu kalau kau hamil. Ayo pulanglah!"]
["Tidak mas disitu bukan rumahku. Aku tetap pada keputusan ku. Setelah aku melahirkan kita akan bercerai."]
Panggilan telepon di putus sepihak oleh Clara. Keputusan nya sudah bulat, ia tidak akan goyah. Anak tidak bisa dijadikan alasan untuk mempertahankan suatu hubungan. Kalau orang tua nya tidak harmonis anak juga yang akan kena imbasnya. Lebih baik membesarkan anak sendiri. Dengan segala kemampuan dan tekad yang kuat. Banyak di luar sana yang menjadi orang tua tunggal tapi mereka baik-baik saja. Dan Clara juga yakin dengan dirinya dan dia pasti bisa.
__ADS_1
Dimas semakin menyesali tindakan bodohnya. Ia melepaskan wanita yang begitu mencintai dirinya. Ia tidak menjaga cintanya ia tidak memberi sayang, malah justru ia beri cacian dan makian. Hati siapa yang tidak runtuh kalau tidak ada kata cinta dan sayang yang terucap dari pasangan nya. Kosong hampa suatu hubungan lalu menjadikan nya mati rasa. Sekarang ia berubah pun semua sia-sia karena Clara sudah pergi membawa sejuta luka dengan hati yang sudah tidak berbentuk lagi serta sayapnya patah.