
Mulut Clara tertutup rapat. Ia malas dan lelah meladeni ucapan Dimas yang menurutnya tidak penting. Kecewa, satu kata yang selalu Clara rasakan. Lagi dah lagi akan terulang setiap saat.
"Udah selesai ngomongnya? Aku mau tidur. Kau bisa keluar," usir Clara sambil tangan kanannya menunjuk ke arah pintu.
Dimas tidak mendengarkan perintah Clara. Ia malah duduk di atas sofa bed panjang warna hitam berbahan oscar. Ia tahu karena Clara melakukan ini pasti hanya gertakan saja.
" Tidurlah! Aku akan menunggumu disini," ucapnya setelah mendudukkan tubuhnya di sofa bed.
Clara merebahkan tubuhnya. Ia tarik selimut menutup seluruh badannya. Tangan kanannya mencengkram erat seprei putih polos tempat nya tertidur. Perlahan tangisnya pecah, tapi ini tanpa suara. Hanya tubuhnya yang terguncang hebat. Rasanya Clara sudah habis kesabarannya. Kalau saja dirinya tidak hamil pasti ia akan segera melayangkan gugatan cerai kepada Dimas.
Rendra berdiri dari duduknya ia merasa penasaran apa yang sedang di bicarakan sepasang suami istri itu di dalam. Ia takut Dimas berbuat nekat kepada Clara. Ia lihat tubuh Clara sudah tertutup sebagian oleh selimut.
Rendra berjalan masuk lebih mendekat ke arah wanita yang ia cintai. Sekilas ia melirik ke arah Dimas yang sedang memejamkan mata di sofa bed. Tangan Rendra terkepal erat. Rasanya ingin sekali ia memberikan pukulan bertubi-tubi kepada Dimas.
"Ca! Kau ngga apa-apa?" tangan Rendra terulur memegang pundak Clara.
__ADS_1
"Pulanglah Ren! Aku baik-baik saja," nada suaranya sedikit sumbang karena menangis, wanita yang ada di balik selimut tersebut dalam kondisi yang tidak baik.
"Aku akan menunggu diluar saja. Kau istirahat lah!"
"Ada suamiku Ren, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Suami? Apakah dia yang kau sebut suami?" Rendra menunjuk Dimas yang sedang duduk sambil memejamkan mata,"
" Pulanglah, Ren!" pinta Clara.
"Sial," ucap Rendra dengan tangan kanan memukul stir kemudi.
Melihat orang yang di cintai nya sakit dan dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa karena status. Iya, status Clara yang masih menjadi istri Dimas. Pria yang tidak punya hati menurut Rendra.
Meli dan Riza berjalan pelan sambil sesekali bercanda. Keduanya sudah mulai akrab setelah tadi dari taman. Meli menumpahkan rasa sedih nya kepada Riza. Ternyata Riza adalah seorang pria yang baik. Mungkin, setelah ini pikiran Meli tentang pria akan berubah. Tidak semua pria sama. Dan Meli akan mulai membuka diri untuk menjalan hubungan dengan pria. Jangan melihat segala sesuatu dari satu sisi. Tidak semua nya buruk, satu pernah menyakitimu belum tentu yang lainnya akan melakukan hal yang sama bukan? Trauma? Satu kata yang begitu membekas di hati pemilik kata tersebut. Tapi, yakinlah semua akan baik-baik saja kalau kau punya keyakinan dalam dirimu. Dan waktu akan menyembuhkannya.
__ADS_1
Meli hanya perlu waktu kemarin. Dan sekarang sudah waktunya ia membuka hati. Bukankah semua wanita baik dan cantik di mata pria yang tepat? Begitupun Meli. Dia cantik dan berharga dan dia layak mendapatkan kebahagiaan.
Mulut Meli terkunci rapat. Ia melihat Dimas sedang duduk sambil memejamkan mata. Lalai pandangannya terarah kepada Clara yang tidur menghadap jendela. Meli tahu, sepertinya Clara hanya pura-pura tidur saja.
"Mas Dimas ngapain kesini?" Meli berucap dengan nada tinggi. Rasanya emosinya tiba-tiba naik kembali. Ia melihat pria yang membuat sahabatnya menjadi seperti ini.
"Kenapa kalau aku disini, Mel?" jawab Dimas dengan entengnya.
"Apakah kau pantas berada disini mas? Kau ini sadar atau tidak dengan apa yang telah kau lakukan, ha?" Meli berteriak sekencang mungkin. Rasanya kesabarannya sudah habis. Ia tidak bisa memendam amarahnya. Ia bukan Clara yang hanya bisa diam dan menangis. Lalu menganggap semuanya baik-baik saja.
Terima kasih telah menyempatkan diri membaca karyaku 🙏
Jangan lupa like dan komen ya
Sayang kalian 🙏❤️
__ADS_1