
Rumah yang selalu menjadi tempat Clara untuk pulang tidak pernah memberikan rasa nyaman. Saat semua orang lelah bekerja seharian di luar, pulang ke rumah istirahat adalah yang selalu diinginkan semua orang. Tapi, tidak untuk Clara. Ia selalu takut pulang ke rumah merasa asing dan tidak di anggap. Dan kini wanita bertanya kepada Tuhan, rumah mana yang nyaman untuknya? Siapa yang akan memperlakukan ia dengan baik? Dia selalu memberi tapi, tidak pernah menerima.
Dimas mengetuk pintu berkali-kali. Tapi tidak ada sautan dari balik pintu tersebut.
"Clara, buka pintunya!" sambil terus mengetuk Dimas berusaha untuk masuk ke dalam kamar.
Clara yang menangis di balik pintu hanya diam sambil menenggelamkan kepalanya di atas lutut. Mau berpisah dari Dimas tapi ia sedang hamil. Bagaimana nanti anaknya. Apakah Clara harus menekan egonya lagi dan lagi untuk kebaikan bersama. Ia harus memaafkan semuanya dan harus berdamai lagi dengan situasi yang selalu membuatnya sakit.
"Tuhan, adakah tempat yang nyaman untukku? Rumah yang sederhana tapi banyak cinta di dalamnya. Adakah hati yang menerima tanpa syarat apapun? Adakah yang seperti itu di dunia ini. Aku hanya punya cinta dan sayang yang sederhana, aku tidak pernah mendua, aku juga selalu berjuang untuknya aku menerima semua yang ada pada dirinya dan aku sudah menyerahkan semua kasih sayang ku yang tulus untuknya. Lalu, aku harus memberi apa lagi supaya aku terlihat di mata mereka," ucap Clara lirih. Di sela tangisnya sambil tangannya menghapus cairan bening yang terus keluar dari sudut mata indahnya.
Tangis pilu yang menyayat hati siapapun kalau melihatnya. Wanita yang ceria, selalu memberikan kebahagiaan untuk orang sekitarnya dan dia sendiri lupa memikirkan kebahagiaan untuk dirinya. Karena hanya sibuk memberi tidak pernah menerima. Ia lelah, dan ingin menyerah.
__ADS_1
"Kenapa, Mas?" tanya Ardi yang melintas di depan kamar Dimas. Ia penasaran melihat kakaknya yang mengetuk pintu berkali-kali tapi tidak juga di buka kan kakak iparnya.
"Entahlah, Clara di dalam sedang apa. Dia belum membuka pintu dari tadi."
" Mungkin, mbak Clara sedang di kamar mandi. Tunggu saja sebentar lagi," Ardi berucap sambil pergi meninggalkan kakaknya masuk ke kamarnya sendiri.
Dimas yang dari tadi sudah menunggu di depan kamar akhirnya menyerah. Ia kembali turun ke bawah. Rasanya percuma menunggu pintu di buka istrinya. Dimas tahu betul, istrinya sedang marah. Dan dia sudah hafal pasti hanya sebentar saja Clara seperti ini. Dan istrinya akan memaafkan dirinya lagi.
"Kenapa kau turun lagi?" tanya Mama Dimas.
"Biarkan saja dia, pasti nanti juga sebentar lagi hilang marahnya. Istrimu itu keterlaluan sekali datang langsung masuk kamar dan tidak memperdulikan suaminya."
__ADS_1
"Dia kemarin di rawat di rumah sakit ma. Dia masih butuh istirahat," jelas Dimas kepada sang Mama.
"Kenapa?" tanya Mama Dimas penasaran. Ia segera berdiri dan mendekat ke arah Dimas.
"Ngga apa-apa, Ma. Hanya tidak enak badan saja," jawab Dimas dengan cuek.
Dimas mendudukkan tubuhnya di sebelah sang Papa. Ia sedikit pusing, istrinya sedang marah dan tidak biasanya Clara mendiamkan dia seperti ini.
"Lebih peka lah, sebagai suami. Kau terlalu sering mengabaikan istrimu. Lebih perhatian lah kepadanya. Genggam erat apa yang sudah kau punya, jaga dia dan lindungilah dia dengan sepenuh hati dan jiwamu. Karena apa yang kita genggam bisa saja sewaktu-waktu lepas dari tangan kita," ucap Papa Dimas tiba-tiba. Ia tahu anak dan menantunya sedang bertengkar. Memberi kan sedikit saran untuk anak laki-lakinya agar rumah tangga anaknya lebih harmonis.
" Aku dan Clara baik-baik saja. Dia juga tidak akan meninggalkan kan aku begitu saja, Pa."
__ADS_1
" Papa hanya menasehati mu. Semua tergantung kau dan Clara yang menjalin hubungan," Papa Dimas segera berdiri dan meninggalkan anak sulungnya tersebut. Rasanya percuma menasehati sang putra. Selalu menganggap remeh semua hal.
Cinta dan sayang itu bisa hilang. Bagaimana mungkin rasa itu masih ada kalau setiap hari selalu di abaikan, kadang ada makian. Sebaik apapun manusia akan ada sisi tidak terima dan ia akan berontak pada waktunya kalau perlakuan tidak baik selalu ia dapatkan setiap hari.