
"Bukankah, aku selalu terlihat baik-baik saja di matamu? Saat hatiku sakit, saat aku kecewa atau marah pun, bukankah kau selalu menganggap aku baik-baik saja?" ucapnya sambil tersenyum sinis ke arah Dimas.
"Bukan begitu maksudku Clara."
" Iya... iya... Bukan maksudmu seperti itu. Kau selalu menutup mata dengan semua hal yang terjadi padaku. Kau tidak mau tahu, kau selalu berpikir aku dalam keadaan baik. Kau selalu hanyut dengan pikiran bodoh mu itu. Kau bahkan tidak tahu, betapa aku terluka terlalu dalam selama ini," Clara berucap sambil mencengkram erat seprai.
Rendra terkejut dengan apa yang di ucapkan Clara. Ia berjalan perlahan meninggalkan ruangan tersebut. Rendra cukup tahu diri, ia tidak ingin melihat pertengkaran sepasang suami istri tersebut.
Bangku panjang berbahan besi menjadi tempat duduk Rendra saat ini. Tidak habis pikir dengan pemikiran Dimas. Kenapa bisa ada suami seperti itu. Kalau harusnya sudah tidak ada cinta bukankah lebih baik berpisah saja. Dan Clara dia juga sangat bodoh, bertahan dengan kehidupan rumah tangga yang seperti itu. Rendra berkali-kali menghela napas panjang.
"Diabaikan terus dan terus, tapi masih saja bertahan. Bukankah kalau seperti itu sudah tidak ada rasa sayang dan cinta dari suaminya. Dan kenapa masih bertahan," sambil memegang kepala Rendra berucap dengan pelan.
__ADS_1
Dimas memegang tangan Clara. Ia berkata "Aku tidak tahu, karena kau tidak pernah bilang,"
"Aku tidak pernah bilang Mas? Aku selalu mengutarakan isi hatiku. Aku selalu ingin pindah, aku selalu bilang apa yang aku mau. Aku selalu menyampaikan nya padamu. Kau terlalu tidak peduli kepadaku jadi kau lupa aku selalu menyampaikan nya padamu. Kau yang selalu sibuk dengan pikiran bodoh mu itu. Apa kau pernah menanyakan aku sudah makan atau belum saat aku di luar sedang bekerja? Apa kau pernah tanya aku ada masalah atau tidak di tempat kerja? Apa kau tidak khawatir saat istrimu pulang terlambat? Biasa kah kau khawatir padaku walaupun sehari saja?" Clara menunduk, air mata yang susah payah ia tahan akhirnya keluar juga.
" Clara! Jangan seperti ini. Baiklah sekarang apa mau mu?" nada Dimas naik satu oktaf sambil melepas tangan Clara.
" Kau masih tanya mau ku apa? Masih tanya aku mau apa? Bahkan, satu kata maaf saja tidak keluar dari mulutmu mas. Kau tidak merasa bersalah dengan apa yang kau lakukan padaku? Kau terlalu mengabaikan aku."
"Mengabaikan bagaimana? Aku tadi hanya emosi sesaat."
Hati siapa yang bisa tahan di perlakuan seperti itu. Clara sudah di titik terendah sakit. Bertahan menggenggam bara api. Selalu terlihat baik-baik saja, padahal hatinya sudah lama menahan luka. Diabaikan, di hina, tidak dihargai. Semua sudah ia rasakan dalam waktu yang lama.
__ADS_1
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Dimas dengan nada tinggi.
" Pikirkan saja sendiri. Kau punya otak untuk berpikir Mas. Pikirkan ucapan ku?"
"Kau mau pergi meninggalkan aku?" tanya Dimas.
Catatan author : Yuhu.. akhirnya hari ini nulis 2 chapter aku terhura... eh.. terharu maksudnya 🤭
Aduh, Dimas bikin aku agak gregetan. Sabar Clara. Hanya itu yang bisa aku ucapkan padamu Clara 🤭
Tebak-tebak tidak berhadiah yuk... nanti Clara ninggalin Dimas atau ngga ya?
__ADS_1
Like dan komen ya sayang
Terimakasih 🙏❤️