
"Sayang! Kau ini kenapa? Siapa laki-laki tadi? Apakah dia alasan kau ke Surabaya. Kau selingkuh Clara?" tanya Dimas tiba-tiba dengan nada tinggi.
Clara kaget akan apa yang diucapkan Dimas. Selingkuh, apa ia tidak salah dengar. Yang benar saja, kemarin dengan adik iparnya dan sekarang dengan Rendra. Inilah sifat Dimas yang tidak Clara suka. Selalu menuduh tanpa memastikan dulu apa yang sebenarnya terjadi.
Rendra adalah orang dari masa lalu Clara. Dulu pernah menjalin hubungan yang lebih dari teman. Tapi, Clara bahkan sekalipun tidak pernah bertukar kabar. Bertemu saja baru di Surabaya. Kenapa Dimas tega menuduh Clara seperti itu.
"Jawab Clara, kau selingkuh dengan laki-laki tadi?" bentak Dimas.
Clara memejamkan mata. Hatinya nyeri, jantung nya berdebar semakin kencang. Rasa takut dan malu menjadi satu dalam diri wanita tersebut. Ia di bentak di tempat umum. Sungguh harga diri Clara terluka. Ingin rasanya ia lari ke tempat yang jauh dan tidak terjangkau oleh siapapun.
"Rendra bukan selingkuhan ku mas," jawab Clara lirih. Dengan nada yang bergetar dan cairan bening lolos dari sudut matanya yang indah.
"Lalu kenapa kau menghindar seperti itu? Tidak mungkin kalau tidak ada hubungan kau menghindar."
Clara pergi menjauh dari kerumunan. Ia berlari sekuat tenaga menghindari amukan Dimas. Kata-kata suaminya sungguh keterlaluan sekali. Ia tidak memikirkan perasaan Clara.
" Clara... ahh.... sial, mau kemana kau?" teriak Dimas semakin kencang.
__ADS_1
Dimas segera mengejar Clara. Pandangannya menyapu ke segala arah. Ia mencari Clara yang sudah jauh dari pandangannya. Tapi tidak juga menemukan Clara.
"Tadi Clara kemana ya?" tanya Meli kepada Riza.
Mereka tadi berpencar dari Clara dan Dimas. Jadi, tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini dengan Clara.
"Ayo, kita cari mbak?" ajak Riza.
"Okay," jawab Meli. Ia segera berjalan dengan pandangan melihat ke segala arah untuk mencari keberadaan Clara dan Dimas.
"Eh, mbak Meli itu mbak Clara," ucap Riza tiba-tiba. Saat ia tidak sengaja melihat Clara ingin menyebrang jalan.
"Iya, dia mau kemana ya? Kok kelihatan buru-buru gitu."
"Itu mas Dimas kenapa lari mbak?" tanya Riza lagi. Ia merasa heran saat melihat Dimas yang berlari menuju ke arah Clara dengan tergesa-gesa.
"Aku nggak tahu lah, kau ini malah tanya sama aku."
__ADS_1
Clara terus berlari sambil mengusap air mata nya dengan kasar. Ia tidak menyangka suaminya akan menuduh dirinya selingkuh. Apakah dirinya seburuk itu di mata suaminya? Bukankah Dimas yang paling mengerti dia.
Braakkkkk...
Sebuah mobil sedan berwarna putih menabrak sebuah truck. Mobil sedan terpental dan menabrak pembatas jalan.
"Awas Clara?" teriak seorang pria.
Clara tidak mendengarkan apa yang di ucapkan laki-laki tersebut. Saat dirinya berdiri tepat di pinggir jalan sebuah mobil sedan putih tadi menghantam tubuh Clara. Ia hanya diam sambil meneteskan air mata. Pandangannya tiba-tiba gelap.
"Tidak!" ucap Rendra. Iya, laki-laki tadi adalah Rendra. Ia akan pulang bersama sang Mama.
Dengan sekuat tenaga Rendra berlari ke arah Clara. Ia mendekat tubuh wanita yang sudah ia cintai dari lama.
"Bangun, Ca! Kau jangan buat aku takut Ca. Aku akan pergi dari hidupmu selamanya asal kau bangun Ca," ucap Rendra dengan keras sambil mendekap tubuh Clara.
"Siapapun tolong panggilan ambulans sekarang, tolong?" pinta Rendra kepada orang-orang yang sudah mulai berkerumun ke arahnya.
__ADS_1