
Hari berganti bulan dan tahun Clara lewati. Membesarkan dua buah hati tidak mudah, tapi ia harus kuat dan terus berjuang. Wajah tampan yang teduh menghangatkan hati Clara. Rasa lelah seolah sirna karena ia lihat kedua putranya tumbuh dengan sehat dan ceria. Ia cium dengan gelas wajah kedua putranya yang lucu saat sedang terlelap.
Waktu mengubah segalanya. Perasaan Clara sifat dan sikapnya juga berubah. Ia menjadi lebih dewasa karena harus hidup sendiri dan berjuang membesarkan kedua putranya.
Daffa dan Daffi kini berusia tiga tahun. Clara akan kualahan saat kedua putranya menanyakan berbagai hal padanya. Dimas selalu ada untuk Daffa dan Daffi tapi bukankah semua sudah terasa berbeda. Waktu nya tidak akan banyak seperti saat Dimas masih menjadi suami Clara. Ada mantan suami tapi tidak ada mantan Papa bukan? Masih baik dan ikut merawat kedua buah hatinya.
Beberapa hari lagi mereka akan ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan Rendra. Akhirnya pria yang mencintai Clara dalam waktu yang lama itu menyerah dan membuka hatinya untuk wanita lain.
"Akhirnya kau menemukan cinta lain Ren. Aku sudah tidak menyimpan cinta untukmu jadi kau berhak bahagia bersama yang lain," Clara berucap lirih sambil melihat foto di instagram milik Rendra.
***
"Kau tidak lelah mbak? Pasti repot sekali ya?" tanya Tari.
"Aku bohong kalau bilang tidak lelah. Seharian bekerja malam bergadang sendiri. Tentu saja aku sangat lelah. Tapi semua itu terbayarkan dengan aku melihat tumbuh kembang kedua putraku. Senyum nya yang selalu meneduhkan hati. Ku cium mereka saat sedang terlelap. Rasanya itu semua sudah jadi semangat untukku dan semua lelahku hilang seketika."
Tari hanya menganggukkan kepala.
"Kau akan mengerti setelah kau nanti menjadi seorang Ibu." Lanjut Clara.
Tari menoleh ke arah Clara. Rasa kagumnya terhadap Clara semakin bertambah. Inilah yang membuat suaminya begitu lama menyimpan cinta untuk wanita yang ada di sampingnya tersebut. Selalu tegar dalam kondisi apapun padahal hati sudah robek tidak berbentuk lagi. Terlalu pintar menutup luka. Selalu ceria di depan semua orang padahal itu hanyalah cara ia menutup semua luka dan beban. Kaki dan pundaknya selalu di paksakan untuk kuat.
Langkah kaki mengayun indah berjalan ke arah Clara. Mereka berlomba untuk lebih dulu sampai ke pelukan sang Mama. Daffa dan Daffi sudah lelah bermain dengan Rendra. Beberapa kali ia menguap, keduanya sudah mengantuk.
"Aku dulu."
"Ngga mau, aku yang sampai lebih dulu. Kau kan kakak jadi, mengalah lah! pinta Daffi kepada saudara kembarnya Daffa.
"Tidak ada yang boleh bertengkar. Kalian kan saudara jadi harus saling menyayangi," Clara memegang kedua pundak putranya.
Keduanya kompak menganggukkan kepala. Tanda mengerti akan nasehat sang Mama.
"Ayo, kita ke kamar! Ini sudah waktunya tidur. Bukan kah kalian sudah mengantuk?"
"Iya, ayo Ma!" pinta Daffa.
Clara segera menggandeng kedua putranya untuk ke kamar. Sesaat setelah ia pamit kepada Rendra dan Tari.
"Aku salut dengan mbak Clara." Tari yang berada di depan Rendra tiba-tiba bilang akan kekagumannya kepada Clara. Padahal selama ini Tari lebih terlihat cemburu karena mengingat betapa Rendra mencintai Clara.
__ADS_1
"Kenapa kau tiba-tiba bicara begitu sayang?" tanya Rendra.
"Aku melihat sendiri bagaimana Mbak Clara merawat kedua buah hatinya dan ia selalu menutup luka sendiri."
"Dia memang seperti itu. Tapi, percayalah hidupnya kini lebih baik dan dia sudah bahagia dengan caranya sendiri."
"Iya, apapun itu pasti akan bisa ia lewati."
" Dia wanita yang kuat."
Tamu undangan sudah mulai sepi. Tinggal beberapa saja dari pihak keluarga mempelai.
"Kau lelah?" tanya Rendra.
"Iya."
"Ayo kita ke kamar," ajak Rendra.
***
Di sebuah kamar hotel dengan ranjang berukuran king size yang di atasnya diberi taburan bunga mawar merah. Kamar pengantin untuk Rendra dan Tari.
Tari segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
" Ah, ini kenapa susah sekali di buka," Tari mengeluh kesusahan membuka gaun yang ia kenakan. Karena resleting bagian belakang gaun tidak bisa ia jangkau.
"Mas Rendra, bisa aku minta tolong sebentar!" Tari sedikit berteriak memanggil Rendra.
Tanpa menjawab Rendra segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Kenapa?"
"Tolong buka kan ini."
"Iya," dengan gerakan pelan Rendra menurunkan resleting gaun yang dikenakan Tari. Berkali-kali ia menelan saliva. Semakin turun Rendra semakin merasakan hawa panas yang melingkupi tubuhnya. Tanpa sadar tangan nya menyentuh punggung putih Tari. Ia mencium dengan lembut punggung polos tersebut.
Tari terkejut dan ia hanya bisa diam sambil tangan meremas gaun miliknya.
Dengan cepat Rendra membaik tubuh Tari. Ia mencium kening bibir lalu perlahan turun ke leher. Tari hanya bisa memejamkan mata sambil menikmati setiap sentuhan dari sang suami.
__ADS_1
"Kita mandi bareng saja." Suara Rendra sedikit tertahan. Saat ini ia sedang berada di puncak gairah. Tari hanya menganggukkan kepala. Dengan cepat Rendra menanggalkan pakaiannya. Ia kembali mencium bibir Tari. Di bawah shower mereka saling mengadu rasa ciuman Rendra semakin ganas dan menuntut lebih.
"Ayo, kita lanjutkan di ranjang!" Rendra segera mengambil handuk ia keringanan tubuh Tari lalu bergantian mengeringkan tubuhnya sendiri. Ia gendong sang istri ala bridal style menuju ke ranjang. Dengan pelan ia turunkan sang istri lalu ia benamkan kembali ciuman dibibir istrinya kali ini lebih menuntut. Ia absen setiap inci tubuh sang istri.
" Mas aku ingin bertanya sesuatu."
" Apa itu?"
"Kau masih mencintai mbak Clara? Kau mencintaiku?"
Rendra menghentikan gerakannya. Ia menatap lekat wajah sang istri yang berada di bawah dirinya.
"Aku mencintaimu dan Clara."
Tari spontan mendorong tubuh Rendra. Ia tidak terima akan jawaban Rendra. Ia merasa di permainkan oleh Rendra. Dengan cepat Tari mengambil selimut lalu membalut tubuh polosnya. Ia segera berdiri tapi, dengan cepat Rendra menahannya sehingga wanita tersebut duduk di pangkuan Rendra.
"Lapas kan aku!" pinta Tari sambil terus berontak ingin lepas dari pelukan Rendra.
"Aku mencintai kalian di waktu yang berbeda. Dulu ia aku cinta Clara. Tapi, sekarang ada dirimu. Wanita pilihanku untuk sekarang dan masa yang akan datang. Dan sekarang aku mencintaimu tidak ada Clara di hatiku dan dia hanya masa lalu. Dan kau masa depanku."
Tari akhirnya diam dengan apa yang di jelaskan Rendra. Ia menyesal karena telah ragu kepada suaminya.
" Maafkan aku."
" Kau ngga salah sayang. Kau berhak bertanya apapun itu dan aku akan menjawab dengan senang hati."
Rendra kembali mencium bibir istrinya dengan lembut tangan kanan nya mengabsen setiap inci tubuh sang istri. Setelah beberapa saat pergumulan mereka selesai Tari masih menyadarkan kepalanya di dada bidang Rendra yang sedikit basah oleh keringat.
"Sayang, makasih," Rendra berucap sambil mengecup kening sang istri.
***
Di kamar yang berbeda seorang wanita sedang berdiri memandang suasana kota Surabaya di malam hari dari balik jendela. Begitu indah dengan lampu yang menyala dari gedung-gedung dan jalanan. Rasanya malam ini mengingatkan ia akan peristiwa beberapa tahun yang lalu saat ia datang ke Surabaya dan di situlah awal runtuhnya rumah tangga Clara. Semua sudah berlalu dan tidak ada yang bisa mengubah apapun yang terjadi di masa lalu. Cukup di kenang dan jadi pelajaran hidup.
Ada yang datang hanya singgah. Ada yang bertahan namun selalu menyakiti. Ada yang saling mencintai sampai akhir. Karena sudah begitu jalan ceritanya. Kuat dan tegar adalah keharusan bagi seorang wanita. Itulah prinsip Clara. Sekarang sendiri hanya boleh mengandalkan diri sendiri untuk mencapai semua harapannya. Ada dua buah hati yang selalu menjadi semangat baginya. Clara bahagia dengan jalan yang ia pilih karena bahagia Clara sendiri yang ciptakan.
Terima kasih telah menyempatkan diri membaca karyaku 🙏
Jangan lupa like dan komen ya 🙏
__ADS_1