With You Again

With You Again
Tidak ada lagi kata mesra.


__ADS_3

Hari dan bulan sudah terlewati. Tidak ada sikap apapun yang Clara ambil dari perbuatan Dimas. Ia hanya diam dan masih berada di tempat yang sama. Tempat yang memberinya rasa takut, tempat yang menjadikan dia terhina. Hanya Clara yang tahu apa sebabnya ia masih bertahan. Anak, kah? Atau dia takut mengambil keputusan?


Pagi ini seperti biasa Clara bangun tidur dan memasak di dapur. Ia selalu membawa bekal ke kantor. Memasak adalah salah satu hobi nya. Masih memberikan perhatian kepada seorang pria yang di sebut suami masih menyiapkan makanan untuk suaminya. Berbagi kamar dan masih tidur di ranjang yang sama, tapi tidak ada lagi sentuhan apapun. Jangankan sentuhan, kata mesra saja sudah tidak pernah terucap dari mulut keduanya. Clara benar-benar di titik paling rendah kesabarannya. Diam seribu bahasa sudah ia lakukan beberapa bulan. Dan di tengah malam ia selalu terbangun dan menangis dalam dalam kegelapan.


Usia kandungan nya sudah hampir empat bulan. Sepertinya buah hati Clara mengerti apa yang di alami sang Mama. Tidak ada mual ataupun muntah seperti kebanyakan wanita hamil lainnya. Clara masih bisa beraktivitas seperti biasanya. Berangkat dan pulang bekerja sendiri, tidak ada kata manja. Hanya wanita yang terlihat kuat di luar tapi hati nya rapuh, dan terkoyak tidak beraturan.


"Kau mau berangkat bekerja?" tanya Dimas sambil melirik sekilas ke arah Clara.


Clara segera mengambil tas dan jaket miliknya. Tanpa menghiraukan ucapan Dimas.


"Clara! Aku bicara padamu. Kau tidak dengar ha!" bentak Dimas.


"Dengar," jawab Clara. Langkahnya terhenti sambil ia memejamkan matanya.


"Sampai kapan kau seperti ini. Kau diam setiap hari. Ini sudah hampir empat bulan Clara. Aku juga sudah minta maaf padamu," ucap Dimas sambil berjalan mendekat ke arah Clara. Dimas masih dengan nada suara yang tinggi.


Menundukkan kepala serta mengepalkan erat kedua tangannya. Clara sedang menutupi rasa takut nya. Sudah ada genangan air di sudut matanya yang indah. Seolah ia tidak mengenal lagi sosok yang ada di hadapannya saat ini. Mana kata cinta yang sering Dimas ucapkan. Perhatian yang dulu sering Dimas berikan. Seolah semua sirna di makan waktu. Bukan kah harusnya saling mencintai sampai akhir. Tapi kenapa sepertinya kisah cintanya dengan Dimas yang akan berakhir.

__ADS_1


"Clara, jawab!" bentak Dimas lebih keras lagi sambil tangan Dimas menggoyangkan bahu Clara.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin bicara dengan mu," Clara menepis tangan Dimas dengan kasar. Ia segera keluar dari kamar.


Selalu menghindar dari masalah tanpa menyelesaikan nya lebih dulu. Lebih memilih menghindar dan menganggap semua baik-baik saja. Dia yang baik dan tidak ingin berkonflik atau dia yang bodoh. Terkadang baik dan bodoh itu beda tipis jaraknya kan?


***


Meli tidak hentinya tersenyum sambil melihat layar ponselnya. Membaca pesan dari seorang pria yang setiap hari memberikan ia perhatian. Hanya perhatian kecil yang kadang memang di butuhkan seorang wanita. Sepertinya hati Meli mulai terbuka.


"Jalannya lihat ke depan, Mel," tegur Clara yang sedang berjalan menuju ruangan mereka.


"Iya, iya Meli sayang yang sedang di mabuk kepayang yang sekarang sudah punya ayang."


"Clara kau jangan mengejekku seperti itu."


"Lah kan emang benar. Kau mau tidak punya ayang seperti Riza?" tanya Clara sambil menoleh ke arah Meli.

__ADS_1


"Mau."


" Baguslah, buka hatimu. Tidak semua pria sama. Jujurlah pada hatimu, jangan gengsi untuk mengakui perasaanmu. Rasakan kehadirannya dan ketulusan nya. Balas ia juga dengan sayang dan cinta yang tulus juga. Karena kau menerima, jadi kau juga harus memberinya yang sama bukan?" jelas Clara.


" Menerima dan memberi? Lalu kau, yang hanya memberi dan tidak menerima. Apa yang harus kau lakukan?" tanya Meli sambil menatap Clara.


Catatan author : Terimakasih telah menyempatkan waktu membaca karyaku 🙏


Ini part yang aku nulis cepat banget ngga ada satu jam 500kata dapat. Entahlah memang feel nya yang dapat atau aku yang lagi niat ya 🤭. Tinggal dikit lagi kelar ini cerita ya guys...


Tebak-tebak tidak berhadiah yuk...


Ntar Clara sama Rendra atau sendiri?


Atau mungkin masih bersama Dimas(Ini aku yakin banyak yang ngga setuju kan 🤭)


Mau sama siapapun nanti yang penting Clara bahagia. Karena di kehidupan Clara ia selalu berpikir tidak ada balasan kebaikan melainkan kebaikan pula, selalu berbuat baik aja. Dan bahagia itu ada dan nyata. Walaupun nanti ia harus sendiri. Aih... spoileerrrr aku 😂

__ADS_1


Sekali lagi big thanks ya kaka² baik yang sudah selalu setia mendukung karyaku. Hanya author receh yang suka tulis menulis mengisi waktu sibuknya 🤭


Aku sayang kalian ❤️🙏


__ADS_2