
Langkah Clara terhenti seketika. Pertanyaan Meli mampu membuatnya bungkam. Bagaimana dengan dirinya yang memberi tapi tidak menerima. Seolah tertampar oleh kata-kata nya sendiri. Cinta yang tulus masihkah ada? Lalu apa yang harus ia lakukan. Menyerah atau bertahan?
"Kau kenapa diam? Tidak bisa menjawab ya. Kau hanya bisa diam tanpa mengambil keputusan."
"Bukan begitu Mel. Ada banyak hal yang harus aku pikirkan."
"Apa yang harus kau pikirkan? Kau ini memikirkan orang lain tapi belum tentu orang lain memikirkan mu kan?" Meli mengguncang sedikit tubuh Clara. Rasanya ia sudah tidak ada cara lagi untuk menasehati sahabatnya.
"Aku tahu apa yang aku lakukan."
"Kau selalu seperti itu, selalu tahu apa yang kau lakukan. Kau menangis sendiri dalam gelapnya malam. Jangankan malam, setiap pagi saja kau menangis. Kau takut untuk pulang, berapa kali kau berpikir ingin mengakhiri hidupmu? Aku hanya mendengar sedikit ceritamu. Tapi, aku bisa melihat dari wajahmu kau tidak baik-baik saja. Kau membuat orang lain tertawa hanya untuk menutupi luka mu saja. Sadarlah, Clara!" suara Meli bergetar di sertai buliran bening yang lolos dari sudut matanya.
" Aku baik-baik saja, Mel. Kau ini kenapa menangis. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku masih disini bertahan artinya masih sanggup melewatinya."
" Aku lebih suka kau hidup sendiri."
__ADS_1
Clara menghela napas panjang. Rasanya sehari pun tidak akan habis perdebatannya dengan Meli. Seandainya semua bisa di lakukan dengan mudah. Banyak hati yang harus ia pikirkan. Banyak hal yang harus di pertimbangkan sebelum mengambil keputusan.
Lelah, sakit dan sekarang ingin menyerah. Adalah alasan terbesar sebagian orang mengakhiri hubungan. Banyak hati yang harus di jaga, banyak pihak yang akan terluka. Itu lah alasan Clara walaupun dirinya lah yang paling menderita. Seperti pahlawan kesiangan. Pikiran bodoh seorang wanita yang selalu mengedepankan perasaannya di bandingkan logika.
"Sudah, ayo kita masuk!" Clara berjalan lebih dulu. Ia malas berdebat dengan Meli.
"Selalu saja seperti itu. Dasar kau payah," teriak Meli.
"Iya, aku payah. Ayo sayangku kita masuk!" Clara menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang sambil tersenyum ke arah Meli.
Di lain tempat seorang pria sedang duduk sambil mem bolak balik dokumen yang ada di meja kerjanya. Pikiran nya tidak fokus, bayangan wanita yang bernama Clara selalu mengusik hatinya. Pesan yang Rendra kirim kepada Clara tidak lagi mendapat balasan dari wanita tersebut. Media sosial yang Clara gunakan pun sudah lama tidak mengunggah foto. Padahal dari sana lah, ia selalu mengobati rindu di hatinya. Hanya melihat foto Clara yang tersenyum sudah cukup untuk Rendra.
"Kau kenapa, Ca? Bahagia kah kau? Apakah kau hidup dengan baik? Apakah aku sendiri yang merasakan sesaknya karena terlalu mencintaimu Clara. Apakah aku tidak bisa merengkuh mu. Aku ingin melewati hari bersama mu, jangan kau balas cintaku cukup kau menerimanya dan rasakan tulus ku," ucap Rendra lirih.
Rasanya sudah tidak ada lagi kata yang bisa pria itu ucapkan untuk wanita yang ia cintai. Apakah sekarang saatnya ia harus menyerah. Mungkin wanita yang ia cintai sudah hidup bahagia. Itulah yang ada di pikiran Rendra. Dan memang waktu tidak mempersatukan mereka. Menyalahkan takdir? Atau memang dirinya yang bodoh karena terpuruk dalam cinta? Semua sudah ada jalan ceritanya dan mereka tinggal mengikuti alurnya saja. Karena tidak semua hal berjalan sesuai keinginan kita.
__ADS_1
"Baiklah, Ca aku harap kau hidup dengan baik dan bahagia. Aku akan melepas perasaan ku padamu. Dan waktu memang tidak berpihak kepada kita."
Aku hanya aku dengan sejuta kisah tak bermakna. Aku tidak punya apa-apa yang bisa aku banggakan aku hanya punya cinta yang sederhana. Tidak terlihat melebihkan apalagi mengurangi rasa cintaku. Tidak dengan kata-kata manis aku mengungkapkan nya. Tapi, aku membuktikan nya dengan tindakan yang nyata.
Tidak bisakah kau merasakannya?
Masih adakah cinta di hatimu walaupun sedikit saja?
Masih kah aku menjadi wanita yang berharga untukmu?
Dengan semua kata dan tindakan mu aku tahu jawabannya. Lama nya waktu bersama dan rasa cinta ku yang tulus tidak cukup untukmu. Rayuan kata manja dari mulut ku tidak cukup lagi menggetarkan hatimu bahkan dengan tindakan nyata pun sudah tidak berarti apa-apa. Kosong dan hampa, hati wanita terkoyak sembilu menjadikannya tidak berbentuk lagi. Dan yang punya hati ingin mati.
#Sebuah rasa
#Sayap yang patah
__ADS_1